Deltras (Bukan) Dari Bali

Deltras (Bukan) Dari Bali
Deltras (Bukan) Dari Bali

Delta Putra Sidoarjo (Deltras) bukan berasal dari Bali. Kesebelasan berjuluk The Lobster itu tidak lahir di Pulau Dewata. Deltras berasal dari Sidoarjo. Bermula dari konflik di tubuh Persebaya Surabaya.

Lho kok. Bukannya Deltras itu hasil dari pembelian Gelora Dewata oleh pemerintah Kabupaten Sidoarjo? Tidak salah. Deltras memang hasil pembelian pemerintah Kabupaten Sidoarjo atas Gelora Dewata yang sebelumnya bertahun-tahun hidup sekaligus begitu identik dengan sepakbola Bali.

Tapi, Gelora Dewata tidak lahir di Bali. Gelora Dewata bermula dari konflik yang membelit Persebaya. Titik awalnya adalah Persebaya yang mengarungi kompetisi Perserikatan musim 1986 yang dikomandani Letkol Laut Soegardjito dan Mislan. Soegardjito duduk sebagai ketua umum, sedang Mislan menjadi manajer.

Di bawah kendali Soegardjito dan Mislan, Persebaya tak berlatih di Surabaya. Hari-hari Persebaya dilalui di Lapangan Suko, Sukodono, Sidoarjo. Lapangan yang hanya selemparan batu dari kediaman Soegardjito. Di sanalah, di Lapangan Suko itu, pemain-pemain Budi Johanis dan kawan-kawan menempa diri.

Persebaya ”pergi” ke Lapangan Suko bukan hanya tahun itu. Tapi, Green Force berlatih di sana sejak Soegardjito memimpin Persebaya mulai awal 1984. Hasilnya pun tak terlalu mengecewakan. Di kompetisi perserikatan musim 1985, Persebaya nangkring di posisi ketiga wilayah timur dan berhak tiket enam besar.

Tapi, musim berikutnya (1986), Persebaya gagal melaju ke enam besar. Kesebelasan kebanggaan masyarakat Surabaya itu harus puas berjuang di babak enam kecil untuk bertarung menghindari degradasi. Persebaya berhasil lolos dari degradasi. Tapi, tidak dengan Soegardjito. Juga Mislan.

Kursi Soegardjito justru semakin kencang digoyang. ”Saat itu muncul kelompok 19,” kata Soepangat, MC legendaris Gelora 10 Nopember, Surabaya, saat kami berbincang pada medio Februari 2015. (4 November 2015 Soepangat berpulang).

BACA JUGA:  Jalan Berliku Piala Dunia Antarklub

Kelompok itu lahir untuk mendongkel Soegardjito dari Persebaya. Bukan semata lantaran prestasi. Bukan pula soal tempat latihan Persebaya yang ada di Sidoarjo. Tapi, konflik tercipta karena Soegardjito merupakan Letkol laut, dari matra laut. Dan di masa orde baru, anak emas pemerintah adalah matra darat. Mereka tak boleh kalah. Di semua lini. Tak terkecuali di sepakbola.

Konflik itu menjadi rentetan dari polemik-polemik di internal Persebaya sebelumnya. Meski memperoleh 22 suara dari 26 suara dalam pemilihan ketua umum pada musyawarah anggota Persebaya pada 18 Desember 1983, tapi Soegardjito tak mendapat dukungan dalam menjalankan kepengurusannya.

Dimulai menarik dirinya Aboe Ramli, ketua klub Surya Putra, anggota kompetisi kelas 1 Persebaya, dari kepengurusan, kemudian polemik Soegardjito dengan Ketua PSAD TB Mochtar Atmadja, lantas disusul polemik pengurus Persebaya dengan pengurus Assyabaab.

Konflik itu akhirnya membuat Soegardjito terpental. Begitu juga Mislan. Soegardjito lalu memilih ”menepi” dari lapangan hijau dan kembali ke barak. Tapi, Mislan tidak. Ayahanda Vigit Waluyo itu memilih untuk tetap dekat sepakbola. ”Beliau sudah terlanjur cinta pada sepakbola,” ungkap Soepangat.

Melihat begitu besar dan meluap-luapnya cinta Mislan kepada sepakbola, Soepangat lantas mengajaknya ngopeni Putra Gelora, kesebelasan di internal Persebaya. Mislan ternyata tak menampik ajakan tersebut.

Dia sepakat ngopeni Putra Gelora. Bahkan, Mislan berniat membawa Putra Gelora berkompetisi di Galatama. Dan dia serius dengan mimpinya itu. ”Kami pun diajak tanding keliling Jawa Timur,” aku Gatot Mulbayadi, salah satu pemain Putra Gelora. Gatot merupakan pelatih yang mengantarkan Blitar United menjadi raja Liga 3 musim 2017.

Dengan mengajak pemainnya tanding keliling Jawa Timur, Mislan berharap para pemainnya sudah matang ketika Putra Gelora harus berkompetisi di Galatama. Di sisi lain, dengan bermain keliling provinsi paling timur di Pulau Jawa itu, Mislan ingin menjajaki kota yang tepat sebagai rumah Putra Gelora. Sebab, Mislan ingin Putra Gelora bermarkas tak jauh dari Surabaya.

BACA JUGA:  Tren Bisnis Sepakbola Indonesia Berubah, PSSI Tidak

”Tapi, ketika itu saya tak sepakat kalau harus main di Surabaya atau sekitarnya. Sebab, di sini sudah ada Persebaya dan Niac Mitra yang sama-sama besar,” ujar Soepangat.

Soepangat lantas mengabarkan gelora Mislan itu ke Ali Mahakam yang ada Bali. Ali Mahakam pun tergoda. Dia lantas mengajak Mislan membawa Putra Gelora ke Pulau Dewata. Alasannya di Bali belum banyak pemainnya. Pemain yang dimaksud Ali Mahakam adalah kontrakan yang mengerjakan proyek di Bali. Latar belakang Mislan memang adalah kontraktor.

Gayung bersambut, Putra Gelora pun boyongan ke Bali pada 1989. Namanya berganti menjadi Putra Gelora Dewata. Musim kompetisi 1990, mereka terjun ke Galatama dengan nama Gelora Dewata dan tampil di Divisi Satu. Semusim kemudian, Galatama 1990-1992, Gelora Dewata berkompetisi di Divisi Utama.

Bertahun-tahun runner up edisi pamungkas Galatama (1993/1994) itu menjalani kehidupan di Bali. Menikmati hiruk-pikuk Stadion Ngurah Rai, Denpasar. Juga menikmati cinta masyarakat Bali.

Sebelum akhirnya di tahun 2001 pemerintah Kabupaten Sidoarjo membawanya pulang ke Kota Delta. Dan saat menginjakkan kaki di Sidoarjo nama Putra yang sempat ditanggalkan digunakan kembali. Gelora Dewata bersalin rupa menjadi Gelora Putra Delta (GPD). Tak lama kemudian namanya berganti menjadi Delta Putra Sidoarjo atau akrab disingkat Deltras.

Sejak 2001 itu pula Deltras kembali ke rumah. Memang tidak lagi pulang ke Lapangan Suko. Tapi, Deltras pulang ke jantung kota dan hati masyarakat Sidoarjo.

Komentar
Penonton bola biasa.