Elegansi PS Sleman dalam Menjawab Keraguan dan Sinisme

Gelaran kasta tertinggi dalam sepakbola Indonesia telah berakhir dengan Bali United keluar sebagai yang terbaik. Seluruh kontestan, termasuk PS Sleman, akan menyeleksi kembali organ-organ yang masih layak dipertahankan atau harus dibuang setelah menjalani perjalanan panjang selama hampir tujuh bulan lamanya.

Dari lubuk hati yang cukup dalam, saya merasa bersyukur karena kompetisi ini dapat terselesaikan. Meskipun pada awalnya begitu banyak masalah yang mendera. Mulai dari penjadwalan, izin pertandingan dan sebagainya.

Federasi sepakbola Indonesia (PSSI) sebagai otoritas tertinggi dalam menyelenggarakan kompetisi sepakbola nasional memang sangat bersahabat dengan problem di beraneka aspek. Dan entah kapan tabiat macam itu akan berakhir.

Hanya beberapa saat jelang diputarnya Liga 1 musim 2019, muncul dugaan pengaturan skor yang melibatkan banyak klub di bawah naungan PSSI. Kasus ini ramai dibicarakan publik karena dibahas dalam acara dialog Mata Najwa di salah satu stasiun televisi swasta.

Dari sekian kesebelasan yang dicatut, ada nama PSS yang menyeruak di situ. Dugaan yang muncul adalah keberhasilan mereka keluar sebagai kampiun Liga 2 musim 2018  sekaligus mendapat tiket promosi ke Liga 1 amat kental campur tangan mafia.

Selain pengakuan dari seseorang bernama Januar Herwanto (manajer Madura FC), banyak warganet mengindikasikan adanya permufakatan jahat tersebut dari keputusan kontroversial wasit untuk mengesahkan gol tim berkostum hijau ini pada laga kontra Madura FC.

Padahal sebelum terjadinya gol itu, terlihat jelas dalam tayangan ulang bahwa pemain PSS sudah berada jauh di belakang punggung pemain lawan.

Hingga Liga 1 musim 2019 berputar, dugaan jahat itu tak pernah bisa dibuktikan secara de jure. Sayangnya, keadaan itu tak mengubah persepsi sebagian khalayak bahwa PSS layak dicemooh. Nada miring bersumber dari publik yang meyakini bahwa keberadaan Super Elja di kasta teratas adalah bantuan dari seorang mafia, bukan murni karena performa mereka saat mentas di Liga 2.

BACA JUGA:  Piala Menpora: Oase di Tengah Pandemi Covid-19

Dengan membawa segudang opini miring publik, PSS memulai perjuanganya melawan Arema. Dalam partai pembuka tersebut, Rangga Muslim dan kolega mampu mengandaskan perlawanan dari arek-arek Malang dengan kedudukan akhir 3-1.

Pertandingan-pertandingan selanjutnya dilalui dengan berbagai hasil yang beragam. Mulai dari imbang tiga kali beruntun sampai beroleh kekalahan perdana dari Persija.

Pada pekan ke-11, Rangga dan kawan-kawan bertandang ke kota Bangkalan guna menemui Madura United. Menghadapi salah satu kandidat juara karena punya materi pemain bintang, PSS tak diunggulkan.

Akan tetapi, aksi paripurna PSS di atas lapangan malah memutarbalikkan semua prediksi. Super Elja sanggup menghempaskan salah satu kandidat juara lantaran punya pemain-pemain bintang di skuatnya itu.

Kesebelasan sekelas PS Makassar juga sukses dibungkam PSS ketika berlaga di Stadion Maguwoharjo. Bahkan hasil manis lain direguk klub kesayangan Brigata Curva Sud (BCS) dan Slemania ketika menaklukkan Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo.

Berikutnya, nama besar Persib tak memengaruhi PSS untuk tampil brilian. Setidaknya, mereka pun berhasil mengamankan satu poin kala berduel dengan anak asuh Robert Rene Alberts.

Apa yang disuguhkan anak asuh Seto Nurdiyantoro bak pembuktian kepada khalayak bahwa mereka bukan tim promosi kelas teri. Mereka pun seolah tak terganggu dengan segala macam isu yang mengemuka. PSS memang punya kapasitas buat tampil di Liga 1.

Seto tampaknya mengerti betul jika hal paling utama dari timnya adalah memfokuskan diri pada urusan sepakbola dan PSS. Dari situ, segala hal baik akan siap dipetik.

Dukungan suporter fanatik PSS dari tribun Stadion Maguwoharjo yang tak mengenal kata henti, bikin Rangga dan kawan-kawan merasa nyaman. Pun saat melakoni laga tandang, pendukung PSS rela menyisihkan penghasilan demi mendukung klub kebanggaannya.

BACA JUGA:  Tertatihnya Celta Vigo dan Nasib Eduardo Coudet

Semangat dan mimpi yang diusung, akhirnya berujung pada keberhasilan finis di peringkat ke-8 klasemen akhir Liga 1 2019. Jika saya menyebut bahwa saat ini adalah musim fantastis bagi PSS, mungkin banyak sekali fans Super Elja yang tidak setuju. Pasalnya, di kompetisi Liga Indonesia 2003, mereka berhasil finis di posisi keempat klasemen.

Satu hal yang pasti, di tengah sorotan miring dari khalayak maupun media, PSS asuhan Seto berhasil membuktikan kapabilitas mereka secara nyata di atas lapangan. Itu sangat impresif. Suka atau tidak, PSS adalah tim yang cukup kompetitif sehingga menyelesaikan musim di peringkat ke-8.

Tudingan tanpa bukti jelas melukai PSS secara keseluruhan. Namun semua kontroversi tersebut lenyap seiring performa apik Rangga dan kolega.

Seolah-olah, mereka ingin unjuk gigi bahwa Super Elja bukan tim ecek-ecek yang harus dibantu mafia untuk beroleh tiket naik kasta. PSS adalah tim bersih dengan penampilan elok dan sanggup bersaing dengan siapa saja. Apa yang dipamerkan PSS di Liga 1 musim 2019 memang layak diapresiasi.

Lewat tangan dingin Seto, usaha tak kenal lelah para pemain, dan dukungan para suporter yang amat loyal, PSS membuktikan diri mereka secara elegan. Elegansi yang kemudian membungkam semua keraguan dan sinisme publik, tak terkecuali saya sendiri.

Selamat untuk PSS dan mereka yang mencintainya.

 

Komentar
Mahasiswa jurusan teknik industri di salah satu perguruan tinggi negeri yang terletak di Yogyakarta. Bisa disapa di akun twitter @aveechena