Eric Cantona, Evan Dimas, dan Pentingnya Kepercayaan Diri

Eric Cantona adalah sosok brilian sekaligus kontroversial. Semasa masih aktif sebagai pesepak bola terutama sebagai punggawa Manchester United, ia akan selalu dikenang akan dua hal. Mengenai permainannya yang cemerlang dan personanya yang mengeluarkan aura keangkuhan. Hal kedua tersebut membuatnya kerap mendapat kecaman.

Tapi, apakah kesombongan selalu buruk? Keangkuhan Cantona sejatinya adalah bentuk kepercayaan diri non-konvensional yang sedikit kelebihan dan di luar kendali.

Di Indonesia, ada pepatah terkait masalah ini, yakni “ikutilah ilmu padi, makin berisi makin menunduk”. Maknanya, semakin berilmu seseorang, hendaknya semakin rendah hati pula dirinya. Ungkapan ini tentu bermaksud baik, yakni untuk membentuk generasi penerus bangsa menjadi seorang manusia yang tidak saja berkemampuan namun juga bersikap dan berkepribadian baik. Sifat rendah hati ini juga membuat si manusia tidak cepat puas dan mau terus belajar, sehingga kemampuannya akan semakin tinggi, dan demikian seterusnya.

Evan Dimas Darmono seakan menjadi penubuhan dari konsep ini. Meski usianya masih muda, berbagai prestasi telah ditorehkannya. Kemampuannya mengolah bola di lapangan hijau tidak diragukan lagi, hingga dia dipercaya menjadi kapten timnas Indonesia U-19. Dalam keseharian pun ia dikenal sebagai pribadi yang baik. Ramah, santun bertutur kata, tidak neko-neko. Sedikit pun tidak terasa aura sombong darinya. Kemampuan dan kepribadiannya ini menjadi nilai lebih bagi Evan, hingga dia kini diundang mengikuti trial di suatu klub di Spanyol.

Terlihat, ada banyak keuntungan dari sifat rendah hati. Selain terus memicu perkembangan seseorang, ia juga akan disenangi orang lain. Pergaulan akan meluas dan bersama dengan itu kesempatan akan datang. Karir pun akan meningkat secara alami. Namun, ada hal-hal lain yang sering terlewatkan perihal sikap rendah hati.

Rendah hati lain dari rendah diri. Di permukaan, orang yang rendah hati dan orang yang rendah diri sekilas terlihat mirip. Tidak membual, tenang, tidak memancing konflik dengan orang lain. Namun di dalamnya sangat berbeda. Perbedaan ini terkait dengan kemampuan. Orang rendah hati memiliki keahlian, namun tidak menggembar-gemborkannya. Ia tahu dan sadar bahwa ia memiliki kemampuan di atas rata-rata orang pada umumnya. Ini menimbulkan kepercayaan diri saat berinteraksi dengan sesama manusia. Ia tidak merasa terancam oleh orang lain. Mentalnya kokoh dan tenang, seperti pohon berbatang besar yang teduh lagi meneduhkan.

BACA JUGA:  Kesalahan yang Sulit Dimaafkan dari Lapangan Hijau

Sebaliknya, orang menjadi rendah diri karena tidak memiliki kemampuan. Tidak ada keahlian yang dikuasainya dengan baik. Akibatnya tidak ada yang diandalkan dalam mengarungi kehidupan. Tidak ada kepercayaan diri. Tidak terbangun kestabilan mental yang kokoh. Ia mudah gugup dan takut, serta rentan melihat hal-hal di luar dirinya (baik situasi maupun orang lain) sebagai ancaman, bahkan jika kenyataannya tidak demikian. Ini dapat menimbulkan akibat-akibat yang tidak diharapkan dan berbahaya.

Contohnya dapat dilihat pada MOS (Masa Orientasi Siswa). Di Indonesia MOS adalah masalah kambuhan dengan siklus tahunan. Sejatinya ini adalah masa mengenalkan suasana institusi pendidikan (dengan jenjangnya masing-masing) pada siswa-siswa baru, yang dikoordinir oleh siswa-siswa lama. Masalahnya MOS ini rentan menjadi ajang perpeloncoan oleh senior terhadap junior. Tak jarang terjadi kekerasan, bahkan bisa berujung kematian.

Kenapa senior yang lebih tua dan (seharusnya) lebih matang dan dewasa sebagai manusia bertindak seperti ini? Sebenarnya sederhana. Mereka takut. Jiwa mereka goyah dan takut akan banyak hal. Padahal manusia adalah makhluk yang butuh kestabilan mental untuk berfungsi dengan baik. Akibatnya, saat kekokohan mental yang sehat tak bisa didapat, manusia mencoba mensubstitusinya, untuk kembali menegaskan diri mereka. Salah satu caranya adalah menghancurkan pihak lain, yang lebih lemah dari diri mereka (dalam hal ini junior). “Aku mampu mengintimidasi dan menghancurkan orang lain. Aku hebat. Aku punya kemampuan. Nasib junior-junior ini ada di tanganku,” demikian ilusi yang bergema di batin mereka.

Dalam MOS, senior yang brutal dan senior yang baik sering bisa dibedakan dengan jelas, demikian pula dalam kehidupan. Yang tenang selalu punya keahlian atau berprestasi di suatu bidang. Seni, olahraga, akademis, dan lain sebagainya. Mereka tidak butuh afirmasi palsu untuk menjalani hidup ini. Sebaliknya, yang kasar bisa dipastikan bermasalah, entah mereka sendiri menyadarinya atau tidak, mengakuinya atau tidak.

BACA JUGA:  Yang “Kiri” dan yang Seksi: Anti Kapitalisme Sepak Bola di Ladang Kapital

Dengan demikian, kemampuan itu penting. Tidak hanya bisa digunakan untuk meraih penghasilan dan kesuksesan, namun juga menimbulkan kepercayaan diri yang sehat, sehingga diri ini tidak berbahaya bagi orang lain. Sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional dengan sadar dan serius menyeimbangkan antara pelajaran dan kepribadian. Sudah terlalu lama sekolah menitikberatkan pada pembentukan sikap dan akhlak secara timpang, sebagai reaksi terhadap angka kejahatan yang tinggi dengan pelaku usia muda dan sistem terdahulu yang (dianggap) mengutamakan aspek kognitif belaka.

Khalayak umum entah kenapa selalu beranggapan bahwa kecerdasan dan mental itu terpisah. Padahal keduanya terkait. Yang satu mengokohkan yang lain. Dengan menyadari ini, kita bisa melepaskan diri dari siklus antara aspek kognitif dan afektif yang bergantian menguasai iklim pendidikan kita seperti lingkaran setan. Keduanya harus mendapat porsi setara, maka akan muncul murid-murid cemerlang. Seperti Evan Dimas, ahli di bidang mereka masing-masing sekaligus percaya diri dan terkendali.

Itu akan menjadi suatu langkah maju dalam penanganan kekerasan antar pelajar di institusi pendidikan. Bukan sekadar menghukum pelaku, namun mencegah tumbuhnya bibit-bibit pelaku yang lain.

 

Komentar