Hijau-Kuning: Warna Bersejarah Manchester United yang Menjadi Simbol Perlawanan

Aksi protes suporter Manchester United dengan simbol warna hijau-kuning. (Manchester Evening News)
Aksi protes suporter Manchester United dengan simbol warna hijau-kuning. (Manchester Evening News)

Di antara warna merah menyala yang mendominasi Old Trafford, kita juga seringkali menemui warna hijau-kuning dalam bentuk syal yang digunakan oleh ribuan suporter Manchester United. Warna hijau-kuning memang telah menjadi bagian sejarah Setan Merah sebelum berganti nama menjadi Manchester United pada 1902.

Newton Heath Lancashire and Yorkshire Railway FC adalah nama awal klub yang berdiri pada 1878, dibentuk oleh para pekerja kereta api di stasiun kereta api Lancashire and Yorkshire yang terletak di sebelah timur laut dari pusat Kota Manchester. Hijau-kuning menjadi warna kebesaran Newton Heath selama 24 tahun untuk melambangkan semangat para pekerja kereta api dalam membangun sebuah fondasi kuat klub sepakbola.

https://twitter.com/emmeylou83/status/1475896447576981504

Warna hijau-kuning yang kembali eksis secara masif sejak 2010 itu memiliki interpretasi baru. Hijau-kuning tak sekadar menjadi bagian sejarah yang dibanggakan oleh seluruh elemen klub, namun telah menjadi simbol perlawanan yang amat dibenci keluarga Glazers, pemilik Manchester United. Warna hijau-kuning hingga kini telah dijadikan simbol perlawanan terhadap kepemilikan Glazer yang membeli United dengan dana utang yang nominalnya terus membengkak sampai sekarang.

Kemarahan suporter United terus meningkat seiring dengan Glazer yang juga asal-asalan dalam pengelolaan klub sepakbola. Per periode 2012-2021, keluarga Glazers telah mengeruk keuntungan senilai 154 juta paun atau 2.7 triliun rupiah dan menjadi pemilik klub Premier League yang memperoleh keuntungan terbesar dari klubnya sendiri.

Protes dengan simbol warna hijau-kuning ini dimulai pada 2010 silam. Pemicunya adalah publikasi laporan keuangan klub musim 2008/2009 yang mengungkap fakta bahwa tanpa penjualan Cristiano Ronaldo ke Real Madrid senilai 80 juta paun yang memecahkan rekor transfer dunia waktu itu, pembayaran bunga atas utang klub yang bernilai sangat besar bisa jadi menyebabkan kerugian bersih klub. Padahal sebelumnya, United mencapai kesuksesan besar setelah menjuarai Premier League dan mencapai final Liga Champions 2009.

BACA JUGA:  Fanatisme Semu di Sidoarjo

Pada saat itu, masalah utang dan kepemilikan asing klub Premier League menjadi sorotan. Portsmouth menjadi klub Premier League pertama yang mengalami pemeriksaan administrasi dengan total utang mencapai 70 juta paun. Hal ini kemudian turut memicu kekhawatiran, termasuk suporter United yang tidak percaya terhadap kondisi finansial klub mereka yang dikelola secara serampangan oleh keluarga Glazers.

Pada 6 Februari 2010, United menjamu Portsmouth di Old Trafford dan berakhir dengan kemenangan tim tuan rumah dengan skor 5-0. Pada laga itu, The Independet melaporkan bahwa sekitar 30.000 syal hijau-kuning telah terjual dan dikenakan oleh seperlima pendukung United yang hadir di Old Trafford. Sayangnya laga itu tidak disiarkan di televisi. Sekitar dua minggu kemudian pada 28 Februari 2010, suporter Setan Merah mendapat kesempatan ideal saat klub kesayangannya bertanding kontra Aston Villa dalam laga final Carling Cup di Wembley Stadium.

Salah satu kelompok suporter United, Manchester United Supporters’ Trust atau MUST mendistribusikan ribuan syal hijau-kuning sebagai simbol pemberontakan terhadap Glazers. Sekitar 28.000 suporter United hadir dalam laga itu dan disiarkan langsung oleh BBC. Simbol protes siap diekspos ke seluruh dunia. Ribuan balon hijau-kuning mengudara sebelum sepak mula, begitu pun dengan ribuan syal serupa yang melingkar di leher ribuan suporter Setan Merah, dan dilengkapi dengan spanduk besar berbunyi “United Against Glazer” yang menghiasi Wembley.

Aksi ini sempat memicu kemarahan Glazer. Pada 4 Mei 2010, saat United menjamu Aston Villa, Independent Manchester United Supporters’ Association (IMUSA) mengungkapkan bahwa sejumlah penonton telah dilarang masuk ke Old Trafford karena mengenakan atribut berwarna hijau-kuning tersebut. David Beckham juga sempat terlibat secara tidak langsung dalam kampanye itu.

BACA JUGA:  Piala Eropa, Liga Indonesia, dan Memori Bocah

https://twitter.com/stretfordpaddck/status/840141139680272384?lang=en

Pada 10 Maret 2010, Avram dan Joel Glazer hadir di Old Trafford untuk menyaksikan laga leg kedua babak 16 besar Liga Champions antara United versus AC Milan dengan tim tamu yang diperkuat Beckham. Pasca laga, seorang suporter melempar syal hijau-kuning ke Beckham saat eks United tersebut berjalan menuju terowongan. Beckham mengambil syal itu dan mengalungkannya di leher. Ribuan suporter besorak kegirangan meski kemudian Beckham tak mengakuinya sebagai dukungan atas aksi protes terhadap Glazer.

Dalam waktu yang sama, manajemen United kemudian melarang para pemain untuk terlibat dalam diskusi kampanye anti Glazer, MUTV dilarang menyoroti aksi tersebut, hingga muncul sebuah kabar bahwa seorang suporter diusir dari Red Cafe karena menolak melepas syal hijau-kuning yang ia pakai. Hingga musim ini, para suporter United baik yang hadir di stadion maupun yang menyaksikan dari layar kaca sudah akrab dengan simbol hijau-kuning yang terlihat dalam setiap laga ataupun aksi protes di Manchester.

Sementara keluarga Glazers tetap nyaman duduk di kursi kepemilikan Manchester United, suporter Setan Merah secara konsisten menjadikan atribut hijau-kuning sebagai salah satu barang wajib untuk dibawa ke stadion hingga Glazer benar-benar angkat kaki dan finansial klub kembali sehat. Dengan begitu, Manchester United akan kembali ke marwahnya sebagai klub dengan fondasi kuat dan semangat juang tinggi untuk meraih puncak kejayaan.

Komentar