Geliat Singo Lodro dari Bumi Bung Karno

Blitar adalah salah satu daerah di selatan Jawa Timur. Daerah ini berjarak sekitar 167 km dari ibukota Jawa Timur, Surabaya. Sebuah daerah yang mana secara administratif terbagi menjadi 2 wilayah yaitu wilayah kota dan kabupaten.

Wilayah Kota Blitar melingkupi 3 kecamatan dengan total keseluruhan luas wilayah sekitar 32.58 km2. Di sisi lain, Kabupaten Blitar memiliki cakupan luas wilayah yang lebih besar dibandingkan kota yaitu meliputi 1,588.79 km2.

Nama Blitar sendiri diambil dari sebuah adipati/pemimpin Blitar masa lalu yang mana bergelar Aryo Blitar.

Blitar, bisa dikatakan sebagai sebuah daerah kecil yang tak pernah bisa lepas dari percaturan sejarah Indonesia. Di sudut-sudut Blitar, deretan patung maupun monumen bersejarah seakan-akan ingin menunjukan keperkasaan kota ini di masa lampau.

Blitar memang sempat berjaya di dalam percaturan sejarah nusantara.  Terdapat dua peristiwa sejarah penting yang membuktikan kalimat sebelum ini yaitu Pemberontakan PETA dan tempat peristirahatan terakhir proklamator bangsa, Ir Soekarno.

Dua momen tersebut yang mengakibatkan warga Blitar hingga saat ini masih hidup dalam gelora-gelora kebangsaan dan animo sejarah yang kuat.

Namun, berbicara tentang Blitar tak sekadar mengenai Soekarno ataupun Pemberontakan PETA. Sebagai bagian dari negara yang menjadikan sepakbola sebagai olahraga nomor satu,  Blitar juga tak bisa dilepaskan dari sepakbola.

Blitar memiliki sebuah catatan sejarah di sepakbola. Sejatinya, Blitar memiliki 2 klub kebanggaan yang masing-masing mewakili kabupaten dan kota.

PSBI mewakili Kabupaten Blitar dan PSBK mewakili Kota Blitar. Mungkin kita bisa membicarakan tentang PSBK dan berbagai kiprahnya sebagai klub yang dibentuk dari tahun 2006 dan kini sudah bisa menempati Liga 2.

Namun, pada artikel ini akan menjadi lebih menarik ketika kita membahas sebuah klub yang tidak sekadar sarat akan prestasi, namun sudah mendarahdaging di dalam loyalitas dan semangat Blitar.

Apa yang lebih indah dibanding berbicara tentang kesetiaan?  Tanpa bermaksud mengenyampingkan PSBK yang mewakili kota, maka izinkan saya untuk menceritakan mengenai PSBI, klub kebanggaan warga Blitar Raya yang wajib dicintai walau minim prestasi.

PSBI secara struktural memang sebuah klub yang mewakili kabupaten Blitar. Secara historis pun, PSBI lebih banyak bermain dan menjadikan Kabupaten Blitar sebagai homebase.

Namun, terlepas dari itu semua, secara ikatan naluri dan hati, tentu warga kota akan protes jika PSBI hanya dimiliki kabupaten. Bisa dikatakan, PSBI adalah klub yang bisa menyatukan warga kota dan kabupaten di dalam satu dukungan.

BACA JUGA:  Laju Kencang Madura United

PSBK boleh saja berprestasi, namun PSBI jangan pernah terdegradasi. Demikian ungkapan hati para warga Kota Blitar. Namun, mungkin ungkapan hati itu kini teriris karena PSBI harus terlempar ke liga 3 pada musim depan.

PSBI memang berdiri cukup lama yaitu sejak 1928, namun nama besar PSBI terasa tertutupi oleh berbagai klub tetangga.

Di kala, Kediri dan Malang semakin menunjukkan kedigdayaan masing-masing dengan mengirimkan Persik dan Arema sebagai tim pemenang liga Indonesia, PSBI tetap “rendah hati” untuk menjadi klub semenjana yang masih saja berkutat di divisi 1 hingga 3.

Beberapa tahun yang lalu, perlahan namun pasti, PSBI memang merangkak naik. Hingga berada pada titik tertinggi, yaitu tampil di pentas Divisi Utama.

Namun, sepertinya tuah PSBI masih belum mampu membawanya menuju kompetisi tertinggi Indonesia. Walau beberapa pemain besar pernah malang melintang seperti Purwanto Suwondo dan Endra Prasetya.

Keduanya eks Persebaya, maupun pemain sekaliber Ali Sunan, namun membawa PSBI menuju kasta tertinggi sepakbola dirasa sebuah angan-angan yang masih terlalu jauh.

Berbicara tentang saat ini pun, sejatinya PSBI memiliki materi pemain dengan kualitas di atas rata-rata. Terdapat beberapa pemain yang cukup malang melintah di kancah persepakbolaan tertinggi, semisal Arif Ariyanto (eks Persela dan Persebaya).

Namun, catatan di atas kertas akan sangat mudah terhapus oleh fakta di lapangan. Fakta di lapangan berbicara sebaliknya.

PSBI harus rela memulai semuanya dari Liga 3 tahun depan.  Tentu sangat disesalkan. Terlebih PSBI menduduki juru kunci dan menjadi lumbung gol bagi klub lain.

Sebagai seorang remaja yang turut menyaksikan naiknya PSBI secara tertatih-tatih dari Liga Nusantara (dulu sebutan untuk Liga terbawah) hingga menuju Divisi Utama beberapa tahun yang lalu, kegagalan PSBI musim ini adalah sebuah pil pahit.

BACA JUGA:  Apa yang Terjadi Seabad Lalu di Copa America?

Pil pahit yang belum tentu bisa dihapuskan dengan manisnya Belimbing Sari asal Blitar. Namun, semua telah terjadi. Singo Lodro (julukan PSBI) harus belajar mengaum kembali dari kasta terendah.

Satu hal yang menarik dari PSBI adalah suporter. Terdapat Blitzman dan FreedomGate. Keduanya bersinergi di dalam satu cinta demi mendukung Singo Lodro.

Sejatinya, sangat mudah untuk mengetahui bahwa PSBI menang di pertandingan tanpa harus datang ke stadion. Saat ada konvoi suporter dengan bunyi klakson di mana-mana, saat itulah PSBI menang.

Bagi masyarakat luar Blitar, mungkin aksi itu dirasa meresahkan. Namun, sejatinya kini warga Blitar merindukan konvoi tersebut. Rindu yang sebenar-benarnya merindu untuk melihat PSBI berhasil menghancurkan lawan-lawannya.

Berbicara tentang pembinaan usia muda. PSBI memiliki stok produksi pemain muda yang melimpah.

Geliat mengenai jenjang pembinaan usia dini sangat terasa di kota ini. Berbagai pembinaan usia dini dilakukan, mulai dari mendirikan sekolah sepakbola baru, adanya kompetisi remaja berjenjang, hingga kompetisi sepakbola di area sekolah.

Ada lebih dari 30 sekolah sepakbola (SSB) di Blitar Raya. Prestasi sekolah sepakbola Blitar sendiri tak bisa dianggap remeh.

Mereka cukup disegani di wilayah Jawa. Sebut saja Indonesia Muda Blitar, Laskar Soeprijadi, Metropol, dan berbagai SSB berkelas. Bahkan Alon-Alon Kota Blitar tak pernah sepi menjadi arena bermain bagi para pemain-pemain muda ini. Bukan tanpa hasil, beberapa pemain pernah terlahir dari pembinaan berjenjangan di Blitar adalah Charis Yulianto.

Blitar tetaplah sejarah, dan selamanya akan membuat sejarah. Sepakbola mungkin bisa dikatakan cukup jauh dan memang harus dijauhkan dari ranah perpolitikan juga telah berhasil membuat catatan sejarahnya di Bumi Bung Karno.

Mungkin, kini PSBI masih berada di dasar, namun sepuluh atau dua puluh tahun lagi, siapa bisa menjamin bahwa singa dari Selatan Jawa Timur ini tidak akan mengamuk dan terbangun dari tidur panjangnya?

Karena Blitar bukan sekadar sejarah . Ada geliat Singo Lodro di Bumi Bung Karno yang siap menuliskan sejarah.

Komentar
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Program Studi Teknik Fisika. Bisa dihubungi melalui akun @gilangraka