Girl’s Logic on Football

Sepakbola dan euforianya kini tak lagi dinikmati kaum maskulin saja. Sudah kurang lebih satu dekade terakhir suporter perempuan bermunculan, berkembang, dan terus bertambah berkali lipat jumlahnya. Saya, dan banyak perempuan lainnya penyuka sepakbola tak lagi malu hadir di stadion ikut mandi peluh dan bahkan ada yang ikut menyanyi.

Peran yang sedikit lebih baik ketimbang hanya dijadikan pemanis sorotan kamerawan iseng di tengah pertandingan.

Wajah tampan, segar, dan menggairahkan para pesepakbola mungkin memang menjadi alasan utama ketertarikan kaum kami. Jangan disalahkan, kalian kaum lelaki pun juga senang mengidolai remaja perempuan yang bergerombol menyanyi menggunakan pakaian seksi yang suaranya ya begitu-begitu saja.

Masalah taktik dan statistik memang saya masih jauh dari mengerti, tapi setidaknya jika diajak nonton bareng saya tidak akan menyusahkan kalian dengan menanyakan penjelasan apa itu offside.

Pesona pemain sepakbola tidak hanya menyihir saya, gadis yang hanya bisa bermimpi dan mengagumi mereka dari jauh. Artis, model, penyanyi terkenal silih berganti takluk pada pria-pria menggemaskan ini. Mereka ini juga wanita hebat yang bisa sangat memengaruhi karier pasangannya.

Bahkan di film GOALS yang kedua, seorang Santiago Munez sempat berantakan permainannya. Ya, kegalauannya disebabkan wanita. Bagaimana jika diceritakan Munez patah hati dan tidak bisa menemukan solusinya? Tentu akhir film akan berbeda.

Kisah cinta para pemain sepakbola bukan lagi bahasan yang sembarangan. Ingat kasus asmara megabintang Chelsea, John Terry? Perselingkuhannya dengan kekasih rekan timnya masih menjadi pembahasan menarik sampai sekarang.

Kaka dengan sang istri yang dikenal sangat harmonis pun bercerai. Berpisahnya Sergio “Kun” Aguero dengan anak seorang legenda, Diego Maradona, juga disesalkan. Pasti kita berharap lebih banyak lagi keturunan dari gen “Si Tangan Tuhan” dan skill ajaib Aguero, bukan? No pressure, Benjamin.

Tak ketinggalan kisah fairy tale Alvaro Morata yang jatuh cinta pada penggemarnya. Cerita yang terakhir ini memupuk asa saya sebagai wanita penggemar sepakbola.

BACA JUGA:  Manifestasi Mimpi Francis Coquelin

Iya, mungkin saya kebanyakan melahap berita gosip. Tapi mungkin teori ngawur saya ini ada benarnya. Cocokologi ini tentang kehadiran wanita dan pengaruhnya pada performa pemain sepakbola.

Begini, beberapa fans Arsenal mulai meragukan posisi Hector Bellerin di skuat utama karena performa angin-anginan yang tak kunjung membaik. Coba bandingkan dengan Alex-Oxlade Chamberlain yang punya peran penting di formasi baru pelatih kesayangan kita semua, Arsene Wenger.

Bagi saya, kisah asmara keduanya yang bertolak belakang punya peranan penting. Sempat sering pamer kemesraan dengan kekasihya, kini foto-foto itu tak lagi terlihat di akun Instagram @hectorbellerin yang sudah centang biru itu. Tidak tahu kapan tepatnya, tapi kandasnya hubungan asmara Bellerin dengan pacarnya lumayan memengaruhi penampilannya yang kini kian menurun.

Tentu saja, selain karena faktor lepas dari cedera dan gaya rambutnya yang semakin aneh, Bellerin harus mau lebih berjuang untuk kembali ke performa terbaiknya.

Berbeda dengan Bellerin, Chamberlain sedang dimabuk cinta. Tidak main-main, seorang Perrie Edwards personel girl band Little Mix yang juga mantan kekasih Zayn Malik jatuh ke dalam pelukan Chambo. Kini, penampilan Chamberlain terlihat meningkat setelah cukup tak konsisten selepas cedera.

Kisah dan penampilan keduanya yang cukup kontras cukup menarik dibahas oleh penggemar gosip seperti saya. Setidaknya, saya ingin membagi sudut pandang lain bagi pecinta sepakbola. Peran perempuan (kekasih) cukup penting bagi pemain ditilik dari kisah tersebut. Bukan hanya kemampuan dan kondisi fisik sebelum pertandingan, suasana hati yang baik juga akan memberi dampak baik juga untuk pemain di lapangan.

Dan itulah yang dilakukan para perempuan, memberi dukungan. Jangankan pemain profesional, kalian para lelaki saat bermain futsal saja pasti punya motivasi berbeda saat ditonton pacar atau gebetan, bukan?

BACA JUGA:  Polemik Mauro Icardi dan Curva Nord

Mengeluarkan kemampuan terbaik untuk menarik perhatian pasangan. Hal itu cukup terbukti dengan terpilihnya Chambo sebagai pemain terbaik pada laga Arsenal vs Manchester City di semifinal FA Cup dengan kehadiran sang kekasih di tribun penonton. Tentu saja selain karena kecintaan kepada tim yang sedang dibelanya.

Perempuan hadir untuk mendampingi, memberi dukungan dan semangat dari pinggir lapangan. Terlalu dangkal jika melihat sepakbola hanya dari kemampuan dasar pemain dan hitungan angka statistik saja. Pemain sepakbola bukan robot yang bisa diatur kapan dan berapa kali harus menciptakan gol dan seberapa jauh mereka harus berlari memperebutkan bola.

Bahkan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo pun tak bisa menghindari pertandingan terburuk mereka karena sepakbola tak bisa diatur dan diprediksi. Sangat penting menjaga hati dan perasaan para pemain. Karena dengan begitu, mereka akan bermain dengan sepenuh hati dan diharapkan akan memberi hasil yang terbaik.

Nb: Jika memang Bellerin sebegitu membutuhkan dukungan untuk mendongkrak performanya, tolong sampaikan kepadanya, saya available. Jangan lupa juga potong rambut, woy!

 

Komentar
“Menikmati sepakbola dan kisahnya yang tak habis untuk diceritakan. Bisa dihubungi di @jevianaaaa.”