Harapan di Pundak Seto Nurdiyantoro

Harapan di Pundak Seto Nurdiyantoro

Karamnya kapal di tengah lautan luas akibat dihantam ganasnya gelombang pasang serta angin kencang merupakan risiko yang pasti dihadapi oleh para pelaut. Butuh nakhoda yang andal, berani dan cerdas  supaya bisa membawa kapal keluar dari situasi mengerikan seperti itu agar para penumpang selamat.

Untuk saya, analogi tersebut cocok sekali dengan kondisi di PSIM Yogyakarta. Musim lalu, kapal Laskar Mataram dipenuhi sosok-sosok berkualitas. Keinginan untuk melaju dan tiba di pelabuhan akhir (baca: promosi) meletup-letup.

Akan tetapi, keinginan beserta harapan itu tak membuahkan hasil yang manis. Kapal PSIM karam dan tiba di pelabuhan akhir cuma mimpi belaka. Padahal, ada dua nakhoda yang bergantian memegang kemudi yaitu Vladimir Vujovic dan Aji Santoso. Nahas, kinerja mereka tak memuaskan dan gagal mengantar Cristian Gonzales dan kawan-kawan menjauh dari marabahaya.

Kandasnya kapal PSIM di tengah jalan mengecewakan Brajamusti dan The Maident, faksi pendukung Laskar Mataram, yang sudah menunggu kedatangan mereka di pelabuhan akhir. Air mata tumpah ruah dan hati mereka patah sejadi-jadinya. Gagal mewujudkan impian adalah satu dari sekian hal yang paling tak menyenangkan dalam hidup ini.

Gara-gara kegagalan itu, manajemen PSIM melakukan evaluasi guna menyongsong musim kompetisi 2020. Hasrat beroleh hasil lebih baik terus menggelegak di dada. Kemarin (29/1), kubu Laskar Mataram meresmikan kepulangan Seto Nurdiyantoro ke Stadion Mandala Krida.

Usai kontraknya habis dengan PS Sleman, pelatih berlisensi AFC Pro tersebut memang berstatus bebas sehingga berhak melakukan pendekatan dengan pihak mana pun. Mujur bagi PSIM, pilihan Seto jatuh kepada mereka, kesebelasan yang menjadi tempatnya memulai karier sebagai pelatih beberapa musim lalu. Ketika aktif bermain, Seto pun sempat mengenakan seragam biru khas Laskar Mataram.

BACA JUGA:  Apakah Mengejar Juventus adalah Kemustahilan?

Keputusan menggaet Seto bukannya tanpa alasan. Sosok berumur 45 tahun itu dianggap kapabel untuk menjadi nakhoda anyar dari kapal Laskar Mataram guna mengarungi Liga 2 musim 2020. Kiprah mulusnya bareng PSS dua musim terakhir adalah rekam jejak yang sukar diabaikan begitu saja. Terasa makin asyik, kehadirannya membuat suporter PSIM merasa punya optimisme lebih. Banyak yang meyakini bahwa cerita suram di musim 2019 takkan terulang karena Seto berdiri di balik kemudi.

Saya pribadi turut berbahagia ketika manajemen PSIM memberi mandat kepada Seto yang punya nilai plus di mata publik. Ada cukup banyak nakhoda yang datang silih berganti ke Stadion Mandala Krida. Namun sebagai individu yang mendukung Laskar Mataram semenjak awal 2000-an, saya menganggap hanya Sofyan Hadi yang kemampuannya paripurna.

Sebagai salah satu tim yang turut memprakarsai berdirinya PSSI sebagai federasi resmi sepakbola di Indonesia, saya selalu memiliki impian jika PSIM harus tumbuh dan berkembang menjadi tim kuat di kasta teratas dengan segudang prestasi. Maka berjuang sekuat tenaga agar bisa kembali ke Liga 1 adalah mimpi yang mesti diwujudkan. Saya juga yakin bahwa Brajamusti dan The Maident memiliki impian yang sama.

Sama seperti musim sebelumnya, saya bersama beberapa teman satu tribun masih punya satu permintaan besar kepada para pelatih yang menangani PSIM, tak terkecuali terhadap sosok yang mengidolai Rahmad Darmawan tersebut. Ya, naik kasta ke liga tertinggi guna bersaing dengan klub-klub terbaik di Indonesia.

Walau demikian, Seto tak ingin terbebani harapan muluk fans. Dalam konferensi pers yang ia lakoni saat diperkenalkan sebagai pelatih anyar PSIM, Seto meminta agar publik tidak memasang ekspektasi tinggi.

“Dengan hadirnya saya, tidak ada jaminan PSIM akan langsung bagus. Saya juga tidak bisa menjamin PSIM pasti naik kasta. Namun dengan kerja keras, PSIM dapat berkembang untuk jadi lebih bagus. Suporter jangan berharap terlalu banyak. Harapannya yang enteng-enteng saja seperti PSIM bisa tampil lebih bagus dan meyakinkan”, terang Seto seperti dikutip dari Goal.

Menarik untuk ditunggu bagaimana Seto meramu segalanya, baik aspek teknis maupun non-teknis di tubuh PSIM. Paling tidak, Laskar Mataram bisa jadi kesebelasan yang bagus seperti keinginannya.

BACA JUGA:  Tiga Nama Pengganti Santi Cazorla

Sebagus apapun kualitas Seto, tapi hasil kerjanya di PSIM belum tampak. Namun saya percaya, sebagai nakhoda baru, ia akan berusaha keras untuk membawa kapal Laskar Mataram melaju kencang dan melewati segala rintangan di Liga 2 musim 2020 demi sampai di pelabuhan terakhir.

Seto meminta kepada pendukung PSIM agar jangan berekspektasi kelewat tinggi, tapi sepertinya hal itu sulit dilakukan. Semua pendukung Laskar Mataram, termasuk saya, meletakkan harapan di pundaknya dan pada pengujung musim nanti, ingin menikmati kebahagiaan hakiki. Namun sungguh, kami tidak terburu-buru. Membiarkan Seto bekerja dengan nyaman sehingga ia dapat mengeluarkan segenap kemampuan terbaik dari penggawa PSIM adalah keharusan. Dengan begitu, ia dapat membereskan misi yang belum selesai. Mewujudkan impian lama menjadi nyata.

Komentar
Mahasiswa jurusan teknik industri di salah satu perguruan tinggi negeri yang terletak di Yogyakarta. Bisa disapa di akun twitter @aveechena