Kultur Pop, Fesyen dan Sepakbola ala Paris Saint-Germain

Dari sudra menjadi brahmana, mungkin analogi itu tepat untuk merepresentasikan perjalanan Paris Saint-Germain sebagai klub sepakbola. Dari sebuah tim yang minim prestasi di era 1990-an sampai 2000-an, menjadi klub bertabur titel medio 2010-an pasca-akuisisi Qatar Sports Investment (QSI).

Saya pun berani menebak jika dua dekade lalu, hanya segelintir dari kita yang mengenal Paris Saint-Germain. Itu pun dikarenakan presensi Nicolas Anelka, Jay-Jay Okocha, Pedro Pauleta atau Ronaldinho.

Di bawah manajemen QSI, Paris Saint-Germain bertransformasi sebagai klub dengan dukungan finansial masif. Tak heran bila mereka sanggup merekrut banyak pemain bintang guna memenuhi ambisi menjadi raja di Prancis dan Eropa.

Menurut majalah Forbes, Paris Saint-Germain adalah tim olahraga dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia dalam satu dekade pamungkas. Les Parisiens tumbuh hampir seribu persen dan sekarang bernilai sekitar 1 miliar Euro serta cuma kalah dari tim basket NBA, Golden State Warriors.

Masuknya QSI sebagai penyokong dana memang mengubah segalanya. Segala sektor di tubuh klub mendapat sentuhan perubahan, baik akademi klub, pengembangan tim sepakbola wanita, sampai adanya tim e-sport.

Walau tidak mudah, tetapi QSI punya tekad kuat untuk menjadikan Paris Saint-Germain sebagai jenama sepakbola global yang kukuh, bersanding dengan tim-tim sekelas Barcelona, Bayern Munchen, Liverpool, dan Real Madrid.

Namun selayanya kehidupan yang punya dua sisi mata uang, suntikan dana tanpa batas yang dimiliki klub asal ibu kota Prancis itu juga membawa dampak negatif. Pasalnya, Paris Saint-Germain jadi punya ketergantungan tersendiri terhadap hal tersebut. Saban musim, seperti ada kekurangan bila Les Parisiens tidak memboyong pemain bintang.

Tentu masih begitu segar dalam ingatan kita bagaimana Malaga CF begitu dimanjakan dalam urusan keuangan saat klub Spanyol itu masih dimiliki juragan minyak dari Timur Tengah. Pasukan Los Boquerones juga dengan mudah mendatangkan pemain-pemain kelas satu seperti Isco Alarcon, Ruud van Nistelrooy, dan Santi Cazorla.

Tragisnya, sebelum Malaga melesat sebagai tim tangguh, mereka keburu terperosok lantaran sang pemilik dana menghentikan injeksi fulusnya. Ditengarai hal itu terjadi karena rencana yang dimilikinya mendapat ganjalan dari pemerintah kota Malaga.

Ogah mengalami hal serupa, pihak eksekutif Paris Saint-Germain menyusun strategi agar mereka memiliki stabilitas keuangan jangka panjang dan tidak terlalu bergantung dari uang milik investor Timur Tengah-nya. Salah satunya dengan membuat Les Parisiens melejit bak sebuah kultur pop.

Kolaborasi dengan Raksasa Fesyen Dunia

Selama satu dekade terakhir sepakbola dan fesyen semakin terhubung satu sama lain sehingga sering kita lihat banyak pemengaruh kelas atas yang memakai jersi atau pernak-pernik sepakbola di sebuah video klip atau saat mentas di panggung.

BACA JUGA:  Josip Skoblar: Monsieur Goal bagi Olympique de Marseille

Paris Saint-Germain sendiri ingin menjadi yang terdepan dalam hal tersebut. Terlebih, mereka berasal dari kota yang merupakan salah satu kiblat fesyen dunia. Rasa-rasanya, bukan hal sulit buat mewujudkannya.

Apalagi sejak tahun 2018, Paris Saint-Germain melakukan kolaborasi dengan Air Jordan yang merupakan salah satu jenama turunan milik jenama olahraga kenamaan asal Amerika Serikat, Nike.

Hingga detik ini, kolaborasi Les Parisiens dengan Nike di bidang sepakbola merupakan yang paling lama karena berlangsung sejak 1989 dan baru akan berakhir pada 2032 mendatang.

Mesti diakui bahwa kemitraan jenama dengan logo jumpman itu dengan Paris Saint-Germain memberi keuntungan yang amat masif bagi kedua belah pihak. Pasalnya, cakupan pasar keduanya jadi meluas.

Air Jordan sebagai jenama global sudah begitu mengakar di AS berkat kultur basket yang kuat di sana. Namun di belahan dunia lain, Air Jordan masih tertinggal jauh. Apalagi di Eropa, kultur basketnya belum sebesar di AS. Diversifikasi produk Air Jordan pun coba dilakukan dengan merambah dunia sepakbola via Paris Saint-Germain.

Sementara buat Les Parisiens, kerja sama ini merupakan wujud perluasan pasar yang sebelumnya tidak terjamah oleh mereka sebab popularitas Paris Saint-Germain sebagai klub sepakbola kalah harum dibanding jenama Air Jordan itu sendiri seperti yang terjadi AS dan Cina.

Kerja sama antara kedua belah pihak berhasil menggebrak industri fesyen dan sepakbola sekaligus. Pada bulan pertama setelah peluncuran jersi Paris Saint-Germain x Air Jordan, mereka berhasil menjual sekitar 150.000 helai kostum!

Bahkan dari penjualan tersebut, Les Parisiens berhasil menyuntikkan keuntungan sekitar 15 juta Euro ke kas klub. Nilai yang tidak sedikit, bukan?

Fabien Allègre selaku direktur diversifikasi jenama klub mengatakan bahwa penjualan produk resmi Paris Saint-Germain telah meningkat sekitar 400% sejak tahun 2011. Hal ini didorong oleh reputasi internasional klub dengan warna kebesaran biru dan merah itu yang kian kuat.

Kolaborasi eksklusif antara Paris Saint-Germain x Air Jordan ini tidak berhenti pada jersi sepakbola dan sepatu. Namun masih ada 70 item turunan lainnya sehingga koleksi produknya tidak cuma lekat untuk aksi di atas lapangan hijau tetapi juga pagelaran peragaan busana akbar.

Selain dengan Air Jordan, kesebelasan yang berdiri tahun 1970 ini juga melakukan beberapa kolaborasi dengan jenama fesyen atau lifestyle lain seperti, BAPE, Beats By Dre, KOCHÉ, Levi’s, Jack’s Surfboards.

BACA JUGA:  Victor Osimhen: Monster di Lini Depan Lille

Bintang di Dalam dan Luar Lapangan

Semenjak masuknya suntikan dana dari QSI, Paris Saint-Germain memang banyak mempercantik diri dalam berbagai hal. Tak peduli bahwa dana miliaran Euro sudah dihabiskan untuk itu.

Maka tak perlu heran pula jika kita bisa menyaksikan David Beckham, Edinson Cavani, Zlatan Ibrahimovic, Kylian Mbappe, dan Neymar berhasil didaratkan di Stadion Parc des Princes. Teranyar, ada Gianluigi Donnarumma, Achraf Hakimi, dan Sergio Ramos yang menjadi penggawa anyar klub.

Kendati demikian, jajaran eksekutif Les Parisiens sadar betul, untuk mendobrak kultur pop serta membangun sebuah jenama global yang luar biasa, dibutuhkan lebih dari pemain bintang dan prestasi.

Oleh karenanya, mereka juga mendobrak kebiasaan dengan bekerja sama bersama atlet-atlet maupun eks atlet dari cabang olahraga lainnya guna mengangkat citra ke level yang lebih tinggi. Misalnya saja Stephen Curry, Kevin Durant, Karl-Anthony Towns (pebasket), Khabib Nurmagomedov (pegulat), dan Alain Prost (eks pembalap Formula 1).

Tidak berhenti pada bintang dari cabang olahraga lain, tetapi juga selebritas kelas wahid. Mulai dari aktor, bintang reality show, pemengaruh media sosial hingga musisi.

Bintang-bintang seperti Barbara Palvin, Beyoncé, Leonardo Di Caprio, Gigi Hadid, Kendall Jenner, Macklemore, Mick Jagger dan Rihanna yang biasanya hanya menyaksikan Los Angeles Lakers atau Los Angeles Rams berlaga di NBA atau NFL, kini juga rajin rajin bersilaturahmi ke tribun Stadion Parc des Princes dengan mengenakan seragam berlambang Menara Eiffel di dada.

Bermain apik, berprestasi di atas lapangan hijau, menjalin kerjasama dengan berbagai jenama fesyen yang beririsan dengan muda-mudi, ditambah lagi Paris yang menjadi asal klub merupakan kota yang punya beragam makna bagi penduduk bumi, kota yang mendapat atensi lebih karena sejarahnya, budayanya, hingga nilai-nilai yang lebih moderen seperti desain, mode, makanan, dan saat ini bertambah satu lagi yaitu sepakbolanya.

Dengan segala keistimewaan yang dipunyai Paris Saint-Germain, tentu saja bukan sebuah proses yang rumit untuk mewujudkan citra diri Les Parisiens sebagai sebuah budaya populer dan jenama global.

Semua hanya soal waktu untuk mereka mewujudkan itu. Apalagi sokongan dana yang mereka punya begitu luar biasa dan pundi-pundi dari kemampuan meriuhkan kehidupan manusia lewat kultur pop yang coba mereka bangun juga berpotensi memperkaya diri ke tingkat yang eksepsional.

Komentar
Penggemar sepakbola yang sedikit cemas, banyak senyumnya. Bisa disapa via akun Twitter @RezzaPrismadana