Il Fenomeno: Ronaldo, Rambut Kuncung, dan Piala Dunia

Ronaldo Nazario dan rambut kuncungnya di Piala Dunia. (PA Images).webp
Ronaldo Nazario dan rambut kuncungnya di Piala Dunia. (PA Images).webp

Rambut kuncung, jersey kuning-hijau-biru, bola, dan trofi emas akan selalu lekat dalam ingatan para pecinta sepakbola. Ronaldo Nazario da Lima dan sepakbola seperti telah ditakdirkan bersama. Piala Dunia 2002 adalah kali terakhir Brasil merengkuh gelar juara. Saat semifinal, rambut kuncung Ronaldo menyita perhatian.

Misinya satu, membalaskan kegagalannya saat tampil buruk di partai puncak empat tahun sebelum itu. Hasilnya? Seperti yang tertulis dalam sejarah, brace Ronaldo membawa Brasil menjadi juara dunia untuk kelima kali dalam sejarah.

Sebelum mentas di Piala Dunia 2002, Ronaldo mengalami cedera lutut parah yang membuatnya hanya tampil 16 kali bersama Inter Milan sepanjang musim 2001/2002. Ia nyaris gagal ke Piala Dunia waktu itu karena diragukan fit dan bisa memberikan performa maksimal.

Namun, Luiz Felipe Scolari memiliki pandangan lain. Ronaldo harus ikut dan ia melakukan segala cara agar bisa kembali ke lapangan. Rambut kuncungnya yang legendaris adalah salah satu cara agar perhatian publik dan media kepadanya beralih ke rambut segitiga buruknya itu. “Semua orang kemudian membicarakan rambut dan melupakan cedera saya. Saya akhirnya bisa lebih santai, tenang, dan fokus saat berlatih dan bermain setelah itu,” ungkapnya.

Ronaldo memulai Piala Dunia 2002 dengan sempurna. Brasil mencatatkan 100 persen kemenangan dan gol-gol Ronaldo menghiasi kiprah tim Samba sejak laga awal fase grup hingga babak 16 besar. Catatan golnya sempat macet di perempat final kala melawan Inggris yang bertabur bintang. Namun, rambut kuncungnya di semifinal membawa berkah. Gol tunggalnya menghempaskan Turki dan pada akhirnya membuat Jerman bertekuk lutut di partai puncak.¬†Dadado¬†keluar sebagai top skor dengan 8 gol, kemudian meraih Ballon d’Or keduanya di tahun itu.

Pada dasarnya Ronaldo adalah manusia. Tidak terbayang, bagaimana jadinya jika ia tak menderita cedera lutut kala itu. Cedera yang menjadi awal malapetaka kariernya. Setelah musim-musim luar biasa dari Cruizero, PSV Eindhoven, dan Barcelona, Ronaldo hijrah ke Inter Milan. Ia baru saja menjalani kiprah luar biasa bersama Barcelona sepanjang musim 1996/1997. 47 gol dari 49 laga dan sukses mengawinkan gelar La Liga serta Copa del Rey adalah pencapaian luar biasa bagi pemuda berusia 21 tahun.

BACA JUGA:  Inggris Semakin Meyakinkan Usai Kirim Pulang Senegal

Saat baru pindah ke Inter, ia dianugerahi Ballon d’Or pertamanya sekaligus menjadi pemain termuda yang berhasil memenangi trofi pesepakbola paling bergengsi di dunia tersebut. Ronaldo meraihnya saat masih berusia 21 tahun 92 hari. Musim pertama bersama Inter berjalan mulus dengan 39 gol dari 56 pertandingan. Petaka menghampirinya di musim ketiga pada 1999/2000. Pekan Ke-10 musim itu, Inter berlaga kontra Lecce.

Ia sudah mengantongi 4 gol dalam 6 pertandingan awal. Ronaldo membubuhkan gol Ke-5 nya dalam kemenangan 6-0 atas Lecce. Beberapa saat setelah itu, tendon lutut kanannya sobek. Ia menjalani operasi setelah itu dan absen selama lima bulan. Hingga pada laga final Coppa Italia kontra Lazio, Ronaldo kembali ke lapangan. Nahas, baru tujuh menit merumput, cederanya kambuh dan membuatnya absen selama 521 hari.

Saat itu, rumor Ronaldo akan pensiun dini berhembus kencang. Tapi Ronaldo tak menyerah. Baginya sepakbola adalah hidup. Ia merasa lahir dan akan mati di lapangan. Maka, jika pensiun berarti hidupnya sudah selesai. Ia amat benci dengan saat-saat menunggu di perjalanan sebelum turun ke lapangan. Akan tetapi, perasaannya berubah 180 derajat menjadi kesenangan saat kakinya menginjak rumput segar dan bola ditendangnya menggetarkan jala lawan.

https://twitter.com/Football__Tweet/status/1257387267141832712

Bagi Ronaldo, mencetak gol rasanya seperti orgasme, tapi lebih nikmat. Ia kemudian melakukan segala upaya agar bisa kembali ke kehidupannya. Keliling dunia demi bisa pulih, lalu tepat kembali saat Piala Dunia 2002 akan digelar. Masalahnya, tiga tahun sebelum itu ia mengalami nasib sial di gelaran Piala Dunia 1998. Brasil masuk ke final menghadapi tuan rumah Prancis. Ronaldo sudah mengoleksi empat gol dan bersemangat menuju final pertamanya di gelaran akbar Piala Dunia.

BACA JUGA:  Persekap Pekalongan yang Malang

Sebelumnya saat masih berusia 17 tahun, ia hanya menghuni bangku cadangan saat Romario, Bebeto, Dunga dan kawan-kawan mempersembahkan gelar Ke-4 untuk Negeri Samba. Nasib malang menimpanya di hari pertandingan final. Ronaldo tiba-tiba sakit dan sempat mengalami kejang di tempat tidur. Dokter tetap mengizinkannya bermain tapi ia tampil buruk dan Brasil kalah telak 0-3 dari tuan rumah. Meski demikian, Ronaldo dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen.

Orang-orang menjulukinnya Il Fenomeno atau Si Fenomenal. Bakat Ronaldo sebagai pemain nomor 9 memang salah satu yang terbaik sepanjang masa. Pengaruhnya meluas ke berbagai penjuru dunia hingga melahirkan pemain-pemain hebat di generasi sekarang. Jika seseorang diminta menyebutkan striker terbaik di dunia, sudah barang pasti Ronaldo akan masuk dalam daftar.

Sebelum era Cristiano Ronaldo, Ronaldo Nazario adalah Ronaldo yang otentik. Tak jarang, para penikmat sepakbola menegaskan bahwa Ronaldo yang asli adalah Ronaldo Nazario. Sementara untuk Ronaldo dari Portugal, lebih baik menyebutnya dengan panggilan Cristiano.

Sejak kecil Ronaldo selalu berbekal percaya diri bahwa dirinya akan menjadi pesepakbola terbaik di dunia. Di Bento Riberio, kawasan tempat tinggal masa kecilnya, ia seperti anak-anak kebanyakan. Sebelum Piala Dunia digelar, ia akan pergi ke jalanan, memoles tembok-tembok bangunan di sekitar rumahnya dengan pernak-pernik Brasil dan sepakbola.

Perbedaannya dengan anak-anak lain cuma satu, yakni mimpi. Mimpi menjadi pesepakbola terbaik di dunia yang membuatnya begitu tenang di lapangan dan selalu dikelilingi kesenangan ketika menginjakkan kaki di arena, di mana ribuan orang antusias menunggu gol-golnya yang fenomenal.

Komentar