Jacksen F. Tiago: Gelimang Prestasi sebagai Pemain maupun Pelatih

Jacksen F Tiago

Jacksen F. Tiago dikenal sebagai legenda hidup Persebaya Surabaya. Hal itu karena dia berhasil meraih kejayaan sebagai pemain maupun pelatih ketika membela tim berjuluk Bajul Ijo tersebut.

Namun, Jacksen tidak langsung bermain bagi Persebaya ketika pertama kali tiba di Indonesia. Dia membela Petrokimia Putra Gresik saat mengawali kariernya sebagai pemain sepakbola profesional di Indonesia. Di klub ini, Jacksen tak bisa meraih juara lantaran kalah dari Persib Bandung 1-0 di final Liga Indonesia I yang jadi musim perdana digabungnya Perserikatan dengan Galatama di musim 1994/1995.

Selanjutnya dia pindah ke PSM Makassar sebelum dia akhirnya meraih kejayaan di musim 1996/1997 bersama Persebaya. Pada musim tersebut, Papinegro – sapaan akrab Jacksen F. Tiago – berhasil mengantarkan Persebaya menjadi juara sekaligus meraih prestasi sebagai pemain terbaik dan top skor Liga Indonesia III.

Setelah sempat ke Singapura hingga pensiun di Petrokimia, Jacksen kembali ke Persebaya sebagai pelatih pada musim 2003. Setelah musim sebelumnya terdegradasi, Green Force berhasil dibawa promosi pada 2003 dan meraih prestasi juara Divisi Utama semusim berikutnya, 2004.

Gelar tersebut menjadi menahbiskan dirinya sebagai sosok legenda di Persebaya. Kehadirannya kembali di Persebaya dinanti. Bonek masih memujanya ketika Jacksen kembali sebagai pelatih Barito Putera. Dia disambut bak pahlawan di Gelora Bung Tomo dalam perhelatan musim 2018 ini.

BACA JUGA:  Mencintai Real Madrid Seperti Alvaro Arbeloa

Puncak Prestasi sebagai Pelatih Bersama Persipura Jayapura

Setelah sempat bertualang sebagai pelatih bersama Persita Tangerang, Persiter Ternate, Mitra Kukar, dan Persitara Jakarta Utara, pada 2008 Jacksen memulai petualangan baru bersama Persipura. Di sini kemudian membentuk dirinya sebagai salah satu pelatih terbaik di Indonesia.

Perpaduan kecerdasan pelatih asal Brasil dengan talenta Mutiara Hitam membuahkan hasil luar biasa. Persipura berhasil meraih tiga gelar Liga Super Indonesia musim 2008/2009, 2010/2011, dan 2013. Sempat menciptakan mitos bahwa musim ganjil selalu dimenangi oleh Persipura.

Prestasi di Persipura tersebut sempat mengantarkan Jacksen menjadi pelatih Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Asia mulai Maret 2013. Tapi, kebersamaan keduanya tak lama dan pada November 2014 Jacksen dikontrak oleh Penang FA. Klub yang kemudian dia bawa promosi ke Liga Super Malaysia.

Program Tiga Musim Bersama Barito Putera

Jacksen sepertinya sudah begitu cinta dengan sepakbola Indonesia hingga dia tak bisa lama-lama pergi. Jelang musim 2017 dia kembali dan menerima tawaran Barito Putera.

BACA JUGA:  Tapak Tilas Prestasi dan Mulut Besar Romario

Kontrak berdurasi tiga musim ditandatangani. Sebelum resmi diumumkan, Jacksen juga sempat digosipkan akan menukangi Persebaya setelah klub ini hidup kembali dan bersiap berlaga di Liga 2 di bawah pengelolaan Azrul Ananda, putra Dahlan Iskan yang dikenal sukses mengelola olahraga basket dan sepeda.

Di Barito Putera, Jacksen punya tugas berat. Membawa kejayaan Banua seperti yang dia lakukan di Surabaya dan Jayapura. Tapi, manajemen Barito tahu bahwa prestasi tak bisa instan, oleh karenanya ada program tiga musim.

Musim pertama mulai membangun kerangka tim dan cukup finish di papan tengah. Musim 2017, Barito berakhir di peringkat 7. Jelang musim 2018, tak banyak yang berubah, pemain yang masuk hanya sesuai kebutuhan, seperti Samsul Arif.

Hingga pertandingan ke-18, Barito bertengger di peringkat ke-2. Musim ini mereka bersiap menjadi salah satu klub papan atas Indonesia dan musim depan, target juara dicanangkan.

Dengan waktu yang cukup dan manajemen yang baik, bukan tidak mungkin Jacksen F. Tiago bisa membawa Barito juara dan menjadi pelatih yang mampu membawa tiga klub berbeda menjadi juara.

 

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.