Jaga Manahan Kita

Jaga Manahan Kita

Pada Sabtu, 15 Februari 2020 kemarin, Presiden Joko Widodo meresmikan Stadion Manahan Solo yang sudah selesai direnovasi. Peresmian tersebut bersamaan dengan perayaan ulang tahun kota Solo yang ke-275 serta hari jadi kelompok suporter Pasoepati yang ke-20. Dalam peresmian itu, hadir pula Basuki Hadimuljono (Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), dan F.X. Hadi Rudyatmo selaku Walikota Solo.

Markas kebanggaan kesebelasan Liga 2, Persis, ini tampak semakin cantik. Dahulu, Stadion Manahan hanya memiliki atap di tribun barat atau VIP (Very Important Person), tapi sekarang semua sisi tribun sudah dihiasi atap. Hal menarik lain yang bisa dirasakan adalah keberadaan tempat duduk yang cukup nyaman untuk ukuran stadion di Indonesia. Stadion Manahan saat ini memang menerapkan bangku tunggal bagi para penonton. Setiap kursi bahkan telah diberi nomor atau kode tertentu. Artinya, tak ada lagi tribun penonton cor-coran.

Selain diterapkannya single seat, kode untuk tribun juga diubah sedemikian rupa. Dahulu, penamaan tribun masih menggunakan kode A, B, C. Namun kini sudah menggunakan istilah gate serta diimbuhi angka Romawi. Urutannya juga dimulai dari tribun VIP yang searah jarum jam. Sebagai contoh, kawan-kawan Surakartans yang dulu menempati tribun B6, kini menghuni Gate V.

Pada momen peresmian tersebut, Persis juga beruji tanding dengan tim Liga 1, Persib. Walau berakhir dengan kekalahan 0-2 dari tim Maung Bandung, tapi laga ini menjadi pelipur lara bagi seluruh pendukung Persis karena tim kesayangan mereka dapat bermain lagi di Stadion Manahan. Terakhir kali Laskar Sambernyawa merumput di sana adalah pertengahan tahun 2018 silam. Tatkala Stadion Manahan direnovasi, Persis terpaksa mengungsi ke kota Madiun, Jawa Timur, guna menjamu lawan-lawannya di Stadion Wilis.

BACA JUGA:  Desa, Warga, dan Sepakbola

Beberapa hari sebelum uji tanding digelar, ada sebuah kampanye yang digemakan khalayak tentang Jaga Manahan Kita. Isi dari kampanye tersebut adalah imbauan agar para suporter tetap berkelakuan baik saat berada di dalam maupun kawasan Stadion Manahan.

Maksud dari kampanye tersebut adalah menjadikan Stadion Manahan sebagai tempat yang ramah bagi semua pihak. Di sisi lain, keindahan dan kebersihan stadion yang berkapasitas 20 ribu itu juga tetap terjaga.

Jaga Manahan Bukan Hanya Tugas Suporter

Akan tetapi, ada hal yang perlu disadari bersama-sama. Kampanye Jaga Manahan tak boleh menyasar para suporter saja. Menjaga Stadion Manahan wajib dilakukan siapapun yang datang ke sana, entah buat menyaksikan pertandingan maupun berwisata. Ya, menjaga Manahan memang wajib dimaknai secara utuh dan menyeluruh.

Maksud dari utuh adalah perlunya kesadaran kolektif dari setiap pihak yang berkepentingan di Manahan untuk turut serta menjaga stadion berusia 22 tahun tersebut. Kesadaran itu lahir dari alasan yang dimiliki, mengapa datang ke sana dan apa tujuan datang ke sana.

Pemahaman bahwa yang datang ke Stadion Manahan tidak hanya diri kita sendiri, tapi juga puluhan ribu orang lainnya sepatutnya menumbuhkan perasaan sadar diri agar kita bisa menjaganya dengan baik.

Pemaknaan menyeluruh adalah manifestasi atas kesadaran bahwa yang berkepentingan di Stadion Manahan bukan hanya para suporter guna mendukung Persis atau tim lainnya.

Ada panitia penyelenggara, satuan keamanan, pengelola stadion, manajemen tim dan pihak-pihak terkait yang punya wewenang lebih terhadap stadion yang jadi salah satu venue untuk pagelaran Piala Dunia U-20 tahun 2021 nanti.

Wajar bila di kemudian hari, pengelola stadion menerapkan aturan bahwa para penonton yang menyesaki tribun Manahan dilarang merokok. Tujuannya sederhana saja, menghindari potensi kebakaran di stadion.

BACA JUGA:  Potensi Bangkitnya Persepakbolaan Pati

Maka ketika para stakeholder, setiap orang yang datang ke Stadion Manahan memiliki kesadaran akan perannya, mengetahui hak dan kewajibannya dengan baik, kampanye Jaga Manahan tak lebih dari pengingat semata.

Di pengujung laga melawan Persib kemarin, ada sekelompok suporter yang secara sukarela memungut sampah di tribun. Ketika kesadaran untuk menjaga Manahan sudah terpatri, hal ini pasti tidak terjadi. Pasalnya, semua orang sadar untuk tidak meninggalkan sampah ketika pertandingan usai. Toh, kantong-kantong plastik sudah disediakan di sudut-sudut dekat pintu masuk tribun.

Proses menjaga Stadion Manahan dengan baik memang tidak instan. Namun semuanya bisa berubah total manakala setiap orang mampu dan sadar akan perannya masing-masing.

Kitalah yang akan menjaga Stadion Manahan. Merekatkan, berangkulan sembari meresapi nyanyian kebanggaan kita semua, “Di sini semua berawal, di sini kita berbagi kesenangan.”

Karena Manahan ada untuk kita rayakan.

Komentar
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), bisa dihubungi melalui akun Twitter @addinhanifa.