Kartu Merah Gerrard Gagalkan Perubahan Sistem Rodgers

Liverpool menjamu Manchester United (MU) pada lanjutan Liga Primer Inggris. Duel ini disebut sebagai el-classico-nya Inggris, namun ironisnya yang diperebutkan “hanyalah” tiket lolos ke Liga Champions. Liverpool sempat terseok-seok di awal musim sebelum akhirnya Brendan Rodgers berpindah ke sistem tiga bek. Sedangkan Van Gaal akhirnya mampu menanamkan pemahaman filosofi sepak bolanya setelah meninggalkan pakem tiga bek.

Susunan pemain babak pertama Liverpool: (merah) vs Manchester United (putih)
Susunan pemain babak pertama Liverpool: (merah) vs Manchester United (putih)

Susunan pemain

Brendan Rodgers kembali mengandalkan formasi 3-4-2-1 nya dengan komposisi pemain yang sama dari laga melawan Swansea. Steven Gerrard masuk menggantikan Adam Lallana pada pergantian babak kedua, namun hanya bermain kurang dari satu menit setelah mendapat kartu merah akibat menginjak Herrerra.

Sementara Louis Van Gaal (LvG) juga mengandalkan formasi dan skuat yang sama dari pertandingan sebelumnya. Angel Di Maria yang telah terbebas dari hukuman berada di bangku cadangan. LvG lebih memilih memainkan kembali Juan Mata dibanding memberi tempat di tim inti bagi gelandang asal Argentina yang performanya sedang buruk beberapa waktu belakangan ini.

Rangkuman pertandingan

Kelemahan sistem tiga bek Rodgers akhirnya terlihat dan dieksploitasi dengan cerdas oleh Van Gaal pada babak pertama. Rodgers yang mencoba mengubah sistemnya pada babak kedua dengan memasukkan Gerrard tidak berhasil karena pemain kunci perubahan sistemnya justru diusir oleh wasit.

Menggunakan formasi 3-4-2-1, passing build-up Liverpool dari belakang berjalan cukup baik. Namun sistem ini hanya menyisakan dua gelandang di sentral permainan. Jumlah ini kalah dari trio gelandang MU yang diisi Michael Carrick, Ander Herrerra dan Marouane Fellaini. Alhasil terjadi pertarungan dua melawan tiga di lini tengah. United mampu unggul di lini tengah ini.

Ketika Liverpool menguasai bola, Herrerra dan Carrick dengan mudah menjaga Jordan Henderson dan Joe Allen sementara Fellaini melakukan pressing bersama Wayne Rooney, Ashley Young dan Juan Mata. Lini belakang Liverpool memang cukup nyaman dalam menghadapi pressing MU – terlebih Emre Can memiliki teknik yang bagus untuk mendistribusikan bola, namun yang menjadi masalah adalah ketika Setan Merah yang menguasai bola.

Henderson dan Allen harus melawan trio Carrick, Herrerra dan Fellaini. Hal ini menyebabkan seringnya pemain-pemain MU mendapatkan ruang bebas di antara gelandang dan bek Liverpool, terutama Herrerra dan Mata yang juga bergerak ke tengah. Adam Lallana dan Phillipe Coutinho menghadapi dilema berupa bebasnya Blind dan Valencia ketika berusaha untuk melakukan pressing ke tengah. Terlebih trio Carrick, Phil Jones dan Chris Smalling cukup tenang dan cekatan dalam memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lainnya.

BACA JUGA:  Menunggu Aksi Tiga Raksasa Terbuang di Europa League 2016/2017

Mata penampil terbaik

Tidak bisa dipungkiri bahwa Juan Mata adalah pemain terbaik pada pertandingan ini dengan dua gol yang dicetaknya. Mata selama ini dikenal sebagai playmaker yang menciptakan peluang bagi rekan-rekannya. Namun, yang terjadi pada pertandingan ini justru berbeda, tidak ada satupun peluang yang diciptakan oleh Mata. Justru dua peluang yang diciptakan oleh anak asuh Van Gaal mengarah ke Juan Mata.

Pada pertandingan ini Mata memposisikan dirinya lebih melebar dibandingkan saat melawan Spurs, dan bergerak menuju ke tengah ketika mendapat bola. Hal ini dilakukan untuk mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan Alberto Moreno ketika melakukan overlapping run. Dengan demikian maka perhatian Mamadou Sakho akan tertuju kepadanya dan menciptakan ruang di antara Allen dan Martin Skrtel yang cukup luas bagi Herrerra. Hal ini terlihat dari gol pertama yang dicetaknya.

Sumber : http://www.fourfourtwo.com/statszone/8-2014/matches/755595/player-stats/43670/1_PASS_99#tabs-wrapper-anchor
Sumber : http://www.fourfourtwo.com/statszone/8-2014/matches/755595/player-stats/43670/1_PASS_99#tabs-wrapper-anchor
Sumber : http://www.fourfourtwo.com/statszone/8-2014/matches/755595/player-stats/43670/1_PASS_07#tabs-wrapper-anchor
Sumber : http://www.fourfourtwo.com/statszone/8-2014/matches/755595/player-stats/43670/1_PASS_07#tabs-wrapper-anchor

Man-to-man marking Van Gaal mengisolasi anak asuh Rodgers

Van Gaal menerapkan metode man-to-man marking­ kepada anak asuh Rodgers terutama untuk area tengah dan penyerang. Antonio Valencia dan Daley Blind mengawasi pergerakan Moreno dan Raheem Sterling. Keduanya tidak tertarik untuk mengikuti Coutinho dan Lallana yang cenderung bergerak ke tengah. Jones dan Smalling memposisikan diri mereka sedekat mungkin dengan Lallana dan Coutinho. Sehingga begitu bola dialirkan ke kedua playmaker handal ini salah satu dari mereka akan langsung melakukan pressing sementara yang lain akan mengawasi pergerakan Daniel Sturridge.

Sumber : http://www.fourfourtwo.com/statszone/8-2014/matches/755595/player-stats/76359/OVERALL_04#tabs-wrapper-anchor
Sumber : http://www.fourfourtwo.com/statszone/8-2014/matches/755595/player-stats/76359/OVERALL_04#tabs-wrapper-anchor
sumber : http://www.fourfourtwo.com/statszone/8-2014/matches/755595/player-stats/55909/OVERALL_04#tabs-wrapper-anchor
sumber : http://www.fourfourtwo.com/statszone/8-2014/matches/755595/player-stats/55909/OVERALL_04#tabs-wrapper-anchor

Selain itu Van Gaal juga menginstruksikan anak asuhnya untuk memadatkan area tengah dan memaksa Liverpool menggunakan sisi-sisi lapangan untuk membangun serangan. Dengan metode ini para pemain MU dapat mengurung pemain Liverpool yang memegang bola – yang terjepit di sisi lapangan – dan mengambil kembali bola.

Skema bertahan Van Gaal
Skema bertahan Van Gaal

Perubahan yang gagal

Menyadari lini tengahnya kewalahan, Rodgers melakukan perubahan dengan menarik Lallana dan memasukkan Gerrard. Mulanya, Stevie ditempatkan sebagai regista di belakang Henderson dan Allen untuk menutup ruang antar lini yang berkali-kali di eksploitasi Herrera dan Mata. Selain itu masuknya Gerrard juga diharapkan dapat menarik perhatian Fellaini untuk menjaganya sehingga mengurangi intensitas pressing yang dilakukan MU terhadap Emre Can dan Sakho.

BACA JUGA:  Flick, Klopp, dan Problematika Penghargaan Terbaik
Susunan pemain di babak kedua
Susunan pemain di babak kedua

Namun, Gerrard justru diusir oleh wasit setelah hanya bermain kurang dari satu menit. Hal ini membuat Liverpool harus bermain dengan sepuluh pemain. Tentu saja hal ini berakibat hilangnya koordinasi antara penjagaan dan pressing terhadap pemain lawan. Terlihat dari gol kedua Juan Mata di mana dia dengan cerdik menemukan ruang yang ditinggalkan Moreno – yang perhatiannya tertarik untuk melakukan pressing terhadapnya – setelah melakukan kombinasi umpan 1-2 dengan Di Maria.

Liverpool balik menekan

Mungkin Liverpool terinspirasi oleh kesuksesan PSG menahan imbang Chelsea setelah wasit mengusir Ibrahimovich. Liverpool nampak tetap bersemangat dan percaya diri dalam membangun serangan. Moreno dan Emre Can yang bergeser ke posisi bek sayap bergerak sangat maju. Begitu pula dengan Sakho dan Skrtel yang naik hingga garis tengah. Hal ini dimaksudkan untuk memadatkan area permainan sehingga ketika Henderson dkk kehilangan bola mereka dapat dengan segera melakukan pressing.

Menghadapi situasi ini Van Gaal memasukkan Di Maria yang lebih segar menggantikan Young untuk mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan Emre Can. Namun, Rodgers tidak bergeming dan justru memasukkan Balotelli menggantikan Moreno dan menggeser Sterling ke posisi bek sayap kiri. Dengan masuknya Balotelli maka bek MU mau tidak mau harus menghadapi situasi 2 vs 2 di areanya sehingga menyulitkan mereka untuk berkordinasi antara siapa yang menjaga lawan dan siapa yang melakukan covering. Hal ini cukup ampuh dan menghasilkan gol yang dicetak Daniel Sturridge selang 2 menit setelah masuknya Balotelli. Tetapi hal ini justru mengakibatkan proteksi ke area pertahanan semakin berkurang. MU nyaris saja memperbesar skor setelah Emre Can melanggar Blind yang dapat bergerak bebas masuk ke kotak penalti, namun eksekusi penalti Wayne Rooney sukses dimentahkan Mignolet.

Kemenangan ini tentu saja menambah kepercayaan diri Wayne Rooney dkk untuk merebut tiket lolos ke Liga Champions musim depan. Terlebih kemenangan ini didapat di hadapan pendukung Liverpool yang notabene merupakan musuh bebuyutan sekaligus pesaing mereka dalam memperebutkan tiket ke Liga Champions.

Komentar