Kemenangan Bersejarah Kaiserslautern pada Bundesliga 1997/1998

Keberadaan Leicester City di puncak klasemen Liga Inggris saat ini tentu merupakan suatu kejutan yang tak pernah dibayangkan bisa terjadi menjelang musim 2015/2016 diigulirkan. Klub yang musim lalu hanya mampu bertengger di posisi ke-14 tersebut kini menuai puja-puji dari banyak kalangan. Claudio Ranieri sukses meramu tim yang diisi pemain-pemain yang jauh dari perhatian publik pada awal musim.

Kisah heroik semacam ini juga pernah menghiasi Bundesliga, tepatnya pada musim 1997/1998. Sebuah klub yang baru saja promosi ke Bundesliga berhasil menjadi juara pada akhir musim. Klub tersebut adalah Kaiserslautern. Hal itu untuk pertama kalinya terjadi dalam sejarah Bundesliga dan hingga saat ini belum ada lagi klub yang mampu mengulangi kisah manis Kaiserslautern.

Red Devils (julukan Kaiserslautern) sesungguhnya bukan nama asing di perhelatan sepak bola Jerman. Mereka merupakan salah satu dari 16 klub yang turut meramaikan Bundesliga pada saat pertama kali kompetisi tersebut digelar.

Sebelum era Bundesliga, Kaiserslautern sempat mengecap dua titel juara Jerman pada tahun 1951 dan 1953. Pemain paling tersohor mereka pada era tersebut tak lain adalah Fritz Walter yang merupakan bagian penting dari skuat Jerman Barat kala menjuarai Piala Dunia 1954.

Sedangkan di Bundesliga, sebelum merebut gelar juara di tahun 1998, mereka sempat meraihnya sekali di tahun 1991. Namun sayang pada tahun 1996, Kaiserslautern terdegradasi. Setahun berada di Bundesliga 2, Red Devils kembali ke Bundesliga dan bukan hanya kembali untuk sekadar bertahan, lebih dari itu mereka menciptakan sejarah.

Perjalanan Kaiserslautern pada musim tersebut dimulai dengan bertandang ke Olympiastadion, kandang FC Bayern München. Kaiserslautern membuat kejutan dengan mengalahkan Bayern 1-0 melalui gol yang dibuat pemain asal Denmark, Michael Schjønberg pada menit ke-80.

Perlahan tapi pasti Kaiserslautern berhasil memuncaki klasemen Bundesliga pada pekan ke-4. Sejak saat itu mereka tak tergoyahkan dari puncak klasemen dan berhasil menjuarai Bundesliga dengan selisih dua poin dari Bayern München. Bayern sendiri harus mengakui kehebatan Kaiserslautern setelah mengalami dua kali kekalahan dari Red Devils pada musim 1997/1998.

BACA JUGA:  Dendam yang Hampir Merenggut Nyawa Maradona

Keberhasilan Kaiserslautern tentu tak terlepas dari kehebatan sang pelatih, Otto Rehhagel. Pelatih yang satu ini memang lumayan sering kebagian menangani tim yang biasa-biasa saja dan kemudian menghasilkan sederet kesuksesan yang luar biasa.

Pada tahun 1980, ia membawa Fortuna Düsseldorf menjadi juara Piala Jerman. Selanjutnya, hingga medio 1990-an, ia memimpin Werder Bremen menantang dominasi FC Bayern dan berhasil menjuarai Bundesliga pada dua kesempatan, 1988 dan 1993.

Bukan hanya itu, di bawah asuhannya, Bremen juga mampu meraih gelar juara Piala Jerman pada tahun 1991 dan 1994 serta mengecap kesuksesan di European Cup Winners’ Cup tahun 1992 setelah menaklukkan AS Monaco yang ketika itu diasuh Arsene Wenger.

Selain itu, sukses fenomenal lainnya yang dibukukan King Otto adalah ketika berhasil membawa Yunani menjuarai Piala Eropa 2004.

Sebelum menangani Kaiserslautern, Otto Rehhagel sempat didapuk menjadi pelatih Bayern. Namun ia hanya bertahan sebelas bulan di klub tersebut. Ia tidak mampu membawa Bayern berprestasi di Bundesliga. Dan meskipun berhasil membawa Bayern ke final Piala UEFA, ia akhirnya didepak hanya empat hari sebelum final digelar. Franz Beckenbauer mengambil alih posisinya.

Kaiserslautern kemudian mengontraknya untuk menjadi pelatih kepala menjalani musim di Bundesliga 2. Mereka tampil sangat baik sepanjang musim dan tetap mendapat dukungan penuh dari para fan. Bahkan rata-rata jumlah penonton mereka yaitu sebesar 36,709 meningkat dibandingkan dengan musim sebelumnya.

Kemenangan demi kemenangan mereka raih di Bundesliga 2 hingga akhirnya tampil sebagai juara. Schjønberg mengenang, “Kedengarannya mungkin bodoh, tapi semua kemenangan di Bundesliga 2 menolong kami memiliki spirit sebagai pemenang.”

Memasuki musim bersejarah 1997/1998, tambahan amunisi Kaiserslautern yang paling berharga adalah Ciriaco Sforza. Pemain Swiss ini didatangkan dari Internazionale Milano dan menjadi jenderal lapangan tengah Kaiserslautern.

Selain Sforza, Kaiserslautern mendatangkan sejumlah nama lainnya seperti Michael Ballack, Marian Hristov dan Andreas Buck. Ballack yang kala itu masih berusia 21 tahun turut berkontribusi pada 16 pertandingan Bundesliga yang dilakoni Red Devils pada musim 1997/1998.

BACA JUGA:  Jadilah Bintang, Youssoufa Moukoko!

Di lini belakang, Kaiserslautern memiliki beberapa pemain pilar seperti kiper Andreas Reinke dan sejumlah bek antara lain Miroslav Kadlec, Harry Koch, Axel Roos, Schjønberg serta pemain veteran sekaligus pemenang Piala Dunia 1990, Andreas Brehme.

Sedangkan di depan, Olaf Marschall menjadi penyerang andalan Kaiserslautern dan mencetak 21 gol dalam 24 pertandingan pada musim bersejarah tersebut. Jurgen Rische, striker Red Devils lainnya turut menambahkan 11 gol.

Marschall mengatakan bahwa Kaiserslautern bermain dengan semangat pantang menyerah di setiap laga. “Semua orang turut membantu pertahanan, termasuk penyerang. Kami akan segera mengejar bola sesaat setelah kami kehilangannya.”

Resep yang cukup sederhana tersebut menjadi salah satu bahan dasar bagi Kaiserslautern untuk mencatatkan 19 kemenangan, 11 kali imbang dan hanya menderita 4 kekalahan di sepanjang musim.

Semangat pantang menyerah Kaiserslautern memang layak diacungi jempol. Ini salah satu buktinya. Dari 19 kemenangan yang mereka hasilkan, 10 di antaranya diraih dengan hanya selisih 1 gol saja. Dan delapan di antara sepuluh kemenangan tipis itu ditorehkan melalui gol pamungkas yang mereka ciptakan pada menit 75-90.

Begitu pun ketika mereka bermain imbang, tujuh kali mereka mendapatkan hasil tersebut setelah lebih dulu tertinggal dari lawan-lawannya.

Sayangnya setelah musim 1997/1998, performa Kaiserslautern terus menurun dan saat ini masih berkutat di Bundesliga 2. Namun bagaimanapun juga, kisah mereka pada musim 1997/1998 sudah masuk ke dalam catatan sejarah sepak bola Jerman sebagai sebuah rekor yang sepertinya akan sangat sulit untuk dipatahkan.

Walau sulit tapi tentu saja penggemar sepak bola di mana pun berada selalu excited tiap kali kisah heroik seperti ini terjadi. Tidak percaya? Tanyakan saja pada fans Leicester City. Atau fans Yunani.

 

Komentar
Penggemar FC Bayern sejak mereka belum menjadi treble winners. Penulis buku Bayern, Kami Adalah Kami. Bram bisa disapa melalui akun twitter @brammykidz