Ketika Perguruan Silat Berdamai dalam Kesamaan Identitas Suporter Sepak Bola

Sebelum fanatisme pada olah raga bernama sepak bola berkembang di berbagai kota, terdapatlah fanatisme yang militan pada pencak silat di Kota Madiun dan sekitarnya. Pencak silat, olah raga asal Indonesia, bukan hanya menjadi olah raga an sich di Madiun, namun lebih dari itu, pencak silat berkembang menjadi identitas anak muda di Kota Madiun.

Di kota ini lebih mudah kita jumpai anak muda yang mengenakan kaos bergambar perguruan silat tertentu daripada anak muda yang mengenakan atribut klub sepak bola. Gapura dan tugu yang menjadi penanda dari sebuah perguruan silat dengan mudah dijumpai di pinggir jalan, mulai dari jalan nasional sampai jalan-jalan kampung. Peringatannya adalah, jika Anda ke Madiun, jangan sekali–kali melakukan vandalisme pada gapura dan tugu yang menjadi monumen khas di Kota Madiun ini, karena hal tersebut bisa memicu konflik.

Kala saya menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah atas (SMA) di SMA Negeri 3 Madiun pada tahun 1995 s/d 1998, dalam ingatan saya, arak–arakan pawai peringatan Hari Kemerdekaan pada bulan Agustus selalu menjadi sebuah arena pertarungan (site of struggle) antarperguruan silat untuk memperlihatkan eksistensi kekuasaannya. Berangkat dari Stadion Wilis yang masa itu belum mengalami renovasi, rombongan pawai dari berbagai perguruan silat membentuk arak–arakan yang mengalir di jalan protokol yang melintasi kota Madiun. Kebanyakan rombongan tersebut mengenakan atribut seragam berwarna hitam, yang membedakan adalah logo asal perguruan yang tersemat di dada dan kain sabuk yang terikat di pinggang.

Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo yang berdiri sejak tahun 1903 dan Persaudaraan Setia Hati Terate yang berdiri sejak tahun 1922 adalah dua perguruan silat yang memiliki basis pengikut kuat di Madiun. Selain keduanya, masih ada beberapa perguruan silat lain yang berpusat di Madiun, namun secara umum keduanya adalah dua persaudaraan silat yang memiliki relasi menarik. Keduanya memiliki nama yang mirip karena relasi historis yang melekat di antara keduanya. Keduanya memiliki warna kebesaran hitam dengan sabuk kain yang berbeda. Yang pertama dikenal dengan sabuk berwarna kuning dan yang kedua dengan sabuk berwarna putih.

BACA JUGA:  Quo Vadis Against Modern Football?

Bulan Suro, bulan yang dihormati masyarakat Jawa dalam sistem penanggalan Jawa, menjadi bagian penting dalam kultur keduanya. Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo secara rutin mengadakan peringatan Suran Agung pada bulan ini, sedangkan Persaudaraan Setia Hati Terate secara rutin melakukan pengesahan warga baru pada hari pertama bulan ini. Keduanya dipusatkan di Madiun, sehingga pengikut keduanya akan membanjiri Kota Madiun. Untuk mengantisipasi terjadinya benturan, aparat keamanan melakukan penjagaan di berbagai titik di pusat kota dan pintu masuk kota Madiun. Mungkin inilah satu–satunya derby dalam cabang olah raga pencak silat di dunia. Dilihat dari tahun berdirinya, derby kedua perguruan silat ini juga lebih tua dari derby klub sepak bola manapun di Indonesia.

Di tingkat elit, petinggi kedua perguruan silat ini berusaha membangun komitmen bersama, namun dalam beberapa kasus, di tingkat akar rumput bentrokan masih terjadi. Anda yang belum pernah berkunjung ke Madiun, bisa melihat bentrokan keduanya di Youtube. Beberapa narasumber yang saya hubungi ketika menyusun tulisan ini menyebutkan bahwa kini, suasana di kota Madiun relatif jauh lebih kondusif dibandingkan dengan era dekade 1990-an. Justru konflik terjadi di daerah–daerah di luar kota Madiun. Mereka menyebutkan bahwa anak muda di Kota Madiun kini relatif lebih dewasa bersikap.

Bersua dalam The Mad Mania

Tanggal 15 Agustus 2014, Madiun Putra Football Club (MPFC), klub sepak bola asal Kota Madiun yang berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia bertanding melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Sekitar 150 suporter MPFC yang dikenal dengan The Mad Mania datang ke Sleman mendampingi MPFC. Sebelum pertandingan, saya menjumpai dan menyalami mereka. Walaupun kini bermukim di Yogyakarta, bagaimanapun juga saya memiliki ikatan historis dengan Madiun karena saya lahir dan besar di Madiun.

Berbincang dengan capo The Mad Mania, Ridwan Efendi, yang akrab dengan panggilan Cak Gepeng, saya mendapatkan informasi menarik. Cak Gepeng bercerita bahwa dalam pertandingan kandang MPFC yang dihelat sebelum pertandingan tandang ke Sleman, The Mad Mania mengibarkan dua bendera besar dalam koreografi yang dibuat di tribun timur Stadion Wilis.

BACA JUGA:  Kejujuran dan Persaudaraan dalam Sepak Bola Jerman

Cerita yang menarik adalah, dua bendera besar tersebut bergambar lambang Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo dan Persaudaraan Setia Hati Terate. Saya sempat tertegun dengan cerita tersebut. Sebelum sempat hilang ketertegunan saya, Cak Gepeng melanjutkan cerita bahwa melalui The Mad Mania, warga dari kedua perguruan silat tersebut bisa berdamai sampai tingkat akar rumput. Menurutnya, visi dan misi The Mad Mania pada awal didirikan adalah agar bisa merangkul semua kalangan, terlebih konflik warga perguruan silat selama ini terkesan menakutkan.

Awalnya, ketika The Mad Mania baru tumbuh berkembang, prasangka antarwarga kedua perguruan silat masih terbawa ke tribun Stadion Wilis. Saya sempat menyaksikan pertandingan MPFC pada turnamen Piala KONI Jawa Timur tahun 2010. Di tribun Stadion Wilis, suporter MPFC yang baru tumbuh berkembang terlihat masih membawa fanatisme berlatar belakang perguruan silat. Walaupun tidak terjadi bentrokan dalam skala besar, fanatisme tersebut terlihat masih mengemuka. Dari bisik–bisik yang saya dengar, sebagian suporter yang berada di tribun masih mempersoalkan asal perguruan silat antarsesama suporter.

Lima tahun kemudian, di halaman sisi timur Stadion Maguwoharjo sebelum pertandingan MPFC melawan PSS Sleman, Cak Gepeng berkata bahwa dalam pertandingan dengan PSS Sleman, kedua bendera besar akan kembali dibentangkan oleh The Mad Mania. Apa yang dijanjikan Gepeng benar–benar terjadi. Menempati tribun timur Stadion Maguwoharjo, The Mad Mania membentangkan bendera berwarna kuning dengan angka 1903 dan bendera berwarna putih dengan angka 1922 di bagian atas masing–masing bendera. Angka-angka tersebut merujuk pada tahun pendirian kedua perguruan silat terbesar di kota Madiun. Dibentangkan dalam posisi berdampingan, pemandangan tersebut menjadi sesuatu yang menakjubkan bagi saya yang melalui masa remaja di kota Madiun. Melalui The Mad Mania, anak muda di kota Madiun menemukan jembatan yang bisa melintasi hambatan identitas kultural.

Hormat kepada Cak Gepeng dan anak-anak muda di Madiun lainnya yang sukses membentangkan perdamaian dua perguruan silat sampai tingkat akar rumput melalui The Mad Mania.

 

Komentar
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.