Ketika Waktu Memburu Manchester United

Pelatih yang disegani, para pemain saling berlomba untuk kontribusi, gelar juara datang tanpa henti. Nama besar Manchester United yang disandang, berbanding lurus dengan prestasi yang datang. Setiap klub lawan yang melangkah menuju Theatre of Dreams, hanya punya dua opsi dalam pikiran mereka. Menahan imbang tuan rumah (yang dianggap sebagai sebuah prestasi) atau pulang dengan tangan hampa.

Riuh rendah suporter menyanyikan chant kebanggaan mereka, terutama pada lirik we’ll keep the red flags flying high. Si Setan Merah memburu waktu untuk menjadi yang terbaik di dunia.

Romansa yang indah dan berlangsung sekian lama, kini seolah sirna. Setelah Sir Alex Ferguson menyatakan pensiun, United bak kapal limbung yang kesulitan menemukan nakhoda hebat di balik kemudi. David Moyes, Louis Van Gaal sampai Jose Mourinho, tak jua mampu meneruskan kiprah Opa Fergie.

Ketiganya seakan terbelenggu hegemoni lelaki tua Skotlandia itu yang belum juga lepas dari pembicaraan suporter fanatik United di manapun berada. Saat Moyes, van Gaal dan Mourinho dianggap gagal, manajemen coba menempuh cara lain yang diharapkan bisa mengubah peruntungan.

Ryan Giggs pernah mengisi pos pelatih kendati hanya berlabel caretaker dan kini, giliran Ole Gunnar Solskjaer yang memikul tanggung jawab tersebut sebagai manajer permanen. Apesnya, performa kubu Setan Merah masih jauh dari kata paripurna. Bersama Solskjaer, United bisa menggila di satu laga melawan tim papan atas, tapi amburadul di laga berikutnya saat jumpa klub papan bawah.

Komposisi pemain pun setali tiga uang dengan permasalahan pelatih. Nama-nama besar seperti David De Gea, Juan Mata, dan Paul Pogba, nyatanya belum memberi kontribusi segemerlap nama mereka. Makin menyedihkan, manajemen tetap betah menyaksikan sosok semisal Phil Jones, Luke Shaw, dan Ashley Young ada di tubuh tim.

BACA JUGA:  Juventus Women Membidik Italia dan Eropa

Ketika beraksi di lapangan, bukan aksi-aksi individu atau kerja sama tim nan ciamik yang sering dipertontonkan, melainkan kebingungan yang komikal. Alih-alih piawai membuat jala kubu lawan bergetar hebat, United justru payah dalam melindungi De Gea dari eksploitasi lawan.

Gara-gara penampilan naik turun yang United suguhkan, prestasi yang dahulu rajin menyambangi Stadion Old Trafford kini malas untuk sekadar menyapa. Praktis, dalam kurun lima musim pamungkas hanya ada tiga gelar yang dikecup para penggawa United. Masing-masing sebiji Piala FA, Piala Liga, dan Liga Europa.

Mereka tertinggal dari para pesaing seperti Chelsea dan Manchester City yang di periode tersebut, rajin memeluk piala. Kecemasan United makin terlihat usai sang rival berat, Liverpool, memperlihatkan kebangkitan dalam rentang beberapa musim terakhir. Alhasil, sekarang fans United lebih banyak menghabiskan waktu untuk saling ejek dengan pendukung Arsenal dan Tottenham Hotspur yang sama-sama berpenampilan semenjana.

Di kompetisi Liga Primer Inggris musim ini, Pogba dan kawan-kawan masih gemar mengitari papan tengah. Membuat mereka lebih akrab dengan Bournemouth, Crystal Palace maupun West Ham United. Menyodok ke papan atas ternyata sulit dilakukan.

Beruntung, United masih memperlihatkan sesuatu yang melecut harap di Liga Europa. Kemenangan atas Partizan Belgrade dini hari tadi (8/11) dengan skor cukup telak 3-0, memperlebar kans mereka buat lolos ke fase gugur lantaran masih nyaman duduk di puncak klasemen Grup L.

Hegemoni United di bawah Ferguson memang tiada tanding. Sayangnya, hal itu membuat mereka lupa bahwa era kejayaan selalu punya titik henti. Lebih sial lagi, mengulangi momen serupa punya level kesulitan tingkat tinggi.

Entah apa yang saat ini bergemuruh di dada pendukung United. Barangkali ada rasa gemas, sesal, dan juga sedih di situ. Namun semuanya masih luruh di hadapan perasaan setia. Peduli setan bahwa ada yang mengaku tak lagi mendukung United dan lebih memilih Liverpool sebagai tim jagoannya yang baru saat diwawancarai.

BACA JUGA:  Rangnick dan Siklus dalam Sepakbola

Satu hal yang pasti dan wajib dilakukan oleh manajemen yaitu berbenah. Lirik lagu Freddie Mercury tentu bisa menjadi pengingat bagi petinggi klub: Time waits for nobody. We all must plan our hopes together and we’ll have no more future at all.

United harus ingat bahwa waktu takkan menunggu siapapun. Sebaliknya, waktu adalah pemburu paling beringas. Jika gagal melakukannya secara cepat, waktu bakal semakin dalam menenggelamkan mereka di jurang nestapa.

 

 

Komentar
Juventini sejati yang tinggal di kota gudeg berhati nyaman. Senang diajak ngobrol tentang sepakbola, otomotif, dan ilmu pengetahuan. Dapat disapa di akun Twitter @IgnatiusAryono