Leeds United, Liverpool dan Kebencian terhadap Manchester United

Ada warna baru sekaligus lama yang muncul di gelaran Liga Primer Inggris musim 2020/2021. Salah satu kesebelasan top di awal 2000-an, Leeds United, akhirnya kembali usai lama berkubang (16 musim) di Divisi Championship. Tak hanya suporter mereka yang gembira bukan kepalang, para penggemar Liga Primer Inggris pun begitu, kecuali fans Manchester United.

Di tengah pandemi Corona yang melanda planet Bumi, Leeds besutan Marcelo Bielsa tampil memesona guna mengamankan tiket promosi. Berlaga 46 kali, Luke Ayling dan kawan-kawan berhasil memenangkan 28 laga dan masing-masing imbang serta kalah dalam 9 partai. Koleksi 93 poin yang mereka dapat pun mengantar The Whites nangkring di puncak klasemen Divisi Championship dan beroleh status juara. Bak manusia pilihan, Bielsa sukses membangkitkan ruh Leeds yang lama tersegel.

Aksi memukau yang Leeds perlihatkan musim lalu bikin orang-orang penasaran dengan kiprah mereka di kasta teratas. Namun di luar itu, kembalinya Leeds juga memanaskan lagi persaingan dengan United, tim yang amat dibenci oleh suporter The Whites.

Maka tak perlu kaget jika pertandingan antara Leeds kontra United di musim 2020/2021 akan sangat intens, baik yang terjadi di Stadion Elland Road maupun Stadion Old Trafford. Tak sekadar duel 22 pemain lapangan atau perang taktik dari Bielsa dan Ole Gunnar Solskjaer, tapi juga saling ledek di antara kedua suporter fanatik.

Walau level mereka belum setara dan mungkin hanya menargetkan sintas di Liga Primer Inggris, tapi mengincar kemenangan dari The Red Devils pasti ada di dalam kantong ambisi The Whites.

Bara Abadi dari Liverpool

Sebelum musim 2019/2020, Liverpool acap diledek oleh suporter United sebagai tim lemah karena tak kunjung merasakan nikmatnya gelar Liga Primer Inggris. Ya, terakhir kali The Reds merajai Inggris, status kompetisi belum berubah ke era Liga Primer.

BACA JUGA:  Sepenggal Cerita Kompetisi Perserikatan Tahun 1931 (Bagian Pertama)

Akan tetapi, semuanya gugur di musim lalu. Kehadiran Jurgen Klopp sebagai nakhoda mengubah peruntungan klub yang berkandang di Stadion Anfield tersebut. Pelan tapi pasti, gelar demi gelar sanggup dipeluk. Dari Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, sampai Liga Primer Inggris.

Itu semua laksana jawaban paten untuk membungkam United beserta fansnya yang teramat berisik. Apalagi dalam kurun beberapa musim pamungkas, merekalah yang konsisten tampil semenjana. Jangankan berburu gelar juara, sekadar memperebutkan tiket lolos ke ajang antarklub Eropa pun acap tertatih-tatih.

Liverpool pun pantas menepuk dada dan mengklaim sebagai klub nomor satu di Inggris saat ini. Meski perjalanan mereka di musim 2020/2021 belum tentu semulus musim kemarin, tapi Roberto Firmino dan kawan-kawan bakal maju sebagai unggulan sekali lagi guna mempertahankan gelarnya.

Keberhasilan The Reds dalam memanen trofi beberapa musim terakhir pasti bikin mereka ogah dipantati United seperti dahulu. Diakui atau tidak, momentum memang tengah berpihak kepada anak asuh Klopp. Guna mendekatkan diri pada trofi, maka salah satu hal yang kudu Liverpool lakukan adalah membekap United saat bertemu secara langsung. Entah di kandang atau justru saat bertandang.

Derbi Panas dengan Berbagai Latarbelakang

Partai Leeds kontra United bertajuk Roses Rivalry yang merujuk pada War of Roses, sebuah perang legendaris dari dua bangsawan yakni House of Lancaster (Manchester) dengan simbol mawar merah dan House of York (Yorkshire/Leeds) dengan simbol mawar putih. Sebuah perang perebutan pengaruh dan kekuasaan dalam dinamika sejarah Kerajaan Inggris.

Tidak hanya itu, perseteruan mereka juga dilatarbelakangi bisnis. Baik Leeds maupun Manchester jadi kota ang bersaing dalam memperebutkan pasar bahan dasar benang. Mulanya, Leeds adalah pusat industri wol tradisional besar di Inggris, tetapi selama abad ke-18 sampai ke-19, Manchester hadir dengan industri kapasnya yang pelan-pelan menggerus industri wol. Ketegangan dua kota ini semakin memanas dan memengaruhi kancah sepakbola.

BACA JUGA:  Dia, Thomas Tuchel

Lama terpisah akibat perbedaan kasta, tensi panas senantiasa muncul kala lahir kesempatan bertempur. Momen kontemporer yang mudah diingat terjadi pada Piala FA 2009/2010 dan Piala Liga 2010/2011. Di ajang pertama, The Whites sukses memetik kemenangan 1-0 di Stadion Old Trafford. Begitu ada kesempatan membalas karena berjumpa lagi di ajang yang disebut belakangan, The Red Devils tak menyia-nyiakan kesempatan dan menggunduli sang lawan via skor 3-0.

Sementara laga Liverpool versus United yang dilabeli sebagai North West Derby juga sangat panas. Seperti dengan Leeds, perseteruan Liverpool dan United juga dilatarbelakangi faktor ekonomi dan politik. Di mana pada abad ke-18, Liverpool dan Manchester sama-sama bertransformasi menjadi kota industri yang berpengaruh di Inggris. Liverpool dengan pelabuhannya, sementara Manchester dengan industri kapasnya.

Kebijakan politik dari kedua kota ini telah meningkatkan tensi konflik. Pemerintah kota Liverpool membuat kebijakan terkait pelabuhan yang dianggap merugikan industri di kota Manchester. Sebaliknya, kebijakan dari Pemerintah kota Manchester juga dirasa merugikan untuk pelabuhan Liverpool.

Puncaknya terjadi saat pekerja pelabuhan Liverpool mogok dan hal tersebut mengakibatkan industri kapas di Manchester tak berkutik dan membuat banyak pekerja di industri kapas yang diberhentikan. Dua kaum pekerja dari sepasang kota industri berbeda itu pun terlibat ketegangan dan memengaruhi perjumpaan The Reds dan The Red Devils di lapangan.

Leeds dan Liverpool selalu menggenggam api kebencian terhadap United. Bisa dipastikan bahwa perjumpaan mereka di musim 2020/2021 dan musim-musim selanjutnya di Liga Primer Inggris, akan berjalan sengit. Persaingan mereka di kancah sepakbola akan tetap memunculkan memori bahwa semua itu muncul akibat faktor ekonomi, politik dan kekuasaan di masa lampau.

Komentar
Penggemar Liverpool yang terbiasa dengan kesendirian. Bisa disapa di akun Twitter @senjamelawan