Liga Italia dan Kaki-Kaki yang Renta

Tidak ada yang bisa menahan waktu. Bahkan oleh kaki-kaki sebagai impuls dari hasrat dan keinginan untuk selalu menyepak bola sekalipun.

Bagi seorang atlet, pesepak bola khususnya, waktu begitu cepat dan singkat. Ketika usia sudah memasuki 30-an, para pesepak bola seolah sedang melihat senja yang akan tenggelam di ufuk barat sebagai refleksi dirinya sendiri.

Sebesar apa pun keinginan untuk terus bermain, kaki-kaki itu akan goyah dan tak mampu lagi menopang tubuh yang mulai renta. Dan pada saat itulah mereka harus mengakhiri semuanya atau mengulang lagi semuanya sedari awal.

****

Serie A Italia yang seringkali diidentikkan sebagai liga para pemain veteran. Pada musim ini memiliki beberapa kisah menarik menyangkut kiprah para pemain uzur pada musim yang baru saja usai.

Beberapa di antaranya masih berusaha berkompromi untuk melawan waktu dengan berupaya menahannya dengan suguhan kisah indah pada musim ini yang barangkali bisa jadikan cerita buat anak cucu mereka kelak.

Waktu mungkin berderak agak lambat bagi seorang kiper. Gianluigi Buffon, dengan usia yang sudah tidak lagi muda, 38, berhasil mencatat rekor 973 menit tanpa kebobolan di Seri A sekaligus sebagai inspirator atas Scudetto ke-5 Juventus dalam 5 tahun terakhir.

Atau cerita dari Toscana ketika penjaga gawang Empoli, Maurizio Pugliesi, 39 tahun, yang dinobatkan menjadi debutan tertua di Seri A memecahkan rekor sebelumnya yang  dimiliki pemain Lazio, Amilcar Barbuy, pada tahun 1931 silam.

Beberapa pemain uzur lainnya menyadari bahwa waktunya telah sampai dan sudah saatnya mengakhiri perjalanan. Dari Milan, Cristian Abbiati, 38, berharap ada suatu hal yang bisa dikenang pada partai pamungkasnya di Serie A Italia saat AC. Milan menyambut tamunya A S Roma, Sabtu (14/5).

BACA JUGA:  Jika Liga di Eropa adalah Makanan

Setelah 15 tahun pengabdiannya di Milan dengan 2 tahun terakhir duduk sebagai penghangat bangku cadangan sudah sepatutnya ia mengharapkan sesuatu yang lebih.

Saya mengharapkan sesuatu yang lebih emosional, tetapi saya menyimpannya di dalam hati saja. Saya berterima kasih kepada fans, klub, presiden [Silvio] Berlusconi, dan [CEO] Adriano Galliani atas momen-momen indah yang saya nikmati di sini,”  ucap Abbiati seusai laga.

Luca Toni, 38 tahun, barangkali menjadi ironi lain Kota Verona selain kisah cinta Romeo Juliette karya William Shakespeare. Toni membukukan 48 gol selama 3 musimnya di Verona, termasuk menjadi capocannonieri  tertua di Seri A musim lalu.

Namun yang membuat ia sedih –seperti yang ia tampakkan di laga terakhirnya di Marc Antonio Bentegodi kontra Juventus pada pekan ke 37 Serie A– adalah keputusannya untuk pensiun dari sepak bola profesional  pada akhir musim ini. Luka Luca Toni tampak kian pedih lantaran tak mampu menyelamatkan Hellas Verona dari jurang degradasi.

Dua ikon klub, Antonio Di Natale, 38 tahun, di Udinese dan Francesco Totti, 39 tahun, di AS Roma memang belum memutuskan apakah akan terus bermain atau berhenti.

Tapi yang jelas, musim depan Antonio Di Natale tidak akan bermain untuk Udinese seiring kontraknya yang sudah habis. Ia pun sudah menyampaikan salam perpisahan pada laga terakhirnya saat Udinese takluk 2-1 dari Carpi (15/5/2016).

Saya akan memutuskan soal masa depan usai liburan. Saya ingin diberi waktu untuk berpikir. Saya punya hubungan luar biasa dengan Udine. Udine sudah memberi banyak hal untuk saya. Saya merasa tersanjung dengan cara kota ini memperlakukan saya dan saya sangat senang di sini,” ujar Antonio di Natale yang sudah menghabiskan 12 tahun di Udine dengan membukukan 227 dari 400 penampilan di seluruh kompetisi.

BACA JUGA:  Mengingat Christian Lenglolo, Mengingat PSIR

Sementara itu, nasib Francesco Totti pun masih abu-abu terkait masa depannya. Apakah ia memutuskan untuk bermain terus bagi Serigala Roma, pensiun sebagai legenda, atau bisa saja Sang Pangeran Roma justru memutuskan untuk pindah ke klub lain mengingat perseteruannya dengan Luciano Spaletti musim ini.

Tidak mudah memang untuk berpisah dari suatu hal yang kita anggap begitu dekat dengan kita. Bagi pesepak bola selepas pensiun, tidak akan ada lagi selebrasi perayaan, tensi panas pertandingan, atau sorak sorai para suporter di tribun. Untuk itu, seharusnya kita melihat air mata yang tumpah dari Antonio Di Natale dan Luca Toni sebagai sebuah pemakluman.

Tapi paling tidak, bagi mereka yang sudah memutuskan pensiun sudah bebas untuk melakukan apa saja, bisa makan sepuasnya tanpa perlu takut pada timbunan lemak di perut. Mereka pun memiliki lebih banyak waktu untuk bermain dengan anak-istri, sambil sesekali membersihkan album-album foto masa lalu yang berdebu.

 

Komentar
Bangunkan saya jika sudah berada di depan Mol Antonelliana, atau saat terdampar di perairan Venezia. Penulis bisa dihubungi melalui akun Twitter @vchmn22.