Marc Klok Akan Selalu Merah

“Ewaklok Forever”

Itulah kata-kata yang menutup video perpisahan Marc Klok yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Ia seolah ingin menegaskan bahwa semangat Ewaklok (berasal dari kata Ewako yang merupakan jargon PSM) akan terus menyala dalam dirinya kendati saat ini, ia tak lagi mengenakan baju merah khas PSM.

Gelagat kepindahan Klok, sapaan akrabnya, sebenarnya sudah tercium sejak satu pekan yang lalu. Semuanya bermula dari tidak dibawanya Klok pada leg pertama babak playoff Piala AFC melawan Lalenok United di Gianyar, Bali.

Bojan Hodak, pelatih anyar PSM, beralasan jika kondisi fisik Klok masih belum cukup bugar untuk dibawa dan baru akan bergabung di Jakarta dalam persiapan menjelang leg kedua.

Akan tetapi, saat Juku Eja menjalani latihan di Jakarta beberapa hari kemudian, batang hidung Klok tak jua terlihat. Spekulasi kepindahan gelandang berpaspor Belanda ini pun menguat.

Terlebih Chief Executive Officer (CEO) PSM, Munafri Arifuddin, juga tak membantah kalau ada kesebelasan Liga 1 lain yang menginginkan jasa pemain berusia 26 tahun tersebut. Lebih lanjut, Munafri juga mengungkapkan bila pihaknya tak akan menahan sang pemain andai ingin hijrah dari kota Makassar.

Pada akhirnya, simpang siur tersebut terjawab kemarin (30/1). Akun Instagram resmi PSM mengunggah ucapan terima kasih atas kontribusi Klok selama ini. Kubu Juku Eja sendiri telah menyetujui transfer sang pemain ke pesaing di Liga 1.

Sejujurnya, kabar ini tidak terlalu mengagetkan. Namun tetap saja membuat banyak suporter fanatik PSM, termasuk saya, yang sedih mengetahui Klok takkan beraksi lagi di Stadion Mattoanging. Terlebih, dirinya sudah kadung menjadi idola baru di Makassar.

Bergabung dengan PSM sejak tiga tahun lalu, Klok dengan cepat mencuri perhatian. Sebagai gelandang bertahan, ia dikenal piawai dalam memutus serangan lawan dan tak takut melakoni duel fisik guna merebut bola. Gaya main Klok pun disebut-sebut cocok dengan karakter PSM yang lugas.

Klok juga punya daya tahan luar biasa sehingga mampu terus berlari sepanjang 90 menit pertandingan. Perannya yang amat vital membuat Klok berhasil menyegel satu slot di lini tengah PSM.

Untuk urusan mencetak gol pun Klok cukup produktif. Ia bahkan dipercaya menjadi algojo utama dalam mengambil tendangan penalti. Dari semua penampilan yang ia ukir bersama PSM dalam kurun 2017 hingga 2019, Klok total mencetak 17 gol. Gol indahnya ke gawang Lao Toyota FC bahkan dinobatkan sebagai gol terbaik Piala AFC musim 2019.

Bukan hanya di dalam lapangan, di luar lapangan Klok juga mampu membangun citra yang baik. Ia menunjukkan kehangatan ketika berinteraksi dengan suporter yang membuatnya mudah dicintai. Sampai-sampai suporter memberinya julukan Ewaklok yang merupakan gabungan antara jargon PSM, Ewako, dengan namanya.

Klok juga berusaha untuk bisa berbaur dengan warga lokal. Cara yang dipakainya adalah dengan mempelajari bahasa lokal yang sehari-hari digunakan. Cukup banyak video yang beredar di media sosial di mana Klok melontarkan kata-kata dalam bahasa lokal.

Selain itu, Klok pun menunjukkan keseriusan yang tinggi dalam belajar Bahasa Indonesia. Bahkan ia sampai belajar di salah satu universitas di Makassar demi kelancarannya berbahasa Indonesia. Hasilnya pun cukup baik,  dalam beberapa kesempatan wawancara di media, Klok sudah cukup percaya diri untuk menjawab semua pertanyaan dengan Bahasa Indonesia meskipun masih terbata-bata.

Hal-hal itulah yang menjadi dasar banyak suporter di Makassar yang berharap Klok melepaskan kewarganegaraan Belanda dan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) saja.

Harapan itu pun diamini Klok. Ia dengan senang hati mengurus perubahan status kewarganegaraannya. Suatu keputusan yang berani mengingat usianya masih cukup muda. Namun tampaknya, ia sudah menemukan tanah air barunya. Kehangatan yang ia terima dari publik Makassar membuatnya jatuh hati dengan Indonesia.

Keputusannya untuk menerima proses naturalisasi bikin Klok semakin semakin dicintai publik Makassar. Terlebih di awal 2019, Klok secara resmi memperbarui kontraknya di PSM hingga tahun 2023 mendatang. Sebuah bukti kalau manajemen Juku Eja puas dengan performa sang pemain dan Klok pun sudah nyaman dan betah berada di Kota Daeng. Kenyamanan itu ia tunjukkan dengan merintis sebuah kafe bernama Koffie O’Klok yang didirikan di salah satu sudut kota Makassar.

Kontrak jangka panjang itu mendorong publik untuk yakin bahwa Klok akan bertahan di Stadion Mattoanging dalam waktu yang lama. Apalagi sudah menjadi rahasia umum bila klub-klub Indonesia sangat jarang melakukan proses transfer (dengan membeli sang pemain dari klub lawasnya) dalam perekrutan pemain.

Namun siapa yang menyangka jika ada kesebelasan di Indonesia yang berkenan untuk mendatangkan Klok via transfer. Kampiun Liga 1 musim 2018, Persija, adalah pelabuhan baru Klok. Seperti dilansir IDN Times, Klok dicomot tim ibu kota dan diberi kontrak selama empat tahun. Tanpa buang-buang waktu, kubu Persija pun mengumumkan kedatangan Klok via akun media sosial resminya kemarin (31/1).

Petualangan Klok di kota Makassar selama tiga tahun akhirnya menemui titik akhir. Ada banyak kesan manis yang ia tinggalkan di hati ribuan bahkan jutaan fans PSM. Bagi saya, Klok akan selalu merah walau tak ada lagi lambang PSM yang melekat di dadanya.

Terima Kasih, Ewaklok.

Komentar
BACA JUGA:  Habibie Cup 2015: Meriah Tapi Banyak Kekurangan
Darul Amri
penyuka PSM Makassar dan Timnas Indonesia, punya twitter @darulam