Mauricio Pochettino: Pria Tahan Banting dari Santa Fe

Thore Haugstad, kolumnis dan analis taktik FourFourTwo, sekaligus chief editor twentyminuteread.com, memberi satu cara pandang khusus untuk menilai Mauricio Pochettino. Lihat dari luar kacamata normal, bukan hanya sebagai pelatih, tapi juga seperti pemain yang masih aktif bermain.

Sebagai bekas pemain belakang, karakternya terbaca dari cara ia meminta anak asuhnya menekan lawan.

Sebagai murid langsung Marcelo Bielsa, yang merekrutnya ketika berusia 14 tahun dan kelak, membimbingnya saat menapak langkah awal sebagai manajer sepak bola, Poch, sapaan akrab Pochettino, menunjukkan apa yang bertahun-tahun lalu sudah Bielsa tunjukkan di karier manajerialnya: fleksibilitas taktik dan high pressing system atau dengan bahasa yang lebih saya sukai, menekan lawan sejak awal.

Bielsa, Si Gila dari Rosario, yang kebetulan, kota yang sama dengan tempat di mana Tuhan menurunkan manusia setengah dewa yang kelak menjadi penguasa Catalan, mengajarkan apa yang kemudian kita lihat langsung lewat cara main Pochettino sejak menjadi pelatih Espanyol pada tahun 2009.

Menekan lawan sejak awal, membuatnya tak nyaman membangun serangan sedari dini. Mendisiplinkan pemain dengan training drill yang dilakukan tiga sesi dalam sehari. Mengatur detail persiapan mulai dari taktik, transisi bertahan dan menyerang, hingga lebar lapangan yang digunakan saat pertandingan, sampai, ini poin utamanya, ide untuk selalu bermain menyerang.

Kamu akan paham kenapa dunia menyebut Bielsa sebagai orang gila. Ketika kali pertama datang di Athletic Bilbao, hal pertama yang ia benahi bukan pemahaman taktikal pemainnya atau mental bertanding anak-anak Basque, melainkan stamina.

Bilesa mendisiplinkan semua pemainnya mulai dari tempat latihan. Fernando Llorente, mantan penyerang kesayangan Basque, sekaligus bintang utama Bilbao saat itu mengiyakan cara gila Bielsa dalam meningkatkan stamina pemainnya.

Pelajaran moralnya hanya satu dan sangat sederhana, Bielsa tahu apa yang ia ingin lakukan di timnya. Ia punya ide bermain yang jelas dan bisa mengimplementasikan idenya dengan cara yang ia yakin benar.

Ia mungkin gila, setengah sinting, dan Raymond Verheijen bisa mencacinya tentang periodisasi latihan yang gila-gilaan. Namun, butuh kualitas yang benar-benar baik untuk diakui Pep Guardiola pada 2012 lalu, bahwa Bielsa adalah pelatih terbaik di dunia.

Bielsa, dikenal dunia dengan formasi 3-3-3-1 yang aneh sekaligus luar biasa itu. Ia mengajarkan hal pokok dalam menangani sebuah tim sepak bola, yakni kedisiplinan.

Poch tidak mengawali karier dengan gelimang uang dan perhatian dari media yang intens. Ia bukan Pep Guardiola yang menapaki karier manajerial pertamanya sebagai pelatih Barcelona yang memiliki reputasi mentereng dan sumber daya manusia yang luar biasa hebatnya.

BACA JUGA:  Sylvestre Stallone dan Kecintaannya Kepada Everton

Alih-alih Barcelona, Poch mengawalinya dari tim Catalan yang semenjana, Espanyol.

Awal karier kepelatihan Poch tidak berjalan mulus, hampir mirip dengan caranya memasuki level profesional dari tingkat akademi.

Bayangkan, Bielsa datang ke rumahnya pada pukul 2 dini hari. Bukan waktu yang tepat untuk bertamu, bukan? Namun, yang Bielsa bawa adalah kunci gerbang masa depan Poch kecil. Bielsa ingin Poch bergabung dengan akademi Newell Old Boys.

Dua jam kemudian, Poch kecil sudah bergegas meninggalkan keluarganya dan tinggal di akademi bersama ratusan anak muda lain. Bisa jadi, suasana dini hari waktu itu pastilah terasa gegap gempita di tengah kantuk yang menyergap.

Suasana yang sama Poch temui ketika datang ke Espanyol, tidak mulus dan langsung memacu adrenalin. Ia datang ketika klub tersebut berada di zona degradasi dengan hanya sepuluh pekan tersisa.

Kita semua tahu Poch berhasil menyelamatkan Espanyol dari jerat degradasi. Ia bertahan dua tahun lagi bersama Espanyol, sebelum akhirnya dipecat dan berlabuh di tanah orang bebal, Britania.

Gebrakannya bersama Southampton membuat publik sepak bola Inggris mulai manuruh perhatian lebih kepadanya. Ia sosok pelatih bertampang baby face yang kontradiktif dengan instruksi bermainnya yang atraktif, menekan habis-habisan, dan membuat lawan sesak napas.

Poch pernah berujar semasa di Soton bahwa ia lebih memilih kebobolan saat sepuluh pemainnya sedang naik menekan lawan daripada kebobolan saat sepuluh pemainnya berada di garis pertahanan.

Orang dengan cara pandang seperti ini mudah disukai publik Inggris yang senang dengan sepak bola menyerang sebagai hiburan.

Maka wajar jika Daniel Levy, pemilik Tottenham Hotspur, mengontak pelatih muda dari Santa Fe ini untuk mengisi kursi kepelatihan yang lowong usai Tim Sherwood dipecat. Bagi Levy, Tottenham adalah mesin bisnis yang memadai.

Sejak lama, ia “menyuplai” pemain dengan banderol mahal dari London Utara ke tim membosankan dari Spanyol, Real Madrid.

Tapi itu tak cukup. Levy tentu gatal dan penasaran dengan kegagalan menahun Tottenham dalam upaya mendongkel Arsenal dari papan atas. Bagaimana mungkin, klub yang mendapat dana 100 juta euro lebih dari hasil penjualan Gareth Bale, masih juga gagal mendongkel klub irit transfer seperti Arsenal?

Itulah yang menurut saya, menjadi titik awal penunjukkan Poch. Ia ambisius, punya program yang jelas dan tepat bagi Tottenham, yang masih mentah dan tidak memiliki mentalitas tim papan atas.

BACA JUGA:  Saat-saat Menyenangkan Mendukung Liverpool

Poch datang membawa injeksi taktikal, juga dosis tinggi kedisiplinan bagi Tottenham. Pemain banyak tingkah seperti Emmanuel Adebayor dipersilakan hengkang. Andros Townsend, yang kesulitan beradaptasi dengan intensitas latihan ala Poch pun dibuang. Younes Kaboul, kapten tim, akhirnya pun ditendang karena tidak memenuhi standar.

Sebagai gantinya, ia mempromosikan pemain akademi seperti Harry Kane dan Danny Rose. Ia mendatangkan Toby Alderweireld yang di kemudian hari kita tahu semua, membentuk defensive partnership yang luar biasa dengan Jan Vertonghen.

Ia juga yang mendatangkan Dele Alli, menyempurnakan versatilitas Eric Dier sebagai bek dan gelandang bertahan sampai mengoptimalkan kembali Moussa Dembele, yang kemudian menjadi tokoh sentral di lini tengah Tottenham saat ini.

Menonton Tottenham adalah menonton Bielsa semasa di Bilbao (kala ia mempermalukan Sir Alex Ferguson di Europa League tahun 2011) dan saat ia mengubah Marseille menjadi tim yang berisi sekumpulan pemain yang kuat berlarian menyerang lawan selama 90 menit.

Dan bagi penggemar Bielsa sejak masih menangani Chile, juga sebagai suporter Arsenal, harus diakui, menonton Pochettino dan Tottenham seperti menonton film thriller bagus yang menegangkan dari awal hingga akhir.

Bukan proses yang mudah bagi Pochettino untuk berada di titik kariernya sekarang. Ia, yang lusa kemarin baru saja menghentikan laju kemenangan Antonio Conte dan Chelsea dengan permainan brilian, layak mendapat semua kredit.

Tapi, seperti yang pernah ia katakan sebelumnya, dan juga alasan utama kenapa ia tak pernah mau memiliki agen, Poch akan menerima pujianmu dengan senyum tipis sambil melengos keluar dari ruang konferensi pers.

Ia tak memiliki agen, tidak memiliki media sosial, bahkan tidak mempekerjakan public relation. Di Argentina, namanya kalah megah dibanding Diego Simeone. Poch adalah pelatih yang berangkat ke tempat latihan pukul 7 pagi, pulang pukul 8 malam, dan bergegas makan malam, mandi, lalu tidur. Rutinitas yang ia lakukan hampir setiap hari di luar hari libur.

Dan apakah itu membuatnya merasa lebih baik? Saya yakin, jawabannya adalah “YA”, dengan huruf kapital. Sembari mengingat satu jawabannya ketika jurnalis bertanya alasannya tak memiliki akun di sosial media, “I don’t need five hundred thousand followers to feel good.”

Sebuah pesan dari Pochettino yang asyik betul bagi kita generasi milenial, bukan?

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.