Mencintai Persib Tak Harus Menjadi Bandung

Saya sama seperti anak laki-laki kecil kebanyakan di Indonesia. Sedari belia sudah akrab dengan yang namanya sepakbola. Dahulu saya bercita-cita menjadi pesepakbola. Sebagai seorang anak yang lahir di Jawa Barat, tentu saja saya mencintai Persib dan mempunyai keinginan untuk membela klub asal Kota Kembang tersebut.

Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu saya menyadari bahwa hubungan saya dengan Persib hanya bisa terjalin lewat status antara pendukung dan klub yang dicintainya saja. Harus diakui bahwa saya memang tidak begitu mahir dalam mengolah si kulit bundar.

Padahal sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), terhitung sudah tiga Sekolah Sepak Bola (SSB) yang saya ikuti. Saya pun sering mengikuti turnamen-turnamen yang diadakan di daerah saya. Mujur tak dapat dirayu, malang tak dapat ditolak. Kesempatan untuk menjadi pesepakbola profesional tak kunjung datang.

Dari situ, saya berpikir bahwa mimpi untuk jadi pesepakbola yang membela panji Maung Bandung kudu disudahi. Perlahan-lahan, saya menguatkan tekad guna mendukung mereka sebagai suporter. Toh, saya tidak pernah didoktrin oleh orang tua atau teman-teman saya untuk mencintai Persib. Bahkan, ayah saya dahulunya merupakan pendukung Persija sebab beliau lahir dan besar di Jakarta. Saya mencintai kesebelasan yang berdiri tahun 1933 ini murni karena hati dan kemauan saya sendiri.

Selama menjadi penggemar Persib, hal yang paling bodoh dan aneh yang pernah saya lakukan adalah saya teramat fanatik terhadap mereka. Akibatnya, saya begitu membenci Persija, kesebelasan yang jadi rival berat Persib dalam tajuk Derbi Indonesia berikut pendukung setianya, The Jak.

Namun jujur saja, setelah saya pikir lebih dalam lagi, saya amat menyesali hal tersebut karena tak sepatutnya bersikap kelewatan. Benci, ya, benci. Saingan, ya, saingan. Tetapi segalanya cukup sampai di situ. Ada ruang-ruang kemanusiaan yang wajib dijunjung, khususnya di antara suporter, sehingga rivalitas tidak berujung pada hilangnya nyawa.

BACA JUGA:  Dekade 1990-an: Transisi pada Satu Era, Perkenalan dan Cinta untuk FC Internazionale Milano

Saya ingat, ketika masih duduk di bangku kelas 1 SMA, saya memaksakan diri untuk pergi ke Stadion Si Jalak Harupat. Saya memaksa ayah mengantar ke sana demi menonton laga Persib kontra Pelita Bandung Raya (PBR). Saat itu tahun 2014, tahun itu sendiri berakhir manis untuk Maung Bandung karena sukses menjadi jawara Indonesian Super League (ISL) sekaligus memutus paceklik titel liga selama 19 tahun.

Dengan menggunakan motor Yamaha Mio J, ayah bersama saya dan kedua adik saya berangkat dari rumah di Kuningan menuju Soreang. Perjalanan ini sendiri memakan waktu sekitar lima jam. Bayangkan saja, lima jam berkendara di atas motor yang ditumpangi empat orang sekaligus. Betapa besar pengorbanan ayah yang ketika itu harus menahan tubuh adik yang tertidur supaya tidak jatuh.

Saya sendiri merasa kedinginan di perjalanan karena hujan turun dengan durasi cukup lama. Namun saya terus merengek kepada ayah buat melanjutkan perjalanan ke Soreang demi menyaksikan laga Persib secara langsung untuk kali pertama.

Kisah yang jika diingat membuat saya tersenyum dan malu sendiri karena tidak habis pikir mengapa saya bersikap segila itu hanya untuk melihat pertandingan antara 22 orang di atas lapangan rumput dan memperebutkan satu bola demi mencetak gol. Di kepala saya saat itu cuma ada satu hal, “Saya ingin menonton Persib untuk pertama kalinya di stadion”.

Realita tersebut bikin saya berpikir bahwa tinggal di Bandung akan membuat segalanya lebih enak. Utamanya saat mendukung Persib. Terlebih, Bandung dikenal sebagai kota yang nyaman dan warganya tergolong santun seperti citra masyarakat Indonesia pada umumnya. Maka semakin kuatlah hasrat buat menjadi warga ibu kota Jawa Barat tersebut.

BACA JUGA:  Al Ahly, Raja yang Sesungguhnya di Level Klub

Tetapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa hal yang terbersit di kepala itu adalah hal bodoh kesekian yang pernah saya lakukan. Saya jadi teringat akan sajak mendiang Sapardi Djoko Damono yang berbunyi, “Mencintai angin harus menjadi siut. Mencintai air harus menjadi ricik. Mencintai gunung harus menjadi terjal. Mencintai api harus menjadi jilat. Mencintai cakrawala harus menebas jarak”. Namun bagi saya, mencintai Persib tidak harus menjadi Bandung.

Hal yang baru saya sadari saat ini. Persib bukan hanya milik warga Bandung. Persib adalah milik orang-orang yang tulus ikhlas mendukung dan mencintainya tanpa merugikannya. Tidak peduli dari manapun asalnya. Tidak peduli apa bahasa, agama, suku, dan bangsanya. Selama ia cinta akan Persib, tim Maung Bandung adalah miliknya.

Sejak saat itu hingga kini, saya memilih tetap mencintai dan mendukung Persib dari sebuah kota kecil di sisi timur Jawa Barat bernama Kuningan.

Komentar
Penggemar Chelsea dan Persib. Mahasiswa tingkat akhir yang berharap cepat meraih gelar sarjana. Hobi membaca, mendaki, dan menonton sepakbola, dan juga mempunyai harapan bisa melihat Timnas Indonesia menjuarai Piala Dunia. Dapat disapa di akun twitter @f_wijayaa