Mengenal Odion Ighalo

Siapa yang bisa menampik kebintangan seorang Jamie Vardy di Liga Inggris musim ini? Jika ada, tentulah Anda bisa dimasukkan kedalam golongan orang-orang hipokrit yang tak tahu diri.

Membicarakan pemain Leicester City bernomor punggung sembilan ini memang takkan ada habisnya sekarang karena perbuatannya sudah kelewatan untuk tak meraih sorotan, luar biasa sekali.

Namun, tanpa tendensi untuk mengecilkan Vardy, penulis memang tak berniat membahas dirinya. Analisis, statistik dan bahasan lain mengenai striker andalan Leicester City tersebut sudah mudah dijumpai di dunia maya.

Sejatinya ada sosok lain yang barangkali minim sorotan kamera namun dibekali prestasi apik seperti Vardy. Dan belantara Liga Primer Inggris memiliki sosok bernama Odion Ighalo. Seorang penyerang dari klub medioker.

Apakah namanya asing untuk sebagian dari Anda? Wajar karena seperti yang penulis sebutkan di atas bahwa Ighalo hanya bermain untuk tim medioker sekaligus jebolan Championship Division musim lalu, Watford.

Namanya mungkin tak sekalipun terlintas di kepala pendukung fanatik Manchester United atau suporter garis keras Chelsea. Tapi, raihan golnya musim ini jelas patut membuat Wayne Rooney dan Diego Costa menaruh hormat padanya.

Bagi mereka yang gemar memainkan Fantasy Premier League (FPL), bisa jadi nama Ighalo sama berharganya dengan Vardy. Alasannya apalagi kalau bukan penampilan Ighalo yang ciamik di 14 laga Liga Inggris musim ini.

Tak cukupkah delapan gol plus empat asis yang jadi koleksi Ighalo menjadi bukti kehebatannya? Mengingat hal tersebut secara konsisten menelurkan poin demi poin buat para manajer FPL.

Statistik gol, asis, dan poin Ighalo via fantasypremierleague.com
Statistik gol, asis, dan poin Ighalo via fantasypremierleague.com

Walau belum sanggup membawa Watford mengganggu konstelasi di papan atas klasemen seperti yang dilakukan Vardy dan Leicester, namun apa yang diperlihatkan Ighalo menunjukkan bila dirinya punya kelas untuk bersaing di liga seketat Premier League. Patut dicatat juga bila Ighalo mencetak gol, maka Watford tak pernah sekalipun tumbang.

Namun siapa sangka jika perjuangan Ighalo meretas mimpi menjadi pesepak bola tak semudah yang dibayangkan. Ighalo kecil tumbuh di distrik miskin bernama Ajegunle di Lagos, ibukota Nigeria.

Sedari kecil Ighalo menemani sekaligus membantu ibundanya menjual minuman ringan guna menyambung hidup. Akan tetapi Ighalo tak sekalipun melupakan olahraga kesukaannya, sepak bola, walau harus bergelut dengan panas dan hujan di jalanan Ajegunle.

Maka kaleng-kaleng kosong dan botol bekas adalah “bola” yang digunakan Ighalo untuk mengasah kemampuan sekaligus mencicipi lezatnya kegembiraan.

Mengetahui putranya memiliki rasa cinta yang luar biasa pada sepak bola, ibunda Ighalo mengumpulkan uang hasil menjual minuman ringan sedikit demi sedikit guna membeli sepasang sepatu sepak bola untuk putranya.

BACA JUGA:  Origi Berbakti, Klopp Mengasihi

Satu bukti bahwa ibu punya samudera cinta kasih bagi buah hatinya. Dengan sepatu itulah Ighalo kemudian memperjuangkan apa yang sangat diidam-idamkannya sejak belia.

Ketika bermain sepak bola, ada sesuatu yang berbeda terpancar dari dalam diri Ighalo kecil. Semangat, kemauan dan kegigihannya di atas lapangan memikat banyak orang.

Hal tersebut yang kemudian mengantarkan dirinya bergabung dengan tim junior Prime FC, klub kecil dari Osogbo. Kesempatan bergabung dengan tim junior dari sebuah klub profesional coba dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh Ighalo. Dirinya menimba ilmu sebanyak mungkin untuk memperbaiki teknik olah bolanya.

Sampai akhirnya sebuah momen spesial membawanya bertemu dengan agen FIFA, Marcelo Houseman. Nama ini pula yang kemudian merekomendasikan Ighalo untuk menjalani trial di klub asal Norwegia, Lyn Oslo.

Manajemen klub yang saat ini berkompetisi di 2.Divisjon, kasta ketiga liga Norwegia, rupanya terpikat oleh penampilan Ighalo ketika itu sehingga menyodorinya kontrak permanen.

Pada usianya yang baru menyentuh 18 tahun, Ighalo muda pun memutuskan untuk menerima pinangan tersebut dan siap beradaptasi dengan hawa dingin di Eropa bagian utara itu..

Adaptasi dari iklim tropis yang biasa dirasakannya di Nigeria ke Norwegia yang hampir beku di sepanjang tahun menjadi tugas pertamanya. Akan tetapi lewat tekad baja untuk menggapai cita-cita, Ighalo pun sukses mengatasi hal tersebut.

Sebuah hal konyol bahkan pernah dilakukan Ighalo saat di Norwegia. Ia mengaku pernah memakan gumpalan salju kala melihat benda tersebut untuk kali pertama dalam hidupnya!

Dengan seragam Lyn yang dikenakannya, Ighalo tampil mempesona hingga jadi idola baru publik stadion Bislett. Sepanjang 2007 dan 2008, striker yang bernama lengkap Odion Jude Ighalo ini sanggup menggelontorkan 9 gol dari 20 kali main di Tippeligaen, divisi teratas Norwegia. Prestasi tersebut yang kemudian menggoda Giampaolo Pozzo, presiden Udinese, untuk memboyongnya.

Pada 30 Juli 2008 Udinese akhirnya secara resmi membawa Ighalo ke Friuli sebagai rekrutan baru. Namun hal tersebut nyatanya tak membuat Ighalo bisa menembus skuat utama tim asal kota Udine tersebut dengan mudah.

Dirinya justru akrab dengan periode peminjaman ke beberapa klub lain, khususnya Granada CF di Spanyol dan Watford di Inggris. Kebetulan dua klub tersebut adalah saudara kandung Udinese karena dimiliki oleh orang yang sama, Pozzo.

Terasing karena masa peminjaman demi peminjaman nyatanya sama sekali tidak menghancurkan mental Ighalo yang memang sudah tangguh akibat tempaan kerasnya kehidupan di Lagos. Dirinya justru berkembang menjadi pemain yang lebih cerdas dan matang. Baginya, dimanapun dirinya bermain maka itu adalah kesempatan untuk menikmati sepak bola dan tampil sebaik-baiknya.

BACA JUGA:  Liverpool Era Juergen Klopp Perlu Meniru Kepemimpinan Sir Alex Ferguson di Manchester United

Musim 2014/2015 kemarin menjadi momen di mana Ighalo bertransformasi menjadi striker haus gol kala membela panji kepala rusa milik Watford. Fans The Hornets, julukan Watford, sendiri meyakini bila Ighalo akan menghasilkan kolaborasi apik bersama Troy Deeney dan Matej Vydra.

Penampilannya yang cukup menawan selama tiga bulan pertama berkostum Watford membuat klub yang pernah menjadi finalis di ajang Piala FA musim 1983/1984 memilih untuk menyudahi klausul peminjamannya dari Udinese lebih awal dan merekrutnya secara resmi per Oktober 2014. Ighalo pun meneken kontrak selama dua setengah musim di Vicarage Road, kandang Watford.

Walau sempat merasakan treatment dari empat pelatih berbeda, mulai dari Giuseppe Sannino, Oscar Garcia, Billy McKinlay hingga Slavisa Jokanovic selama musim 2014/2015, Ighalo tak tergoyahkan untuk tampil sebagai andalan di lini depan Watford.

Ia sukses menceploskan 20 gol di sepanjang musim 2014/2015 buah dari 34 partai yang dilakoninya. Kombinasinya bersama Deeney dan Vydra menjadi jaminan mutu bagi The Hornets.

Hasilnya, tim yang identik dengan warna kuning dan hitam ini sukses mengantongi satu tiket promosi otomatis ke Premier League berkat mengakhiri musim di posisi kedua klasemen.

Walau harus merasakan sentuhan pelatih yang berbeda sebagai akibat dari kedatangan manajer anyar asal Spanyol, Quique Sanchez Flores, nama Ighalo tetap menjadi andalan di lini serang The Hornets bareng sang kapten, Deeney, dalam mengarungi kerasnya Premier League musim ini. Sayangnya rekan mereka, Vydra, harus pasrah dipinjamkan ke Reading.

Sampai pekan ke-14, tim yang pernah dibela eks kiper timnas Inggris, David James, ini nangkring di peringkat sebelas hasil dari lima kali menang, empat kali seri dan lima kali kalah.

Kubu The Hornets sendiri berhasil membobol gawang lawan sebanyak lima belas kali meski sudah kemasukan sebanyak enam belas gol. Menilik catatan yang lumayan apik tersebut, kemungkinan anak asuh Quique Sanchez Flores untuk bertahan di Premier League pun cukup bagus.

Patut juga diingat sekali lagi apabila delapan dari lima belas gol tersebut adalah sumbangan dari pemain setinggi 188 centimeter ini. Persentasenya bahkan menembus angka 53% atau lebih dari separuh gol Watford di Premier League musim ini.

Pemain berusia 26 tahun ini bahkan disebut-sebut siap menanggalkan jersey Watford karena bakal diboyong klub-klub yang lebih mapan.

Dibanding hopeless dengan Rooney atau Costa, maka sudah sepantasnya pantas bila Anda mempertimbangkan nama penyerang yang punya koleksi dua gol untuk tim nasional Nigeria ini sebagai opsi buat tim Fantasy Anda guna meraup poin.

 

Komentar