Mengulas Taktik Reaktif Coach Teco

Coach Teco
Teco atau Stefano Cugurra (bola.com)

Alessandro Stefano Cugurra Rodrigues yang juga dikenal sebagai Teco merupakan salah satu pelatih tersukses selama era Liga 1 bergulir. Total ia telah meraih 3 gelar liga di dua klub yang berbeda yaitu Persija Jakarta pada tahun 2018 dan Bali United pada tahun 2019 dan 2021. Hebatnya, tiga gelar tersebut ia raih secara beruntun dalam tiga musim kompetisi berbeda.

Dominasi Teco di kancah Liga Indonesia dikarenakan dia paham betul karakteristik sepakbola Indonesia dan punya taktik yang jitu pada tiap laga yang ia mainkan. Teco sendiri bukan orang baru di Indonesia, pada tahun 2005 ia sempat menjadi pelatih fisik Persebaya Surabaya dibawah asuhan Jacksen F.Tiago. Modal itulah yang membuatnya terlihat mudah beradaptasi ketika pertama kali melatih Persija pada musim 2016/2017 dan langsung membawa Macan Kemayoran finish di peringkat keempat.

https://www.instagram.com/p/Cbi6DcPBOHe/?utm_source=ig_web_copy_link

Pria kelahiran Rio de Janeiro, Brazil 48 tahun silam ini memang dikenal sebagai pelatih yang suka dengan stabilitas tim. Makanya ia sangat jarang melakukan perubahan starting eleven kecuali ada pemain utamanya yang harus absen baik karena akumulasi kartu ataupun cedera.

Ditambah, pelatih pemilik lisensi Pro UEFA ini suka dengan pemain senior atau yang berpengalaman dalam menjalankan strateginya. Tak heran ia dikenal sebagai pelatih yang minim memberikan jam bermain bagi pemain muda di timnya.

Tentu hal itu bukan tanpa alasan, karakter main reaktif yang Teco usung selama di Liga Indonesia memang sangat membutuhkan tim skuad yang stabil dan harus diisi oleh pemain yang berpengalaman agar taktiknya bisa diterapkan secara maksimal.

Ia merupakan pelatih yang cerdik, dalam 5-15 menit awal laga tiap tim yang ia asuh selalu menunggu gaya main lawan, setelah tertebak, timnya baru bereaksi dengan melakukan gaya main yang sesuai dengan apa yang ia instruksikan. 

BACA JUGA:  Regulasi UEFA dan Tata Cahaya Stadion di Eropa

Contoh Teco ball yang bisa berjalan mulus terjadi saat melawan Persija Jakarta pada laga pembuka Sabtu (23/07/2022), meskipun pada awal hingga tengah laga Bali United kalah dalam penguasaan bola dan terus ditekan, nyatanya ia tetap mampu meraih kemenangan di akhir laga dengan menerapkan gaya reaktif. Teco paham betul cara melawan tim dengan gaya main build up dari belakang dan kemudian ia lawan dengan gaya main direct yang sangat efektif membuat lini pertahanan Persija Jakarta pontang-panting.

https://www.instagram.com/p/CWV1SwMBuex/?utm_source=ig_web_copy_link

Reactive Football yang dijalankan Teco menjadi senjata ampuhnya saat bersua klub-klub Liga 1. Ketika bertahan sangat rapat dan ketika menyerang pun sangat efektif, hal ini tentu sangat menyusahkan bagi lawan. Meskipun di atas kertas mengusung formasi 4-2-3-1, namun di lapangan pemain-pemainnya terlihat sangat dinamis bisa 4-3-3, 4-4-2 atau bahkan 5-4-1 saat menghadapi tim yang gaya main menyerang.

Namun taktik reaktif Teco bukan tanpa celah. Saat bertemu tim dengan gaya main cepat, pressing tinggi dan punya covering yang bagus, Bali United sangat kesusahan mengembangkan permainan. Contoh terbarunya adalah saat kalah 2-0 melawan PSM Makassar, kalah 2-5 melawan Visakha FC Kamboja pada ajang kualifikasi Piala AFC Cup 2022, dan kalah 2-0 dari Persis Solo.

Selain itu, karena Teco sangat suka memasang pemain “senior” dalam timnya membuat para pemain muda di Bali United kurang mendapatkan menit bermain. Ha itu tentu tidak baik bagi regenerasi pemain muda Serdadu Tri Datu.  Ditambah dengan sering mengandalkan para pemain senior membuat tim asuhan Teco sering kedodoran secara stamina dan fisik ketika memasuki menit ke-75 ke atas.

Dengan ketatnya Liga 1 2022/2023 kali ini, apakah taktik Teco tetap berhasil membawa Bali United mempertahankan gelar tahun ini?

Komentar
Medioker yang bisa diandalkan. Kadang dukung Manchester United kadang dukung AC Milan. Bisa kalian sapa di twitter @CandraBantara