Misi Pamungkas Messi Bersama Argentina

Ketika negara-negara di Eropa tengah disibukkan dengan gelaran Piala Eropa, hal serupa juga dialami negara-negara di kawasan Amerika Selatan seperti Argentina, Brasil, dan Kolombia sebab ada perhelatan Copa America.

Berdasarkan sejarah, kompetisi yang satu ini sudah dihelat sejak tahun 1916 oleh federasi sepakbola Amerika Selatan (CONMEBOL) alias lebih lawas ketimbang Piala Eropa.

Awalnya, Copa America diselenggarakan untuk memeriahkan hari kemerdekaan Argentina. Pada perkembangannya juga, Copa America jadi kejuaraan sepakbola antarnegara paling populer ketiga setelah Piala Dunia dan Piala Eropa.

Sejatinya, Copa America edisi kali ini dipertandikan pada tahun 2020 kemarin dengan Argentina dan Kolombia menjadi tuan rumah bersama. Namun adanya pandemi bikin perhelatannya digeser ke tahun 2021.

Belum cukup sampai di situ, tingginya tingkat penyebaran Covid-19 di Negeri Tango dan ketegangan politik yang terjadi di Negeri Kopi bikin CONMEBOL mencari alternatif tuan rumah.

Lewat berbagai negosiasi yang dipenuhi unsur politis, Copa America 2021 pun resmi dimainkan di Brasil yang pada gelaran tahun 2019 kemarin juga menjadi tuan rumah.

Bicara Copa America tentu musykil untuk tidak membicarakan Argentina. Kendati jumlah trofi yang mereka miliki masih kalah dari Uruguay (14 berbanding 15), tetapi La Albiceleste merupakan kekuatan tradisional yang selalu jadi favorit juara.

Dan seperti perjalanan Argentina di sejumlah trofi mayor selama satu setengah dekade terakhir, selalu terselip perbincangan perihal megabintang mereka, Lionel Messi.

Piala Dunia 2006 menjadi debut Messi di sebuah turnamen mayor bersama La Albiceleste. Dimulai pada saat itu pula, ia digadang-gadang mampu membawa negaranya memutus paceklik titel yang berlangsung sejak 1993.

Selepas merengkuh gelar Copa America 1993 dengan tim yang dimotori oleh Gabriel Batistuta, Oscar Ruggeri, dan Diego Simeone, Argentina memang akrab dengan kegagalan.

BACA JUGA:  Gelang Merah Keberuntungan Lionel Messi

Berkali-kali mereka tampil di kejuaraan kelas wahid, berkali-kali juga mereka menangis karena terbentur kegagalan mengangkat trofi.

Bersama Messi sendiri, Argentina sudah mencicipi empat final. Antara lain pada Copa America edisi 2007, 2015, dan 2016 serta Piala Dunia 2014. Malangnya, mereka selalu mengakhiri perjalanannya dengan status runner up.

Akibatnya, dahaga gelar yang dialami La Albiceleste tak kunjung berakhir. Sementara Messi sebagai megabintang dengan kemampuan eksepsional, terus beroleh kritikan dan tekanan. Seolah-olah biang keladi kegagalan Argentina hanyalah ia sendiri.

Banyak yang menganggap Messi cuma hebat saat mengenakan baju Barcelona yang didukung gelandang-gelandang jenius macam Sergio Busquets, Andres Iniesta, dan Xavi Hernandez.

Belum lagi orang-orang yang selalu membandingkannya dengan megabintang Portugal, Cristiano Ronaldo, yang dianggap punya rapor lebih baik saat mengenakan seragam tim nasional karena sukses menjuarai Piala Eropa 2016 dan UEFA Nations League 2018/2019,

Dengan seragam garis-garis vertikal biru muda-putih, ia tak ubahnya pemain biasa karena ‘cuma’ dibantu oleh Ever Banega, Angel Di Maria, Leandro Paredes, dan Javier Pastore.

Pada Copa America 2021, Argentina tergabung di Grup A bersama Cile, Bolivia, Paraguay, dan Uruguay. Hingga tulisan ini dibuat, La Albiceleste sudah bermain tiga kali yaitu melawan Cile, Uruguay dan Paraguay.

Hasilnya, Messi dan kolega mengepak tujuh poin hasil dari dua kemenangan dan satu imbang sejauh ini. Catatan itu bikin Argentina berhak menempati puncak klasemen dan memperbesar kans lolos ke fase gugur.

Skuad yang dibawa Lionel Scaloni dibilang cukup berkualitas. Messi tetap jadi aktor utama dengan dukungan dari Di Maria, Paredes, Lautaro Martinez, hingga Emiliano Martinez. Pantas bila mereka dijadikan kandidat juara.

Saat ini, Messi sudah berusia 33 tahun. Banyak yang menyebut kalau Copa America 2021 adalah penampilan pamungkasnya bersama Argentina di ajang antarnegara paling wahid di Amerika Selatan tersebut.

BACA JUGA:  5 Pemain Argentina yang Pernah Bermain di MU Sebelum Garnacho

Maka satu-satunya misi yang kudu diwujudkan adalah menjadi kampiun. Tak peduli betapa sulitnya hal itu buat dilakukan. Terlebih, Copa America sering melahirkan beraneka kejutan.

Sampai laga ketiga penyisihan grup, Messi baru mencetak satu gol buat negaranya. Namun hal itu takkan berdampak negatif selama rekan-rekannya dapat melaksanakan tugas tersebut dengan baik untuk mengantar La Albiceleste mereguk kemenangan demi kemenangan sampai babak akhir.

Sebab hanya dengan gelar juara, Messi bisa membungkam mulut-mulut nyinyir pembencinya sekaligus menyudahi puasa gelar Argentina yang berlangsung nyaris tiga dekade.

Komentar
Seorang penggemar Ralf Rangnick yang mempunyai hobi sepak bola dan memasak. Bisa disapa di akun Twitter @AndrianDA15