NBA dan Para Big Men Masa Kini

Selayaknya cabang olahraga permainan yang lain, basket pun menyediakan beberapa posisi yang bisa dimainkan di dalamnya. Ada lima posisi yang tersedia yakni Point Guard (PG), Shooting Guard (SG), Small Forward (SF), Power Forward (PF) dan Center (C). Masing-masing posisi tentu memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda.

Dari kelima posisi itu, dua yang disebut terakhir kerap dimasukkan dalam kategori big men. Pasalnya, pemain-pemain yang mengisi pos tersebut adalah pebasket dengan postur tinggi menjulang dan fisik yang kokoh.

Contoh pemain beken yang berposisi PF antara lain Dennis Rodman dan Kevin Garnett, sedangkan C yang populer adalah Shaquille O’Neal dan Wilt Chamberlain.

Kondisi fisik seperti yang saya sebutkan di atas tentunya sesuai dengan peran yang diemban PF dan C dalam permainan basket. Dua posisi ini kerap disebut sebagai post player alias pemain yang area bermainnya dekat dengan ring, baik saat melakukan serangan ataupun bertahan.

Pada saat menyerang, PF dan C bertugas menjadi pencetak angka via tembakan jarak dekat (umumnya lay up, jump shot dan dunk) yang kesemuanya dilakukan di paint area. Dan menjadi tukang rebound serta bloker kala sedang bertahan.

Dengan tugas seperti itu, maka tak perlu heran juga bila para pemain di posisi ini menjadi sosok yang paling sering melakukan kontak fisik agar tugas menyerang dan bertahan yang mereka emban terselesaikan.

Sebagai kiblat basket profesional dunia, kompetisi National Basket Association (NBA) di Amerika Serikat memang kerap dijadikan tolok ukur perkembangan bola basket dari waktu ke waktu. Tak terkecuali soal big men masa kini.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas bahwa pemain post player, khususnya dalam fase menyerang, akan selalu beroperasi di dekat ring lawan. Akan tetapi, akhir-akhir ini di NBA, para big men tak melulu beroperasi di wilayah tersebut.

Sebaliknya banyak dari mereka yang justru berdiri di luar garis perimeter layaknya para shooter yang ahli mengeksekusi tembakan jarak jauh.

Usut punya usut, dinamika permainan basket di NBA saat ini memang telah sampai pada level yang sedikit berbeda, khususnya bagi para big men. Silakan lihat tayangan berikut.

 

Video tersebut merupakan cuplikan laga Sacramento Kings versus Los Angeles Clippers pada 2015 silam. Perhatikan baik-baik pemain Kings berkostum hitam dengan nomor punggung 15. Dialah DeMarcus Cousins, lelaki setinggi 211 centimeter yang berposisi sebagai Center.

Dalam cuplikan itu, dapat Anda saksikan jika Cousins, yang harusnya menjadi satu dari dua post player Kings, justru tidak masuk ke area dalam sama sekali guna melakukan penetrasi dan berduel dengan PF (Blake Griffin) atau C (DeAndre Jordan) lawan.

Cousins malah berlari pelan lalu berhenti di tepi garis perimeter atau sengaja menunggu di area tersebut guna menerima umpan dari rekan-rekannya untuk kemudian melepaskan beberapa tembakan tiga angka yang meluncur mulus ke dalam keranjang.

Kings sendiri harus takluk dari Clippers di laga tersebut yang kebetulan jadi laga pembuka kedua tim di NBA musim 2015/2016 lalu. Namun apa yang diperlihatkan Cousins pada laga itu sungguh menarik untuk ditelaah.

Hal tersebut seolah jadi bukti nyata bila para post player masa kini tak boleh lagi sekadar tangguh mencetak angka dari jarak dekat atau jago melakukan rebound. Dinamika yang terjadi di NBA mengharuskan mereka jadi pemain-pemain yang juga sanggup melakukan tugas yang biasanya dilakukan oleh PG, SG atau SF yakni melepaskan tembakan tiga angka yang akurat.

Versatilitas dalam menyerang khususnya, jadi kemampuan tambahan yang mesti dikuasai para big men di NBA. Karena jelas, hal tersebut meningkatkan opsi ancaman dalam fase menyerang sebuah tim.

Statistik tembakan tiga angka yang sukses dan percobaan tembakan tiga angka DeMarcus Cousins dari musim 2010/2011-2016/2017 (kotak hijau) via basketball-reference.com.

Dari data tersebut, kita bisa melihat jika dari waktu ke waktu, para big men seperti Cousins juga dituntut untuk meningkatkan skill mereka, khususnya dalam melakukan tembakan jarak jauh. Perkembangan yang ditunjukkan pemain yang akrab dipanggil Boogie ini pun cukup signifikan, khususnya pada dua musim terakhir. Persentase tembakan tiga angkanya meningkat.

Statistik tembakan tiga angka yang sukses dan percobaan tembakan tiga angka Karl-Anthony Towns dari musim 2015/2016-2016/2017 (kotak hijau) via basketball-reference.com.

Setali tiga uang dengan Cousins, Center belia milik Minnesota Timberwolves, Karl-Anthony Towns juga menunjukkan grafik serupa. Selama dua musim karier NBA-nya, pemain berusia 21 tahun ini juga kerap melakukan tembakan tiga angka dengan persentase kesuksesan yang juga mengalami kenaikan.

BACA JUGA:  Apa itu Gegenpressing?

Walau begitu, tak semua big men akan diberi tanggungjawab semacam ini oleh para pelatih tim-tim NBA. Semua bergantung kepada kebutuhan tim dan pastinya kemampuan dari pemain tersebut.

Statistik tembakan tiga angka yang sukses dan percobaan tembakan tiga angka DeAndre Jordan dari musim 2008/2009-2016/2017 (kotak hijau) via basketball-reference.com.

Statistik dari DeAndre Jordan di atas menunjukkan bahwa Center konvensional, yang “cuma” bisa mencetak angka lewat jarak dekat, tetap eksis. Meski hal ini juga dipengaruhi kemampuan long-shoot range Jordan yang buruk sehingga pelatih Clippers, Doc Rivers, tak memberinya tugas macam Cousins atau KAT, nickname Towns.

Lalu, apa keuntungan memiliki big men yang fasih menembak dari jarak jauh? Silakan tengok cuplikan berikut.

 

Cuplikan di atas menampilkan duel antara Memphis Grizzlies dan Los Angeles Clippers. Duel Center antara Marc Gasol (Grizzlies) dan Jordan (Clippers) pun tak terelakkan. Akan tetapi kemampuan menembak jarak jauh yang dimiliki Gasol membuat Grizzlies memiliki opsi serangan dan mencetak angka yang lebih banyak.

Melalui cuplikan itu juga kita dapat menyaksikan bahwa pergerakan Gasol di dekat garis perimeter usai menerima bola dari rekannya membuat Jordan, yang tahu bahwa lawannya cukup oke dalam melakukan temabakan tiga angka, mau tidak mau berupaya untuk mendekati Gasol guna menutup ruang tembaknya.

Akan tetapi pergerakan Jordan tersebut juga menimbulkan celah di wilayah pertahanan Clippers sehingga memberi ruang bagi pemain lain (dalam hal ini Mike Conley) untuk menerima umpan dari Gasol, melakukan penetrasi dan mencetak poin.

Walau demikian, apa yang dilakukan banyak big men masa kini dengan kemampuan menembak dari jarak jauh yang cukup eksepsional sejatinya bukanlah hal yang benar-benar baru. Selayaknya siklus, hal ini muncul kembali setelah sekian lama tenggelam dan dianggap biasa saja.

Beberapa nama lawas yang bisa diapungkan sebagai big men yang jago menembak dari jarak jauh yaitu Channing Frye, Brad Miller dan Dirk Nowitzki (yang sampai hari ini bahkan masih aktif bermain di NBA).

Lebih dari itu, apa yang bisa ditampilkan para big men saat ini merupakan sebuah tontonan yang menjadikan pertandingan basket NBA jadi sesuatu yang makin mengasikkan.

Yes, This Is Why We Play.

 

 

Komentar