Panggil Dia Jay-Jay Iwobi

Ada banyak diksi untuk menggambarkan Arsenal sebagai entitas klub sepak bola. Salah satunya, saya memilih: wonderkid.

Hampir setiap musim, The Gunners memberikan porsi yang besar untuk pemain muda. Salah satu kebijakan yang membuat manajemen Arsenal cukup mudah menarik perhatian pemain-pemain muda di penjuru dunia. Sebuah nilai positif dari Arsene Wenger yang harus terus dikenang.

Memberikan kesempatan kepada pemain muda artinya membuka sebuah masa depan baru. Sebuah regenerasi, yang dalam sepak bola, harus terus dilakukan. Sebagai sebuah visi, Arsenal sudah melakukannya dengan baik.

Sejak paruh akhir musim 2015/2016, hingga awal musim ini, Wenger memberikan kesempatan yang melimpah untuk Alex Iwobi. Pemain muda berdarah Nigeria tersebut merupakan jebolan akademi Arsenal. Produk asli yang mampu menembus tim utama. Pun tak mengecewakan ketika diberi tanggung jawab.

Naiknya Iwobi ke tim utama tak bisa dilepaskan dari buruknya performa Alex Oxlade-Chamberlain dan cedera panjang yang diderita Theo Walcott musim lalu. Kejutan menyenangkan ia sajikan ketika menggantikan kedua seniornya.

Pinggirkan soal catatan gol Iwobi. Perhatikan bagaimana caranya membangun kepercayaan dengan pemain-pemain senior Arsenal lainnya. Pemain bernomor punggung 17 tersebut begitu cair ketika bermain bersama Mesut Ozil dan Alexis Sanchez. Mereka terlihat seperti sudah bermain bersama selama bertahun-tahun.

Terakhir kali seorang wonderkid Arsenal mampu langsung nyetel dengan pemain senior lainnya adalah Cesc Fabregas. Gelandang sentral yang tak canggung dengan besarnya tanggung jawab mengisi tempat Patrick Vieira. Pemain muda yang keberadaannya serasi dengan visi Dennis Bergkamp dan polah tajam Thierry Henry.

Kehadiran pemain muda seperti Iwobi menghadirkan kebahagiaan. Bukan hanya dari sisi taktik saja, tapi kebahagiaan ketika menyaksikannya bermain dengan senyum terkembang. Mengingatkan bahwa sepak bola adalah soal kebahagiaan, sebuah pemantik zat endorfin paling manjur bagi sebagian orang.

 

Perhatikan bagaimana Iwobi berlari. Kaus kakinya yang rendah nampak bergerak begitu cepat. Happy feet, ia bergerak dengan kelincahan yang menyenangkan untuk mata. Ia tak canggung dengan duel fisik. Bahkan mungkin, ia menikmatinya. Menikmati setiap menit yang ia lahap di setiap laga.

Sebuah kebahagiaan yang sudah mengalir deras dalam nadinya. Darah legenda dari Nigeria, seorang pemain underrated yang senyum di bibirnya tak kalah manis dibandingkan senyum Ronaldinho. Namanya Augustine Azuka “Jay-Jay” Okocha, seorang seniman kelahiran 14 Agustus 1973.

Okocha adalah cerminan paling jelas untuk seorang seniman lapangan hijau. Ia cekatan, cerdik, punya banyak tabungan trik, dan yang paling penting, ia menghibur para penikmat sepak bola. Ia tak hanya ingin menang. Okocha memberikan berkah. Membahagiakan orang lain merupakan tabungan ke surga, bukan?

Saking bagusnya, orang-orang tak menemukan “julukan” yang paling cocok untuk Okocha. Maka sebut saja namanya dua kali, “Jay-Jay”. Bukankah terkadang, mendeskripsikan keindahan merupakan pekerjaan yang tak gampang. Penamaan “Jay-Jay” sebenarnya warisan dari kakaknya, Emmanuel, yang lebih dahulu bermain sepak bola.

Seperti iwobi yang tak gentar dengan tanggung jawab, Okocha pun akrab dengan ekspektasi. Saat diboyong Paris Saint-Germain, Okocha meneruskan nomor punggung 10.

 

Okocha memang tak sukses bersama PSG karena rentetan cedera. Namun ia dicintai oleh para fans. Ia dicintai, dan terkadang, perasaan ini yang paling penting.

Okocha baru benar-benar memenuhi ekspektasi yang dibebankan kepada kehebatannya ketika hijrah ke Inggris. Bolton Wanderers, yang saat itu diasuh Sam Allardyce, menawarkan sebuah panggung untuk bersinar. Hasilnya luar biasa, Bolton dan Okocha saling melengkapi. Keduanya jatuh cinta berkali-kali. Keduanya menemukan kebahagiaan.

Menjadi sosok vokal di tengah skuat Bolton yang bermain agresif, Okocha mekar sepenuhnya. Ia bebas “berkeliaran” di depan. Bebas menunjukkan kebolehan yang menegaskan kenapa namanya ditulis dua kali. Catatan 124 laga bersama Bolton merupakan bulan madu yang berulang. Ia menjadi legenda The Trotters.

BACA JUGA:  Christian Vieri: Nostalgia Striker Klasik

Dicintai merupakan hadiah yang berharga. Artinya, keberadaanmu tak hanya dirasakan, namun dirayakan. Iwobi, yang mewarisi darah kebahagiaan dari pamannya, sudah diterima di tengah skuat Arsenal yang berwarna. Setiap akhir pekan, ketika nama Iwobi tertera dalam daftar skuat, adalah perayaan akan kebahagiaan.

Atas kebahagiaan yang akan Gooners rayakan selama beberapa tahun ke depan, menyematkan nama “Jay-Jay” di depan nama pendek Iwobi merupakan salah satu penghargaan. Rasa terima kasih yang diberikan di depan, atas gol-gol indah, gocekan aduhai, dan kerja sama manis yang Iwobi akan berikan.

Panggil dia “Jay-Jay Iwobi”, untuk seorang pemain muda, yang tahu bagaimana bersenang-senang sekaligus membahagiaan orang lain. sosok pemain muda yang mentas dengan kesadaran tanggung jawab melanjutkan sesuatu yang “besar”.

Anda boleh memasukkan nama Hector Bellerin dalam daftar ini. Pemain-pemain muda yang akan menjadi tulang punggung Arsenal, yang akan disemai di masa depan.

#COYG

 

Komentar
Koki @arsenalskitchen.