Persaudaraan dalam Derbi Hai Van

Di sudut riuh sebuah dermaga bernama Hoi An, kapal-kapal dari Cina dan Jepang berdatangan dan disambut gemuruh pedagang yang sudah menunggu di tepian dermaga. Transaksi pun tercipta, membawa berbagai koin. Di sudut yang lain, ada pedagang dari India menawarkan susu dan kulit domba, juga ada pedagang asal Persia yang memadu kasih dengan gadis lokal penjaja ikan hasil tangkapan ayahnya.

Aneka keramik diperjualbelikan, salah satunya porselen khas abad ke-15. Remaja-remaja tanggung berdatangan, setidaknya melihat apa yang saudagar-saudagar negeri sebelah itu niagakan. Akulturasi budaya pun tak bisa terelakkan.

Abad demi abad berlalu, dermaga eksotik itu makin tak kuasa membendung laju zaman. Kapal-kapal kian bertransformasi, akses masuk menuju dermaga Hoi An sudah tak mungkin terjadi. Namun, Vietnam bagian tengah tak lantas kehilangan pesonanya dalam hal industri. Kini, beberapa kilometer dari sana, muncul pelabuhan Da Nang sebagai pusat industri baru Vietnam bagian tengah.

Bak sebuah mutualisme, Hoi An, yang bertempat di Provinsi Quang Nam, sekarang menjadi situs warisan dunia menurut UNESCO. Sementara Da Nang adalah pintu masuk terbaik bagi para wisatawan guna menuju tempat tersebut.

Tidak hanya kebudayaan dan sejarah, sepakbola dari dua tempat ini juga menyimpan kisah yang begitu unik dan membuka tataran tersendiri dari makna sebuah derbi. Alih-alih bersaing sebagaimana Liverpool dan Manchester United sebagai representasi kota pelabuhan serta industri, mereka memilih tapak kaki yang berbeda.

Paradoks Kelas Pekerja

Provinsi Quang Nam dan Provinsi Da Nang setidaknya memiliki corak-corak sendi kehidupan yang sama yakni mengandalkan aktivitas pelabuhan. Baik Quang Nam masa lampau melalui pelabuhan Hoi An, juga Da Nang pada masa kini.

Selain napas kehidupan, sepakbola mereka pun memiliki aliran darah yang sama. Setidaknya terdapat DNA yang persis dalam tubuh CLB Quảng Nam dan CLB Đà Nẵng. Mengalir secara bersamaan melalui pembuluh-pembuluh darah bernama sejarah yang serupa.

“Bongkar pasang” provinsi sudah biasa terjadi di Vietnam. Apalagi, Vietnam pasca-reunifikasi Utara dan Selatan. Provinsi Quang Nam dan Provinsi Da Nang pernah menjadi satu bagian dalam sejarah Vietnam. Perkembangan sepakbola berangsur pesat, dari Utara menuju Selatan. Pada 1976, tonggak sejarah sepakbola Vietnam bagian sentral pun tercipta. Yakni Quảng Nam-Đà Nẵng F.C (berikutnya ditulis QN-DN FC) sebagai representasi kedaerahan provinsi ini.

BACA JUGA:  Nostalgia Winning Eleven dan Menjadi Penggemar Liverpool

Akan tetapi, mereka sempat mengalami paceklik berkepanjangan pada era 1980-an akibat permasalahan arus logistik yang mengalir di Vietnam. Hidup segan, mati tak mau adalah istilah yang pas menggambarkan keadaan QN-DN FC pada masa tersebut. Bagaimana tidak, selama beberapa tahun, mereka tidak menghasilkan apapun dalam dunia sepakbola Vietnam ketika Utara diwakilkan kekuatan The Cong, sedangkan Cang Sai Gon menjadi representasi bagian Selatan.

Revolusi besar-besaran terjadi pada tahun 1986. Para pemimpin provinsi memutuskan untuk membangun ulang tim dengan nama Quảng Nam-Đà Nẵng Workers FC. Tersemat kata worker dikarenakan napas dari klub ini adalah buruh kapal yang bekerja di pelabuhan Da Nang.

Memori beberapa abad silam pun kembali dipupuk, bahwa kekuatan utama tim ini berasal dari sektor kelas pekerja industri perkapalan. Sebanding dengan kemajuan Da Nang kala itu yang menjadi sebuah kota industri pelabuhan yang begitu padat di Vietnam, bahkan di Asia Tenggara.

Lepas dari itu, ada beberapa tokoh yang berlatarkan kelas pekerja selain sektor perkapalan. Sebut saja Trần Minh Toàn dari pabrik Ôtô Hội An, salah satu pabrik otomotif di Hoi An. Le Van Sinh yang berasal dari distrik Đại Lộc. Mereka dilatih oleh Vũ Văn Tư, salah satu legenda tim kuat Utara, Hải Phòng.

Dengan komposisi pemain muda dan senior, ditambah dengan pelatih berpengalaman, klub ini berhasil meraih peringkat pertama dalam ajang A2 (kompetisi semi-profesional) edisi 1986 sekaligus memiliki hak untuk bermain di kasta teratas sepakbola Vietnam pada musim berikutnya.

Pemaknaan Derbi

Memasuki masa 1995, klub ini kembali mengalami pasang surut setelah dua belas pertandingan mereka jalani hanya sanggup memenangkan tiga laga dengan sisanya adalah kekalahan. Hal ini seakan diperparah ketika 1997, Quang Nam dipisah secara otonomi oleh Pemerintah Vietnam—semacam pemekaran—menjadi sebuah provinsi baru. Sepakbola Vietnam yang saat itu sangat kental dalam basis kedaerahan, memaksa QN-DN FC bercerai karena sudah tidak lagi satu homebase. Quang Nam membangun kekuatan baru dengan nama SHB Quang Nam yang didirikan pada tahun 1997. Memiliki markas Stadion Tam Kỳ yang terletak di ibukota provinsi, Tam Kỳ.

Kini, Da Nang direpresentasikan oleh CLB Da Nang, sedangkan Quang Nam diwakilkan kekuatan CLB Quang Nam. Membangun narasi persaingan di antara mereka pun terbilang mudah. Utamanya terkait gengsi dalam tajuk derbi di kawasan Vietnam Tengah.

BACA JUGA:  Menghormati Handanovic

Membawa konflik sejarah pun tak kalah megah. Bagai Liverpool dan Manchester United di Inggris sebagai dua kota yang berhubungan, Da Nang dan Quang Nam pun sama. Manchester yang berlatar kota industri, bergantung pada Liverpool yang berbasis kota pelabuhan, begitu pun dengan Liverpool yang bergantung pada Manchester. Namun sejak kanal Manchester dibangun, kapal-kapal memilih untuk singgah langsung di Manchester sehingga merugikan perekonomian Liverpool. Semenjak itu rivalitas antara penduduk kedua kota muncul. Bukan hanya perekonomian, juga melebar dalam ranah sepakbola.

Malahan, kebanyakan orang menyebut rivalitas ini dengan sebutan Derbi Hải Vân. Hải Vân sendiri merupakan sebuah rute yang melintasi Pegunungan Annamite menuju Laut Timur Vietnam di perbatasan Da Nang dan Hue. Rute tersebut melintasi Quang Nam dan Da Nang sehingga laga derbi dari keduanya disematkan nama rute yang membentang melewati kedua provinsi ini.

Persaingan dua tim ini seakan menggusur hegemoni pengertian bahwa derbi itu harus ada konflik yang melandasinya. Pada tahun 2017, suporter Quang Nam dari Tam Ky menghadiri laga bertajuk Derbi Hải Vân ini. Mereka memasuki kandang SHB Da Nang—Stadion Hòa Xuân—dengan mulus. Bahkan, basis suporter ini merentangkan sebuah spanduk bertuliskan, “Dù kết quả thế nào, chúng ta vẫn là anh em,” yang memiliki arti, Apapun hasilnya, kita masihlah saudara.

Persaingan adalah adalah hal mutlak dalam sepakbola. Namun terkadang, persaingan dan kekerasan adalah dua hal berbeda yang dileburkan menjadi satu. Batas-batas pembedanya menjadi rancu. Dalam sebuah derbi bertajuk Hải Vân, kita diberikan kemewahan bahwa sepakbola tetap seksi walau tak menyenggol terma kekerasan. Selama persaingan dipupuk sewajarnya. Tidak kurang, pun tidak lebih (mengarah ke kekerasan).

Derby adalah cara kita menganggap sebuah nilai dalam pertandingan, baik dilihat dari posisi, keadaan dan tajuk pertandingan tersebut. Memang begitu luas, hampir menyerupai big match, namun sebuah derbi bisa datang dari kasta apa saja dengan tujuan membawa sebuah kebanggaan, nilai orisinal dari sebuah daerah, budaya, tradisi, adat, agama, hingga latar belakang pekerjaan. Semuanya berpadu sedemikian rupa tapi eksotis dalam wujud sepakbola. Derbi Hai Van merupakan salah satunya.

Komentar
Penggemar sepakbola Asia Tenggara. Selain memimpikan Indonesia melawan Thailand di partai puncak Piala Dunia, juga bercita-cita mengarsipkan sepakbola Asia Tenggara. Dapat disapa di akun twitter @gustiaditiaa