Persekat dan Mimpi Promosi

Mendengar nama Persekat, mungkin banyak dari kita yang mengernyitkan dahi. Maklum saja, mereka cuma tim kecil yang bermukim di pesisir utara Jawa Tengah, tepatnya Tegal.

Kesebelasan yang kini bersaing di Liga 2 ini memang baru saja promosi dari Liga 3. Namun sampai pekan kelima Liga 2 musim ini, mereka sudah mengumpulkan 9 poin dan duduk di peringkat ketiga Grup B.

Mereka yang mengamati Liga 2 bahkan menilai performa Laskar Ki Gede Sebayu sangat bagus serta layak bersaing di level Liga 1.

Sepanjang sejarah berdirinya klub yang lahir pada tahun 1962, berkompetisi di kasta kedua Liga Indonesia merupakan pencapaian terbaik.

Biasanya Persekat hanya berkutat di Liga 3 atau dulu bernama Liga Nusantara, itu pun mereka hanya sekadar berpartisipasi tanpa adanya target untuk naik kasta.

Jika dibandingkan dengan tetangga di Pantura seperti Brebes, Pemalang, Pekalongan hingga Kudus, progres Persekat tiap tahun memang cenderung jalan di tempat.

Setiap mengikuti kompetisi Liga 3 tingkat provinsi, Persekat tidak jauh dari dasar klasmen. Alhasil melihat mereka tampil di level lebih tinggi pun ibarat mimpi.

Sebetulnya, ada banyak hal yang menghambat perkembangan Persekat. Mulai dari tidak adanya keseriusan dari Pemerintah Kabupaten Tegal hingga konflik politik yang terjadi di tubuh kepengurusan Persekat sendiri.

Laskar Ki Gede Sebayu bak anak tiri yang tidak mendapatkan perhatian. Beruntung mereka punya suporter fanatik yang selalu berdiri mendampingi dalam keadaan apapun.

Faktanya memang tiap tahun sebelum kompetisi dimulai, suporter Persekat-lah yang selalu mendesak kepada manajemen, Asosiasi Kabupaten (Askab), hingga Pemkab agar tim segera mendaftar dan ikut kompetisi.

Sering kali, mereka baru mendaftar di detik-detik akhir sehingga skuadnya terkesan seadanya lantaran dipersiapkan secara mendadak.

Saat Persekat promosi dari Liga 3 di tahun 2019 pun cerita kelam itu masih terjadi. Pada awal musim tidak ada kejelasan apakah tim akan ikut kompetisi atau tidak.

Suporter pun melakukan pergerakan bertemu dengan manajemen agar Persekat bisa ikut kompetisi Liga 3.

BACA JUGA:  Jaga Manahan Kita

Siapa yang menyangka kalau di akhir musim Persekat menjadi klub yang mampu promosi ke Liga 2 di antara ratusan tim lain yang bersaing di kompetisi Liga 3 pada musim itu.

Cerita indah setengah mustahil itu benar-benar terjadi, Persekat promosi ke Liga 2 dengan segala keterbatasan yang ada.

Kelamnya cerita tersebut kini mulai berlalu. Pelan-pelan, Persekat coba membuka lembaran baru dan berusaha mengukir sejarah di kompetisi Liga 2.

Sebenarnya debut resmi Persekat di Liga 2 terjadi pada musim kompetisi tahun 2020. Saat itu Persekat dilatih oleh Nazal Mustofa dan diperkuat beberapa pemain berpengalaman seperti M. Roby, Amarzukih, dan Qischil Minny.

Nahas, mereka harus menelan pil pahit saat laga perdana setelah keok di tangan Muba Babel United dengan skor 0-3.

Belum sempat bermain kandang dan disaksikan oleh puluhan ribu masyarakat Tegal yang haus akan hiburan, kompetisi terpaksa dihentikan karena pandemi COVID-19 melanda di seluruh dunia.

Kian ironis, kelanjutan kompetisi saat itu tak pernah jelas. Federasi pernah merencakan kompetisi pada bulan Agustus 2020, tapi gagal.

Lalu rencana berikutnya muncul yakni bulan Oktober atau November, hasilnya sama saja. Stadion Tri Sanja pun batal mengadakan ‘pesta’.

Ketika federasi mengumumkan bahwa Liga 2 musim 2021 pasti digelar, semangat baru lahir di tubuh manajemen dan suporter.

Walau laga takkan menyambangi kota Tegal sebab diselenggarakan terpusat di wilayah tertentu, setidaknya asa untuk melihat Persekat kembali berlaga terwujud.

Putu Gede kemudian ditunjuk sebagai nakhoda anyar. Sejumlah juga direkrut guna mengarungi kompetisi, baik melalui proses seleksi atau pun rekomendasi tim pelatih dan manajemen.

Agung Supriyanto, Moniega Bagus, Munhar, Soni Setiawan, Utam Rusdiana, sampai Yericho Christiantoko pun sah menjadi gacoan anyar Laskar Ki Gede Sebayu.

Mereka menjadi mentor bagi pemain muda seperti Chrystna Bagascara, Firmansah, serta beberapa pemain asli Tegal.

BACA JUGA:  Sepakbola yang Tidak Penting di Indonesia

Mempunyai pelatih sekelas Putu Gede menjadi berkah untuk Persekat. Pengalamannya yang segudang membantu tim untuk tampil bagus.

Persiapan yang dilakukan dari bulan April silam mulai terlihat hasilnya. Persekat tak hanya meramaikan ajang Liga 2 di Grup B tetapi ikut bersaing memperebutkan tiket promosi ke Liga 1.

Putu Gede gemar menggunakan pola dasar 4-4-2. Anak asuhnya diinstruksikan untuk bermain cair dan banyak menguasai bola.

Tak heran bila statistik mencatat kalau Persekat memiliki rataan umpan sebanyak 400 kali per laga. Akurasi umpan mereka pun mencapai 80 persen.

Pelatih berdarah Bali tersebut memang ingin mengubah kebiasaan tim yang gemar memainkan umpan panjang dan terlalu banyak berlari.

Putu Gede betul-betul memaksimalkan tenaga pemainnya yang dihuni skuad tua dan muda.

Utam dipercaya mengisi pos penjaga gawang. Sementara kuartet di sektor pertahanan ditempati oleh Arif Budiyono, Munhar, Soni, dan Yericho.

Bergeser ke tengah, Chrystna dan Firmansah menjadi poros andalan. Keduanya diapit Arif Suyono dan Samsudin sebagai gelandang sayap.

Sementara area depan dihuni oleh Agung dan Moniega. Keduanya pun terbilang duet yang produktif.

Selain nama-nama di atas, Persekat masih mempunyai Adhe Owen, Daud Kararbao, M. Ridwan, dan Riki Dwi di bangku cadangan. Hal ini membuat kedalaman skuad Laskar Ki Gede Sebayu cukup mumpuni.

Perjuangan merebut tiket ke fase gugur demi jatah promosi ke Liga 1 memang masih panjang. Namun dengan performa mereka sejauh ini, Persekat layak memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

Walau digoyang isu pengaturan skor kala bersua Perserang, fokus pelatih dan pemain harus tetap ada di lapangan.

Agung dan kolega mesti berjuang dengan maksimal di sisa laga yang ada. Promosi atau tidak, semuanya akan terjawab di pengujung kompetisi.

Hal terpenting adalah Persekat selalu tampil 100 persen dan punya tekad untuk menghibur masyarakat Tegal yang senantiasa memberi dukungan di kasta manapun mereka berlaga.

Komentar