Frank Rijkaard dan Parade Ludah

Gelandang terbaik, dengan segala keistimewaan yang diangankan oleh para pemain gelandang. Saya belum pernah menjumpai gelandang yang sama bagusnya sebagai bek maupun penyerang. Kekuatan fisiknya luar biasa! —Franco Baresi

Salah satu gelandang bertahan terbaik dalam sejarah sepakbola. Franklin Edmundo Rijkaard bermain di beberapa klub terbaik Eropa; Ajax, Real Zaragoza, dan AC Milan—yang dibuatnya menjadi salah satu klub terbaik sepanjang masa. Di sana ia dipertemukan dengan dua Belanda lain; Marco van Basten dan Ruud Gullit

Rijkaard lahir dari seorang ibu asli Belanda dan ayah Suriname. Dalam usia masih 17 tahun ia sudah melakukan debut untuk tim senior kota kelahirannya; Ajax Amsterdam dan langsung mencetak hattrick. Selama tujuh setengah musim Rijkaard yang bermain di berbagai posisi selain kiper dan striker ini mempersembahkan tiga gelar Liga Belanda, tiga Piala Belanda, dan satu Piala Winners.

Sebelum datang ke kota Milan, Rijkaard sempat terlibat cekcok dengan pelatih barunya di Ajax; Johan Cruyff. Ia pun pergi untuk menandatangani kontrak dengan Sporting Lisbon. Sayangnya, Rijkaard terlambat dalam penandatanganan dan dalam aturan Liga Portugal ia tidak diperkenankan bermain—meskipun masih milik klub. Akhirnya Rijkaard hijrah ke Real Zaragoza sebagai pemain pinjaman.

Tragedi ludah

Hanya satu musim di Zaragoza, ia segera diboyong Silvio Berlusconi, Presiden AC Milan, dalam proyek ambisius untuk menguasai Eropa. Arrigo Sacchi, pelatih Milan saat itu, menilai skill dan power Rijkaard memainkan peranan penting. Bermain sebagai pemain jangkar yang agresif Rijkaard bersama kedua rekan senegaranya  menguasai Serie A dan Liga Champions. Bahkan di final Liga Champions 1990, ia mencetak satu-satunya gol dan mempersembahkan gelar Liga Champions untuk Milan

BACA JUGA:  Menyanjung Georginio Wijnaldum

Rijkaard menjadi bagian dari tim Belanda yang menjuarai Euro 1988 setelah mengalahkan Uni Soviet 2-0. Bersama Ronald Koeman, ia berjibaku sebagai bek tengah yang kokoh. Bermain untuk 73 kali dan mencetak 10 gol, angka yang tidak buruk mengingat posisinya sebagai bek tengah.

Bermain juga di Piala Dunia 1990, Rijkaard terlibat insiden dengan legenda Jerman, Rudi Voller. Tensi pertandingan ini sangat panas, “Ada semacam sentimen antarpemain, kau tahu, masalah antara orang Jerman dengan orang Belanda,” jelas Voller.

Voller dijaga ketat oleh Rijkaard pada babak 16 besar di San Siro ini. Ada momen di mana Rijkaard melakukan tindak tidak terpuji dengan melanggar Voller—sekaligus— sedikit meludah. Tidak terima Voller protes ke wasit karena ada intimidasi non teknis yang diterimanya, bukannya mendengar, Loustau saat itu justru memberi keduanya kartu kuning.

Beberapa menit berselang. Dari sebuah momen set piece Voller jatuh di kotak penalti Belanda. Hans van Breukelen, kiper Belanda marah-marah karena Voller dianggap melakukan diving.

Cekcok beberapa detik di dekat gawang, Rijkaard mendekat, situasi malah semakin memanas dan sebelum kembali ke permainan Rijkaard kembali meludahi rambut Voller. Pemain Jerman ini jelas tidak terima, namun wasit justru mengartumerahkan keduanya.

Untungnya Rijkaard mendapatkan ganjaran, Belanda gagal mengalahkan Jerman yang akan menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya di negeri di mana Rijkaard mencari nafkah.

“Tentu saja apa yang Frank Rijkaard lakukan itu tidak baik, tapi pertandingan harus dilanjutkan. Saya masih tidak bisa mengerti kenapa wasit mengeluarkan saya, ini pertanyaan yang akan saya ajukan bahkan sampai di kuburannya,” ujar Voller masih tidak menerima keputusan wasit saat itu.

Dua tahun kemudian Rijkaard mencetak dua gol di semifinal Euro 1992 melawan Denmark. Skor sama kuat 2-2 dan Belanda harus mengakui tim dinamit yang mengejutkan dunia karena akhirnya menjadi juara Eropa. Piala Dunia terakhirnya terjadi ketika harus menderita kekalahan dari Brasil di perempat final Piala Dunia 1994.

BACA JUGA:  Hitam dan Putih Claudio Marchisio yang Abadi

 

Komentar
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab