Rindu Melihat Klub Gresik Kembali Meraih Gelar Juara Liga Indonesia

Saat itu, Jakarta sedang mendung. Tapi belum hujan. Setidaknya sampai kick off babak pertama final Liga Indonesia 2001/2002.

Gol cepat Ilham Jayakusuma, membuat kami tersentak. Bagi saya, yang saat itu masih belum tahu banyak tentang sepak bola, apalagi sepak bola Gresik, itu biasa saja. Tapi bagi saudara-saudara saya dan yang lainnya, kenangan buruk tujuh tahun sebelumnya kembali merasuk ke sela-sela ingatan mereka.

Tujuh tahun sebelumnya, saat Ligina digelar untuk pertama kali. Petrokimia Putra Gresik (selanjutnya disebut Petro Putra), gagal menjadi juara.

Saat itu, pendukung Petro Putra merasa timnya dicurangi. Gol Jacksen F. Tiago dianulir dan berujung pada kemenangan Persib Bandung melalui gol yang dicetak Sutiono.

Padahal saat itu, skuat Petro Putra sungguh menawan. Jacksen, Carlos de Mello, Suwandi HS, Eri Irianto (yang meninggal saat membela Persebaya), dan Widodo C Putro, adalah pemain yang membela Petrokimia Putra saat itu.

Hujan pun turun. Senayan tiba-tiba saja nampak begitu menyeramkan. Dinginnya malam itu, terasa menusuk jantung. Ditambah dengan masih gagalnya serangkaian usaha para pemain di lapangan.

Saat itu, tendangan bebas dari tengah lapangan. Sasi Kirono, yang saat ini menjadi asisten di Gresik United, menjadi algojo tendangan bebas. Free kick-nya mampu membingungkan pertahanan Persita Tangerang, dan diterima dengan baik oleh Samuel Celbi. Baaam! skor imbang 1-1.

Hujan semakin deras. Tak bisa ditutupi, kualitas rumput GBK saat itu tidak terlalu bagus. Ditambah dengan drainase yang juga tak cukup mumpuni. Pertandingan dihentikan sementara.

Hujan reda, dan pertandingan dilanjutkan. Sampai waktu normal, skor masih imbang, 1-1. Pertandingan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Saat itu, masih memakai sistem golden goal. Yang cetak gol duluan langsung menang.

Yai Eloi, mencoba merangsek ke pertahanan Persita. Ia dijatuhkan tepat di depan bench Persita. Sasi Kirono lagi-lagi ditunjuk menjadi algojo.

Saat itu, kondisi lapangan masih becek. Sasi menendang bola. Pemain Persita salah mengantisipasi bola. Bola mengarah ke kaki Jaenal Ichwan, namun berhasil ditepis oleh Ahmad Kurniawan. Tapi bola mengarah ke kaki Yao Eloi yang tak terkawal. Boooom! Gol yang berarti kemenangan untuk Petro Putra.

BACA JUGA:  Serie B dan Seikat Kenangan Masa Silam

GBK seakan terbagi dua. Bagi benteng viola, GBK seakan seperti neraka. Dan bagi Ultras Gresik, GBK ibarat surga.

Cak Pelus, dirigen Ultras Gresik, turun ke lapangan. Tak ada yang saya ingat lagi, selain Sergei Dubrovin digendong seluruh pemain dan piala yang diberikan ke Petrokimia Putra. Ah, ada lagi yang bisa saya ingat. Yakni tangisan seluruh rombongan yang datang dari Gresik. Tak terkecuali saya. Bocah yang baru duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.

Petro Putra saat itu dihuni oleh nama-nama seperti Mukti Ali Raja, Sasi Kirono, H. Khusaeri, Yance Katehokang, Jaenal Ichwan, Widodo, hingga Yao Eloi. Ya, itulah skuat pertama yang begitu saya banggakan dan cintai. Oh ya, Sergei Dubrovin. Pelatih pertama yang mampu meluluhkan hati kecil saya dulu.

Dan itulah awal pertemuan saya dengan sepak bola. Olahraga paling ngeselin di kolong langit. Bukan berarti saya tak rajin nonton sepak bola sebelumnya, tapi itu adalah pertama kalinya, saya datang ke stadion untuk menyaksikan tim yang akhirnya menjadi embrio dari Gresik United, menjadi juara.

Itu pula pertama kalinya saya menangis karena sepak bola. Biasanya, saya nangis kalau ayah ibu saya tak kasih izin saya main keluar rumah. Atau karena saya kena marah karena berantem. Ya, ciri khas kehidupan anak kecil.

Sebelumnya saya pernah datang ke Jatidiri, Semarang. Ya, saat saya TK, saya tinggal di Semarang. Tapi darah ngGresik saya begitu kental mengalir. Hal itu pula yang menjadi alasan kenapa Gresik United begitu mengena di hati saya.

Waktu berlalu. Belum ada satu pun prestasi manis kembali. Jangankan prestasi, lolos ke kasta tertinggi pun susah. Lolos ke ISL pun karena dualisme liga. Maklum, Gresik United bukanlah klub besar yang mampu beli segalanya. Jangan tanya tradisi juara. Sekadar duduk di papan atas pun kami tak pernah.

BACA JUGA:  Mengenang Achmad Kurniawan

Terbersit rasa iri di dalam hati kami. Saya menyebut kami, karena saya yakin, semua Ultrasmania pasti iri dengan keberhasilan klub lain. Bohong kalau tak ada yang iri dengan kesuksesan Arema, Persipura, Persib, atau Sriwijaya FC.

Tapi kami bisa apa. Kami tak bisa menuntut manajemen klub untuk berprestasi, karena memang nasib klub kami tak jauh beda dari Genoa ataupun Sunderland di Eropa. Klub medioker. Jangankan juara, tak degradasi saja kami sudah senang bukan main.

Asal di Gresik ada sepak bola, bagi kami itu sudah luar biasa bahagianya. Makanya, ketika ada keinginan dari sebagian Ultrasmania untuk menjadi juara, saya cuma bisa tersenyum kecut.

Dan saya ingat pesan ayah saya, “Dukung klub kecil itu cuma bisa pasrah. Gak bisa nuntut aneh-aneh. Sudah ada sepak bola saja kita bersyukur.”

Kalian boleh saja menertawai kami, sebagai suporter pemimpi. Suporter yang bermimpi melihat klub idolanya menjadi juara. Tapi inilah kenyataannya. Kami tak bisa menertawai kalian dengan membanggakan loyalitas kami. Tidak bisa. Kalian tentu punya loyalitasnya sendiri. Dan kalau kami melakukannya, kalian akan menertawai balik kami, sembari menunjukkan beragam prestasi.

Atau kalian ingin menyarankan kami untuk hijrah atau murtad dan mendukung klub lain yang punya tradisi juara? Jangan sekali-sekali mencobanya. Atau kalian akan mendengarkan kultum dari kami tentang pentingnya menjaga identitas kami.

Tapi, suporter mana yang tidak ingin klub idolanya juara. Kami pun sama. Di dalam lubuk hati terdalam, kami pun ingin juara. Entah sampai kapan kami menunggu keinginan itu terkabul. Salam hormat, Ultras Gresik, Suporter Pemimpi.

 

Komentar
Penulis adalah seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Mencintai sepakbola seperti mencintaimu. Penikmat Sepak bola Indonesia dan Italia. Dikontrak seumur hidup oleh Gresik United dan AS Roma dengan kepimilikan bersama atau co-ownership. Yang mau diskusi tentang sepak bola ataupun curhat tentang cinta, bisa ditemui di akun twitter @alipjanic .