Rivalitas Manchester United dan Liverpool serta Dua Tragedi Kemanusiaan

Pada tanggal 1 January 1894, Kanal Manchester untuk pertama kalinya digunakan. Kanal ini adalah sarana bagi kapal untuk singgah di Kota Manchester yang dikenal sebagai kota industri.

Kanal ini pula yang memantik persaingan antara penduduk Kota Manchester dan penduduk Kota Liverpool. Persaingan tersebut nantinya akan menghasilkan rivalitas antara Manchester United dan Liverpool bertajuk North West Derby.

Sebelum Kanal Manchester dibangun, Manchester dan Liverpool adalah dua kota yang saling melengkapi. Berkembang dalam kultur yang sama sebagai kaum pekerja, penduduk kedua kota ini saling bersimbiosis dalam perekonomian.

Manchester sebagai kota industri yang menghasilkan barang bersinergi dengan Liverpool sebagai kota pelabuhan yang menjadi jalur masuk keluarnya barang-barang tersebut. Namun sejak Kanal Manchester dibangun, kapal-kapal memilih untuk singgah langsung di Manchester sehingga merugikan perekonomian Liverpool. Semenjak itu rivalitas antara penduduk kedua kota muncul.

Hal senada pernah diungkapkan Sir Alex Ferguson. “Liverpool selalu menjadi rival dan tidak akan berubah. Ini bukan karena posisi di liga, tapi juga secara geografis sejak Daniel Adamson membangun kanal untuk kapal berlabuh yang menjauh dari Liverpool ke Manchester,” ucapnya.

Rivalitas meluas ke ranah sepak bola. Pada era lawas Liga Primer Inggris, Manchester United dan Liverpool silih berganti memimpin persaingan gelar. Persaingan semakin panas setelah Perang Dunia II berakhir.

Pada 1945, Matt Busby yang baru 2 tahun pensiun sebagai pemain ditawari posisi sebagai pelatih Liverpool. Namun, Ia menolak karena manajemen Liverpool tidak bersedia memberikan kebebasan kepada Matt untuk mengatur timnya sendiri.

Pada akhirnya, Busby memutuskan melatih Manchester United. Bersama Manchester United, Busby mengukir sejarah indah dengan mempersembahkan 5 trofi liga, 2 Piala FA, 5 FA Charity Shield, dan 1 European Cup.

Busby juga berhasil memoles trio Denis Law, Bobby Charlton, dan George Best yang di era modern dijuluki United Trinity. Sebagai catatan, Matt Busby adalah mantan pemain Liverpool yang pernah mengemas 3 gol dari 115 laga.

Melihat menterengnya prestasi Matt Busby, mungkin petinggi Liverpool saat itu susah tidur karena dirundung penyesalan karena gagal meyakinkannya untuk duduk di kursi pelatih. Pada 1959, manajemen The Reds berhasil move on setelah menunjuk Bill Shankly menjadi pelatih. Selama melatih, Shankly mempersembahkan 3 Liga Inggris, 2 Piala FA, 4 FA Charity Shield, dan 1 UEFA Cup.

BACA JUGA:  Awal Manis Unai Emery Bersama Aston Villa

Era Matt Busby yang dilanjutkan United Trinity di Manchester United bersamaan dengan era Bill Shankly di Liverpool merupakan rivalitas besar di Inggris pada kurun waktu 1945-1973. Namun setelah itu, Manchester United terpuruk bahkan sempat terdegradasi.

Lain nasib dengan Liverpool yang semakin bersinar hingga ke kancah Eropa. Dimotori oleh Kenny Dalglish, baik sebagai pemain maupun pelatih, The Kop berhasil meraup 9 trofi liga, 3 Piala FA, 5 Piala Liga, 7 FA Charity Shield, 3 European, Cup dan 1 UEFA Super Cup. Saat itulah Liverpudlian menari-nari di atas penderitaan fans Manchester United yang sedang menghadapi kenyataan pahit.

Kebangkitan Manchester United dari keterpurukan diawali dengan penunjukan Sir Alex Ferguson pada 1986. Keputusan petinggi Manchester United yang pada akhirnya menjadi sebuah perjudian sukses.

Salah satu langkah Sir Alex di awal kepelatihannya adalah mempromosikan sekelompok pemuda pada 1992 yang nantinya disebut Class of 92. Pemuda-pemuda ini mengambil peran besar dalam kebangkitan Manchester United termasuk gelar treble dramatis pada tahun 1999.

Selama pengabdiannya, Sir Alex berhasil mempersembahkan 13 trofi liga, 5 Piala FA, 4 Piala Liga, 10 FA Charity Shield/Community Shield, 1 UEFA Winners Cup, 2 Liga Champions, 1 UEFA Super Cup, 1 Intercontinental Cup, dan 1 FIFA Club World Cup.

Pada era manajer asal Skotlandia itu juga, Manchester United berhasil menyalip torehan gelar Liga Inggris yang dikumpulkan Liverpool, sekaligus menjadi klub dengan raihan gelar liga terbanyak.

Bersamaan dengan kebangkitan Manchester United, Liverpool malah puasa gelar. Dalam kurun waktu tahun 1992 hingga sekarang, Liverpool hanya mendapat 2 Piala FA, 4 Piala Liga, 2 Community Shield, 1 Europa League, dan 1 Liga Champions, dan 2 UEFA Super Cup.

Gelar Champions League pada tahun 2005 bahkan harus diraih dengan susah payah melalui drama berjudul “Miracle of Istanbul”.

Di luar lapangan, rivalitas meluas dengan cukup unik. Garry Neville dan Jamie Carragher yang sama-sama pernah menjadi kapten Manchester United dan Liverpool kerap kali saling olok ketika menjadi pundit bagi salah satu televisi olahraga.

BACA JUGA:  Dongeng Kroasia di Tanah Prancis

Saat ini, rivalitas Manchester United dan Liverpool memasuki era baru. Kedua klub sedang membangun kejayaannya kembali. Manchester United yang linglung setelah ditinggal sang legenda, Sir Alex Ferguson, mencoba menggunakan jasa Jose Mourinho.

Di sisi lain, The Anfield Gank, yang selama dua dekade menjadi bahan ejekan fans Manchester United mengharapkan magis Jurgen Klopp dengan Heavy Metal Football-nya.

Sebagai penganut sekte pemuja Setan Merah (baca: fans Manchester United), kebencian kepada Liverpool juga mengalir dalam darah penulis. Penulis juga ikut tersenyum saat Steven Gerrard mewarnai North West Derby terakhirnya dengan mendapat kartu merah hanya 38 detik setelah dirinya menginjak lapangan.

Namun penulis juga seperti kebanyakan fans Manchester United lainnya yang melakukan “gencatan senjata” dengan Liverpool setiap tanggal 15 April. Pada tanggal itu, peringatan tragedi kemanusiaan di mana 96 orang meninggal saat pertemuan Liverpool dengan Nottingham Forrest pada tahun 1989 diperingati. Tragedi tersebut dikenal dengan sebutan Tragedi Hillsborough.

Sementara itu, mayoritas Liverpudlian juga meliburkan rivalitas dengan Manchester United pada tanggal 6 Februari. Simpati mereka berikan kepada Manchester United yang sedang memperingati hari duka akibat Tragedi Munchen pada tahun 1958.

Pada saat itu, pesawat yang membawa pemain Manchester United selepas dari laga di Belgrade jatuh di bandara Munchen. Tragedi tersebut memakan korban 8 pemain dan 3 staf Setan Merah.

Berkaitan dengan kedua tragedi tersebut, Jose Mourinho juga meminta kedua kubu untuk saling memberikan penghormatan. “Tentu saja dalam sepak bola kita memiliki ‘tragedi’ sepak bola yang dapat Anda buat sebagai ejekan,” kata Mourinho dalam konferensi pers yang dilansir laman resmi Manchester United.

“Tragedi manusia jauh lebih serius dan bukan hal yang pantas digunakan seseorang di lapangan sepak bola. Kita perlu memberi penghormatan, jadi saya akan benar-benar sedih jika dalam suatu pertandingan besar terdapat hal negatif tersebut,” lanjutnya.

Rivalitas Manchester United dan Liverpool yang besar, tidak akan lebih besar dari nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan, jika sepak bola harus melibatkan tragedi kemanusiaan yang mengorbankan banyak nyawa, lebih baik sepak bola tidak pernah dimainkan.

 

Komentar
Pendukung Persiba Bantul dengan akun twitter @AndhikaGila_ng