Semoga Musim Depan Tak Seburuk Ini, Persiba Bantul

Seperti halnya klub pada umumnya, Persiba juga mengalami siklus bak roda. Klub asal Bantul tersebut terkadang berada di atas. Namun, ada juga saatnya berada di bawah, persis seperti situasi sekarang ini.

Dibentuk pada tahun 1967, namanya tidak seharum tetangga lor desa, yakni PS Sleman dan PSIM Yogyakarta. Puluhan tahun Laskar Sultan Agung hanya berkutat di divisi bawah. Sampai akhirnya tonggak ditancapkan lebih dalam pada medio 2000-an.

Langkah Persiba mulai terlihat tegas pada musim 2004/2005. Keseriusan manajemen membawa satu tempat di babak 8 besar kasta ketiga sepakbola Indonesia. Walaupun, pada akhirnya, mereka tetap gagal melaju ke babak selanjutnya.

Pembangunan kandang anyar juga diawali kala itu. Didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Bantul yang saat itu dipimpin oleh Idham Samawi, batu pertama mulai diletakkan. Nantinya, stadion itu diresmikan 3 tahun kemudian dan diberi nama Stadion Sultan Agung.

Selama pembangunan markas baru itu, bencana besar melanda. Gempa pada 2006 yang meluluhlantakkan Jogja dan sekitarnya itu berpusat di Bantul. Menggoyang seluruh sendi kehidupan, termasuk sepakbola.

Para pemain kocar-kacir kala bumi bergoyang. Salah satu penggawanya, M. Eksan, lari dari mess ke arah utara saat isu tsunami merebak. Pembangunan stadion pun berhenti. Pengalihan anggaran terjadi di sana-sini. Persiba memutuskan berhenti, mundur dari kompetisi bersama PSS dan PSIM.

Kebangkitan masyarakat terdampak gempa saat itu yang bisa dibilang cukup cepat seolah menjadi panutan bagi Laskar Sultan Agung. Mereka justru bisa mengamankan tiket promosi semusim setelah bencana itu.

Terbantu dengan perubahan format kompetisi karena pembentukan Indonesia Super League (ISL) sebagai kasta teratas, Persiba punya tempat untuk bermain di Divisi Utama pada 2008. Status runner-up di bawah Persibo, membuat mereka mengamankan tiket promosi itu.

Memakai kandang baru di Stadion Sultan Agung, Persiba tancap gas. Dua musim perdana di Divisi Utama, dua kali pula mereka menembus babak 8 besar dan terhenti pada fase itu juga. Baru pada musim 2010/2011 semuanya dibayar tuntas.

Skuat yang sungguh mengerikan saat itu. Penggawa lokal sekaliber Wahyu Tri Nugroho, Slamet Nurcahyo, dan Busari dikombinasikan dengan sang legenda, Ezequiel Gonzalez. Bahkan, mereka masih punya Seto Nurdiyantoro di bench yang merangkap sebagai asisten pelatih.

BACA JUGA:  Andrea Pirlo: Penyihir Dingin Lombardia

Dilatih oleh seorang guru olahraga SMA N 1 Sewon, Sajuri Syahid, Persiba menghantam Persiraja di final. Penyerang mereka, Fortune Udo, dihadiahi gelar pencetak gol terbanyak setelah menorehkan 34 gol sepanjang musim. Wahyu Wijiastanto, yang saat itu menjabat sebagai kapten, diganjar hadiah sebagai pemain terbaik.

Lengkap prestasi mereka pada masa itu. Namun, babak selanjutnya adalah penurunan performa. Berada di divisi teratas selama 3 tahun, Persiba menghabiskannya dalam situasi sepakbola Indonesia yang carut-marut akibat dualisme liga. Sebelum akhirnya terdegradasi lagi pada 2014.

Sementara itu, konflik di ranah nasional belum selesai. Ontran-ontran di kalangan elit sepakbola belum juga usai. Liga diberi lampu merah oleh menpora. Sanksi FIFA turun dengan pembekuan PSSI. Musim kompetisi pun juga berhenti.

Di tengah kelesuan akibat turun kasta ditambah tak adanya kompetisi resmi, klub itu baru bergerak lagi pada turnamen Indonesia Soccer Championship B. Berbeda dengan klub tetangga, yang mampu menembus final, performa Persiba tak meyakinkan dengan berada di peringkat dua dari bawah grup mereka.

Saat kompetisi resmi kembali digelar pada 2017 pun gairah seperti sudah terlajnur hilang. Persiapan tim yang amat mepet membuat Persiba seolah hanya sekadar menggugurkan kewajiban di musim tersebut.

Hasilnya dapat ditebak, mereka tak beranjak dari dasar klasemen. Ogah-ogahan dalam meraih kemenangan. Tak sekalipun tiga poin dapat diraih. Dan memungut bola dari gawang sendir menjadi hal yang lazim.

Harapan sebenarnya kembali terpupuk justru ketika memulai kompetisi di Liga 3 musim selanjutnya. Status sebagai raksasa di tengah klub-klub kecil menjadi kesempatan untuk meraih dukungan lagi. Di dalam lapangan, tim juga disiapkan jauh-jauh hari sebelum kompetisi dimulai.

Benar saja, sepanjang musim, Persiba begitu perkasa. Tim sekelas Persijap saja dilumat 5 gol tanpa balas di kandang. Bahkan, kemenangan besar 11-0 sempat diraih pada babak Pra-Nasional kala bertemu Kotabaru FC.

Sayang sekali, di babak terakhir, keberuntungan tak datang. Jarak Persiba dengan tiket promosi sebetulnya hanya tinggal 1 poin saja. Namun, di laga terakhir melawan Bogor FC, mereka justru gagal meraih angka.

BACA JUGA:  Membenahi PSSI, Membenahi Sepakbola Indonesia

Pupusnya mimpi saat itu membuat Laskar Sultan Agung patah arang. Tak ada lagi persiapan matang untuk tahun selanjutnya. Mereka memilih menjalani musim dengan ala kadarnya. Melawan tim kemarin sore, seperti Sleman United, mereka keok.

Bahkan, di babak 32 besar dipencundangi Protaba, klub yang selama ini menjadi feeder Persiba. Kegagalan tersebut membuat mereka benar-benar harus memulai dasar piramida persepakbolaan Indonesia andai musim 2020 berlanjut.

Persiba memang tengah berada di titik terendah, tetapi pasang surut prestasi mereka sebenarnya masih patut disyukuri. Setidaknya mereka pernah mentas di kasta tertinggi. Ada banyak tim yang kondisinya lebih parah dari itu dalam satu setengah dekade terakhir.

Akan tetapi, sebagai suporter anjloknya performa itu sungguh menyedihkan. Tak heran Persiba banyak ditinggal penggemarnya. Entah beralih ke dua tim tetangga yang lebih superior, entah merasa sudah tidak berada di usia yang punya gairah untuk memerahkan Stadion Sultan Agung lagi.

Satu dekade silam, teras-teras beton stadion yang berkapasitas sekitar 30 ribu orang itu selalu penuh sesak. Kini, announcer pertandingan paling hanya mengumumkan sekitar tiga ribu penonton saja yang berada di tribun tersebut.

Menjadi saksi penurunan prestasi Persiba seperti menyaksikan serial Sunderland ‘Till I Die. Walaupun latar belakang sosial dan geografis yang jauh berbeda antara Bantul dan Sunderland, nasib klub yang serupa membuat apa yang disampaikan oleh dokumenter besutan Netflix itu seperti tak asing.

Semestinya ada sosok dalam tim Persiba yang bersikap layaknya Stewart Donald, pemilik anyar Sunderland. Yang setelah menelan kegagalan justru berani mematri janji untuk menjadi lebih baik pada kesempatan selanjutnya.

“Kita seharusnya bisa melakukan yang lebih baik. Jadi saya memandang daerah sekitar dan berjanji pada diri sendiri bahwa musim berikutnya tak akan seburuk ini lagi,” ujar Stewart.

Ya, benar, semoga musim depan tidak seburuk musim ini. Begitu pula untuk Persiba.

Komentar
Farras Widya Izadi
Fans sejak kecil Chelsea FC dan pendukung klub lokal Persiba Bantul. Suka nasi goreng. Banyak omong soal Chelsea di akun @farras_iz.