Sepak Bola Jerman Timur, Riwayatmu Dulu

Tanggal 9 November 1989 merupakan hari yang bersejarah bagi Jerman karena pada hari itu tembok Berlin mulai diruntuhkan sebagai penanda awal bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur. Dalam konteks sepak bola, hal itu berarti berakhirnya sepak bola Jerman Timur yang sempat eksis selama empat dekade.

Prestasi klub dan tim nasional (timnas) Jerman Timur memang tak segemerlap Jerman Barat. Timnas mereka hanya dikenal sebagai jagoan pada pertandingan persahabatan, namun melempem di kompetisi resmi.

Tercatat, mereka hanya sekali berlaga di Piala Dunia dan tidak pernah lolos ke Piala Eropa. Di level klub, hanya tiga kali mereka bisa menembus final Cup-Winners Cup dan dari tiga kesempatan itu, satu saja yang berhasil menjadi juara, Magdeburg. Di final tahun 1974, mereka menaklukkan Milan dengan skor 2-0.

Meski demikian, bukan berarti Jerman Timur tidak punya pemain-pemain berbakat. Buktinya, di level junior, Jerman Timur sempat menjuarai Piala Eropa tahun 1986 dan menempati posisi ketiga di Piala Dunia setahun kemudian.

Pada saat reunifikasi, klub-klub Bundesliga gencar membidik sejumlah pemain muda Jerman Timur yang memang potensial seperti Steffen Freund, Carsten Jancker, Thomas Linke, Alexander Zickler, Jens Jeremies dan lainnya.

Satu hal yang menarik dari sejarah sepak bola Jerman Timur adalah tentang bagaimana kondisi politik (baik politik internal federasi sepak bola maupun politik di pemerintahan) yang sangat memengaruhi keberadaan pemain dan klub. Ada beberapa contoh yang bisa menggambarkan hal ini. Misalnya kisah tentang EmporLauter.

Pada akhir tahun 1954, EmporLauter sempat memuncaki klasemen liga sepak bola Jerman Timur. Hal ini merupakan sesuatu yang cukup istimewa mengingat Lauter hanya merupakan tempat kecil dengan jumlah penduduk sekitar 8,000 orang saja.

BACA JUGA:  Inter Milan: Kaya tapi Miskin

Seorang politisi asal Rostock, Harry Tisch merasa bahwa kotanya seharusnya layak untuk punya klub sepak bola yang lebih hebat. Ia pun langsung mengatur agar pemain-pemain EmporLauter pindah ke Rostock. Hanya empat pemain yang menolak, sisanya pindah ke klub baru, Empor Rostock, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Hansa Rostock.

Pada tahun 1960-an, sejumlah klub seperti Berlin, Dresden, Leipzig, Jena dan Magdeburg dijadikan wadah untuk menghasilkan pemain-pemain bagi tim nasional. Oleh karenanya, jika ada pemain muda berbakat, akan langsung diarahkan (baca: diwajibkan) untuk pindah ke salah satu dari klub-klub tersebut.

Ada dua pemain terkenal yang sempat menolak kebijakan ini, kiper Jürgen Croy dan Gerd Kische. Croy bisa tetap bertahan di tim nasional setelah pelatih Jerman Timur saat itu, Georg Buschner mampu melobi para politisi.

Kische sendiri memilih untuk tetap bertahan di Rostock meskipun klubnya tersebut mengalami degradasi. Federasi sepak bola Jerman Timur memberi ultimatum: pindah ke Berlin atau Jena, atau tidak bisa lagi bermain untuk tim nasional.

Kische menolak dan akhir di-blacklist selama tiga bulan. Untungnya Buschner kembali turun tangan dan mengupayakan Kische untuk bisa kembali ke timnas.

Campur tangan politisi tak berhenti sampai di situ. Mereka juga merekrut undercover agents atau yang biasa dikenal dengan istilah Informelle Mitarbeiter (IM) dan menempatkannya sebagai pemain di sebuah klub.

Tugas mereka adalah mengamati perilaku teman-teman satu timnya. Jika ada yang mencurigakan, mereka harus segera melapor kepada pihak yang berwenang. Dua orang yang terindikasi pernah menjadi IM antara lain adalah Thorsten Gütschow dan Ulf Kirsten dari klub Dynamo Dresden.

Hal-hal seperti ini cukup sering membuat rival mereka dari Jerman Barat waswas manakala harus bertandang ke Jerman Timur. Sebagai contoh, suatu kali, Bayern München harus melakoni laga di kandang Dynamo Dresden dalam lanjutan European Cup tahun 1974. Presiden Bayern saat itu, Wilhelm Neudecker memutuskan bahwa timnya tidak akan menginap di Hotel Newa Dresden menjelang pertandingan, namun tetap di wilayah Jerman Barat yaitu di Hof.

BACA JUGA:  Arema: Mengubah Identitas dan Kultur Arek Malang

Hal ini dikarenakan beredar rumor bahwa skuat Bayern akan dimata-matai atau bahkan lebih parah lagi, diracuni. Ketakutan ini, beberapa tahun kemudian disebutkan oleh Uli Hoeness sebagai suatu reaksi yang berlebihan.

Meski demikian, konon kabarnya, memang ada mata-mata yang mengamati pre-match team talk yang dipimpin oleh pelatih Bayern, Udo Lattek. Line-up serta taktik Bayern pun bocor dan sampai kepada pelatih Dresden, Walter Fritzch. Pertandingan berakhir dengan skor 3-3. Bayern lolos ke babak selanjutnya setelah di leg pertama unggul 4-3.

Terlepas dari itu semua, kompetisi sepak bola di Jerman Timur terus bergulir hingga musim 1990/1991. Seperti di Jerman Barat, ada dua kompetisi yang rutin digelar, liga dan knock-out cup competition.

Di liga, pada periode 1950/1959, Wismut Karl-Marx Stadt merajai liga dengan meraih tiga gelar juara. Pada dekade selanjutnya, giliran Vortwärtz Berlin yang berkuasa (5 kali juara). Dan untuk periode dua puluh tahun berikutnya, Dynamo Dresden (8 titel juara) dan Dynamo Berlin (9 gelar juara) yang mendominasi.

Kompetisi terakhir adalah pada musim 1990/1991. Dua klub teratas pada musim tersebut, Hansa Rostock (juara) dan Dynamo Dresden, langsung lolos ke Bundesliga musim selanjutnya. Sedangkan enam tim lainnya bergabung dengan Bundesliga 2.

 

Komentar
Penggemar FC Bayern sejak mereka belum menjadi treble winners. Penulis buku Bayern, Kami Adalah Kami. Bram bisa disapa melalui akun twitter @brammykidz