Sepak Bola Perempuan Butuh Keluarga Polgar

Sep 13, 2014; Salt Lake City, UT, USA; USA forward Alex Morgan (13) controls the ball in front of Mexico defender Arianna Romero (2) during the second half at Rio Tinto Stadium. USA won 8-0. Mandatory Credit: Russ Isabella-USA TODAY Sports ORG XMIT: USATSI-186060 ORIG FILE ID: 20140913_jla_ai1_785.jpg

Ada berbagai hal di dunia yang mampu melampaui batasan suku, bangsa, bahasa, ras, dan agama, misalnya musik dan sastra. Termasuk juga olahraga, lebih khususnya sepak bola. Artinya, siapa pun bisa bermain sepak bola terlepas dari warna kulitnya hitam atau putih, berbahasa Prancis atau Swahili, pria maupun wanita.

Namun saat sepak bola laki-laki dianggap khalayak sebagai olahraga terpopuler sejagat, tidak demikian dengan sepak bola perempuan. Eksis namun bagaikan desas-desus, dan seringkali terpinggirkan. Buktinya sederhana saja. Seberapa banyakkah pembaca tulisan ini tahu bahwa pada 2015 ini Piala Dunia Sepak Bola Perempuan telah digelar, dengan timnas Amerika Serikat sebagai jawaranya? Atau kah anda semua mengikuti perhelatan akbar itu dari awal hingga akhir?

Terlihat ada kesenjangan status yang lebar di sini. Artikel ini akan mencoba memberi analisis dan tawaran solusi untuk permasalahan ini.

Faktor terbesar adalah usia. Sepak bola laki-laki mengadakan Piala Dunia pertama pada 1930, sedangkan sepak bola perempuan pada 1991 dan Piala Eropa-nya pada 1984. Saat banyak kompetisi tertua sepak bola laki-laki dimulai pada 1800-an dan terus berkembang hingga kini, perjalanan kompetisi sepak bola perempuan sempat terjegal. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) melarang kompetisi pada 1921 dan baru mencabutnya pada 1971.

Berlimpahnya waktu membuat sepak bola laki-laki berkembang banyak, hingga melampaui batasnya sebagai sekadar permainan. Misalnya El Clasico antara Real Madrid dan Barcelona yang membawa konflik bersejarah Catalan vs Spanyol, juga Super Clasico antara Boca Juniors kontra River Plate yang mewakili pertentangan kelas pekerja melawan kalangan kerah putih. Bahkan ada Gereja Maradona di dekat Buenos Aires, Argentina. Ada juga Tragedi Hillsborough dan Tragedi Munchen 1958.

Intinya, terjadi banyak hal dan sudah tertumpah banyak keringat, air mata, dan darah seputar sejarah sepak bola laki-laki. Investasi emosional yang masif ini diwariskan turun-temurun antargenerasi menjadi memori kolektif yang berurat akar dalam. Ia juga menjelma industri ekonomi gigantik, bahkan di beberapa tempat dianggap agama kedua. Sepak bola (laki-laki) menjadi representasi kehidupan. Kemewahan ini tidak dimiliki sepak bola perempuan yang baru (kembali) memulai langkahnya.

BACA JUGA:  Menyelesaikan Isu Pengaturan Skor sebagai Upaya Mencerdaskan Suporter

Ada tudingan bahwa seksisme dan diskriminasi gender sumber masalahnya, namun perspektif ini mengandung praduga dan kurang argumen untuk analisis. Argumen lebih masuk akal diberikan Simon Kuper, yakni persepsi masyarakat pada atlet. Pesepak bola laki-laki dipandang sebagai representatif maskulinitas ideal: menguasasi teknik, pekerja keras, makmur, beretos kerja tim, menarik bagi perempuan. Sebaliknya, pesepak bola wanita dilihat tidak mewakili gambaran femininitas ideal, bahkan di kalangan wanita sendiri. Berapa banyakkah kaum hawa yang menggemari dan menjadikan role model pesepak bola wanita dibandingkan sosok-sosok anggun selebritis wanita?

Ada argumen mengatakan sepak bola perempuan lebih rendah mutunya karena perbedaan kemampuan fisik antara laki-laki dan perempuan. Ini kurang bisa diterima karena masing-masing sepak bola laki-laki dan perempuan adalah olahraga unik tersendiri. Pesepak bola wanita sendiri banyak yang frustasi atas perbandingan ini (yang sebenarnya dilakukan oleh fans dan khalayak). Kalau pun dipaksakan pembuktian berupa pertandingan antara kesebelasan wanita dan laki-laki, akankah mereka bertanding sepenuh hati? Skenario terburuk: terjadi kecelakaan di mana pemain laki-laki mencederai serius pemain wanita. Saat tulang belakang Neymar cedera, Juan Zuniga menerima ancaman mati. Silakan bayangkan nasib pemain laik-laki dalam hipotesis tadi.

Sepak bola perempuan kini berada pada posisi kurang menguntungkan, namun geliat perkembangan terus meningkat.

Faktor-faktor yang lebih krusial adalah minimnya dukungan pemerintah, kurangnya minat sponsor, sedikitnya pemberitaan media, lemasnya iklim kompetisi, dan kurangnya ketertarikan wanita pada sepak bola itu sendiri. Misalnya, WSFF melansir dari total pendanaan sponsor olahraga di Inggris Raya hanya 0,5% masuk ke cabor wanita, 61,1% ke cabor pria, sisanya ke olahraga tim. Pada PD 2014 (sepak bola pria), hanya 24% wanita di Inggris berniat menontonnya, apalagi pada Piala Dunia (perempuan) 2015 di mana antusiasme khalayak Inggris sangat rendah.

BACA JUGA:  Arsenal dan Narasi Tentang Krisis Identitas

Di sinilah sepak bola perempuan bisa belajar dari keluarga Polgar.

Laszlo Polgar adalah pecatur dan psikolog Hungaria yang punya visi bagaimana menciptakan jenius. Baginya bakat bawaan dan gender tidaklah relevan. Begitu putri-putrinya (Susan, Sofia, dan Judit) berminat pada catur, Laszlo mendidik mereka secara home schooling, disertai pelatihan catur intensif. Pada usia empat tahun, Susan mengalahkan semua pria dewasa di suatu klub catur di Budapest. Prestasi Polgar bersaudari saat dewasa sangat fenomenal. Judit sempat menjadi pecatur nomor satu dunia (wanita) dan nomor delapan dunia (pria dan wanita). Susan selalu menjadi tiga besar dunia (wanita), dan Sofia sempat menjadi peringkat enam dunia (wanita). Mereka juga lawan yang setara bagi para pecatur pria kelas dunia.

Poin penting di sini selain kemampuan adalah kharisma dan kepribadian. Judit terkenal dengan gaya permainan agresif dan ofensif, dengan semangat tarung yang melampaui pria rata-rata. Susan diakui berperan meruntuhkan penghalang gender dalam dunia catur. Mereka menjadi role model, seperti Maria Sharapova di tenis. Sepak bola wanita membutuhkan sosok-sosok seperti ini dalam jumlah banyak untuk membangkitkan ketertarikan. Kharisma dan kemampuan mereka juga akan menarik sponsor. Pendanaan akan menggeliatkan pertumbuhan kesebelasan dan mencetak pemain berbakat lain. Ini membuat kompetisi menjadi sengit dan menarik. Minat penonton akan bertambah dan bersamanya perkembangan terjadi melalui hak siar televisi, merchandise, tiket, dan sebagainya.

Sepak bola perempuan kini berada pada posisi kurang menguntungkan, namun geliat perkembangan terus meningkat. Persepsi masyarakat bisa dibentuk media, media tertarik pada apapun yang cukup komersial, seperti tokoh berkharisma.

Selalu ada jalan untuk perkembangan.

 

Komentar