Sepakbola yang Tak Lagi Sama di Gresik

Tua, barangkali kata tersebut cukup pas untuk menilai eksistensi kota Gresik. Pasalnya, salah satu daerah yang menjadi penyangga ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya, ini sudah berumur 532 tahun.

Awalnya, Gresik merupakan sebuah kawedanan di bawah Kabupaten Surabaya dan menjadi salah satu pusat perdagangan. Sampai akhirnya, Kabupaten Surabaya dihapuskan dan diganti menjadi Kabupaten Gresik. Semenjak saat itu, perkembangan kota Gresik semakin pesat, baik sebagai area pemukiman maupun geliat dari sektor industri.

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, ada banyak sekali perusahaan besar yang menjadikan Gresik sebagai basis industrinya. Misalnya saja Petrokimia, Semen Gresik hingga Wilmar. Belum lagi beberapa industri-industri yang skalanya lebih kecil dan memiliki banyak pabrik di sana. Keberadaan mereka tentu saja menghadirkan cukup banyak lapangan kerja. Tenaga masyarakat asli Gresik pun mulai terserap ke dunia industri.

Diakui atau tidak, masyarakat Gresik bergerak sesuai roda kapitalisme yang menggelinding di kotanya. Apesnya, tak semua pihak merasakan rasa sejahtera yang sesungguhnya dalam keseharian. Istilah, “Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin”, adalah representasi tepat bagi kota tercinta ini.

Lebih jauh, makin masifnya perkembangan industri di kota Gresik juga memengaruhi kondisi lingkungan. Paling sederhana, tentu perihal kualitas udara. Dahulu, kota Gresik begitu nyaman untuk ditinggali karena rendahnya tingkat polusi. Namun kini, Gresik terasa sama sesaknya dengan Surabaya akibat polusi dari sektor industri maupun kendaraan bermotor yang semakin menjejali kota.

Dalam dosis pekerjaan yang mungkin melampaui batas kemampuan manusia serta jadwal bekerja yang makin hari makin tidak pandang bulu. Masyarakat Gresik tentu membutuhkan hiburan rakyat guna melepas penat dan sepakbola merupakan salah satu medianya.

BACA JUGA:  Menghargai Pengabdian Widodo C. Putro

Pada 1988, Petrokimia mendirikan sebuah kesebelasan sepakbola yang dinamai Petrokimia Putra guna berlaga di kompetisi semiprofesional, Galatama. Kehadiran tim berjuluk Kebo Giras ini membuat masyarakat Gresik yang semula lebih banyak mendukung Persebaya, mulai mencintai klub asal kotanya sendiri.

Terlebih, penampilan Petrokimia Putra juga tak buruk-buruk amat dalam percaturan sepakbola Indonesia. Bahkan di musim 1994/1995 atau musim perdana Liga Indonesia setelah kompetisi Perserikatan dan Galatama dilebur PSSI, Petrokimia Putra sukses menembus partai final. Namun nahas, mereka harus mengakui kedigdayaan Persib di laga puncak.

Selepas itu, performa Petrokimia Putra tetap menjanjikan hingga di musim kompetisi Liga Indonesia 2002, mereka keluar sebagai kampiun usai membenamkan Persita di partai final dengan kedudukan akhir 2-1. Antusiasme masyarakat Gresik terhadap sepakbola yang begitu besar, makin meledak gara-gara momen bersejarah tersebut.

Sayangnya, keputusan manajemen Petrokimia untuk membubarkan klub sepakbolanya pada 2005 karena alasan dana, memengaruhi derak balbalan di Kota Pudak. Petrokimia Putra sendiri memutuskan merger dengan Persegres sehingga menjadi Persegres Gresik United.

Namun berbeda dengan Petrokimia Putra, penampilan Persegres Gresik United jauh dari kata memuaskan. Padahal, dukungan masyarakat Gresik tercurah kepada mereka. Pelan tapi pasti, predikat tim liliput semakin akrab dengan Laskar Joko Samudro.

Mesti diakui bahwa seiring waktu, hiburan masyarakat Gresik berupa sepakbola sudah menjadi bencana besar karena dikuasai oleh segelintir elite di Kota Pudak saja. Umumnya, dipergunakan sebagai kendaraan politik buat menggalang suara ketika Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Makin ironis, para elite tersebut menjadikan klub ini sebagai salah satu kesebelasan paling bermasalah di Indonesia. Siapapun tentu masih ingat kasus tunggakan gaji yang dialami para pemain Persegres Gresik United dan bahkan belum tuntas hingga hari ini?

BACA JUGA:  PSM dan Kenangan Dua Dekade

Dalam momen sulit itu pun, para elite pergi meninggalkan tanggung jawabnya di klub, bak kekasih yang pergi meninggalkan pasangannya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Sementara fans sepakbola di Gresik, terluka dengan kenyataan tersebut.

Nama Persegres kini sudah hilang dari konstelasi sepakbola Indonesia akibat serentetan masalah yang menghajarnya, digantikan oleh Gresik United yang berkompetisi di Liga 3 walau masih ada di dalam naungan Perseroan Terbatas (PT) yang sama. Rumit? Sudah pasti.

Ada pula Putra Sinar Giri (PSG) yang beberapa waktu lalu berhasil mengantongi satu tiket promosi ke Liga 2. Ketimbang saudaranya, Putra Sinar Giri cenderung lebih mandiri.

Memiliki dua kesebelasan sepakbola, nyatanya belum mampu menghidupkan gairah sepakbola yang dahulu menggelegak di Gresik. Stadion Gelora Joko Samudro acap kosong saat masing-masing tim berlaga di sana. Berbeda jauh dengan antusiasme yang berputar kala Petrokimia Putra masih ada dan beraksi di Stadion Petrokimia.

Perkembangan industri dan sepakbola di kota Gresik akhir-akhir ini saling memunggungi, tak beriringan. Melangkah di jalannya masing-masing seakan tak peduli satu sama lain. Sepakbola adalah hiburan nyata untuk rakyat tatkala penat melanda gara-gara rutinitas kerja yang melelahkan. Namun di Gresik, sepakbola tak lagi sama.

Komentar
M. Kholid Syihabuddin
Mahasiswa tua yang menolak menyebalkan dan mungkin sebentar lagi akan mendapat gelar sarjana di Universitas Gadjah Mada. Aktif di Twitter via akun @khalidsyihab_