Stadion Kalianget, Masyarakat ASRI, dan Mimpi Sepakbola Wonosobo

Pagi tadi, saat membuka Instagram, muncul sebuah posting yang mengejutkan saya. Dari tagar #sepakbolawonosobo yang saya ikuti, muncul kabar seorang aktivis dan kini pengelola klub sepakbola nasional menjalin kesepakatan dengan Askab (PSSI Wonosobo) dan Kepala Dinas Pariwisata untuk merevitalisasi lapangan Kalianget menjadi stadion yang layak bagi pertandingan liga nasional.

Saya lalu teringat pada sambutan Ketua Askab PSSI Wonosobo saat membuka workshop pelatih sepakbola di Wonosobo pertengahan tahun lalu. Dia menyoroti perkembangan sepakbola di kotanya yang unik. Wonosobo adalah satu-satunya kabupaten di Jawa Tengah yang tidak memiliki stadion sepakbola. Namun di sisi lain, Wonosobo menjadi penyelenggara open tournament sepakbola (yang dikenal dengan tarkam) terbanyak.

Pernyataan senada diungkapkan oleh Ketua Komisi A DPRD Wonosobo saat penyerahan trofi juara Pendawa Cup di Lapangan Welahan, Watumalang. Menurutnya, setiap tahun di Wonosobo setidaknya terdapat 30 turnamen sepakbola yang digelar, bahkan hampir ada di setiap kecamatan (Suara Merdeka, 30/7/2018). Ini menunjukkan antusias masyarakat yang tinggi pada sepakbola.

Sebelum itu, seorang fan pernah memperkenalkan Wonosobo dan sepakbolanya yang dingin melalui Fandom ID (26/9/2017). Dia menumpahkan keresahan seorang penggemar atas perkembangan sepakbola di daerahnya, sekaligus menunjukkan geliat suporter lokal.

Dia pun menengarai lahirnya basis suporter baru PSIW Wonosobo yang menamakan diri Laskar Kolodete 189. Menurutnya, gairah suporter ini adalah momentum yang tepat untuk menata sepakbola Wonosobo.

Perpaduan antara keresahan dan kegairahan pada sepakbola Wonosobo memuncak pada gagasan untuk menghadirkan sebuah stadion. Lapangan Kalianget yang ada saat ini dinilai tidak layak disebut sebagai stadion. Tanpa stadion, Wonosobo tidak akan bisa bergaul dengan daerah lain melalui sepakbola. Dengan demikian sepakbola Wonosobo akan tertinggal selamanya.

BACA JUGA:  Hentikan Kekerasan pada Jurnalis di Lapangan Hijau

Wonosobo membangun stadion? Apa mungkin? Buat apa? Mungkin pertanyaan skeptis semacam ini segera muncul. Apalagi melihat GOR Wonolelo yang sempat tersendat pembangunannya. Beberapa video di Youtube yang menampilkan imajinasi desain “calon stadion” Wonosobo juga lebih banyak menuai komentar sinis.

Wacana pembangunan stadion Wonosobo sempat datang dari ketua KONI Wonosobo saat memastikan mulai difungsikannya GOR Wonolelo. Menurutnya, stadion tersebut akan dibangun di belakang GOR dan diperkirakan baru tuntas pada 2020 (Suara Merdeka, 3/2/2018). Sebagaimana diakui para pegiat sepakbola, untuk mewujudkannya diperlukan dukungan dari semua pihak.

Dukungan semua pihak, tidak hanya penggemar sepakbola, sepertinya menjadi kunci. Idealnya stadion, sebagai fasilitas publik, menjadi milik seluruh warga sejak dalam bentuk gagasan. Lain persoalan jika stadion akan dibangun oleh swasta.

Namun, jika dillihat dari kesepakatan yang saya singgung dalam awal tulisan ini, sepertinya pemerintah daerah tetap terlibat. Siapa pun aktor utamanya, saya melihat ide pembangunan stadion sebagai kesempatan untuk merevitalisasi slogan Wonosobo ASRI (Aman Sehat Rapi Indah).

Dampak langsung yang diharapkan dari fasilitas olahraga tentunya adalah prestasi. Lebih dari itu, keberadaan stadion berpotensi membangun kembali nilai-nilai masyarakat Wonosobo ASRI.

Pertama, unsur keamanan merupakan faktor yang tidak bisa ditawar-tawar bagi stadion. Kedua, manfaat stadion harus dilihat dari kemampuannya dalam membangun budaya hidup sehat. Selain fasilitas kesehatan dasar untuk upaya kuratif dan rehabilitatif, adanya stadion dapat menunjukkan kepedulian pada kesehatan dari segi promotif dan preventif.

Berikutnya, pertandingan sepakbola membutuhkan koordinasi yang rapi mulai dari penjualan tiket sampai warna kaos kaki pemain. Penyelenggaraan event sepakbola berkualitas dapat melahirkan budaya baru untuk berpikir dan bertindak dengan rapi. Budaya ini diharapkan akan menular ke tempat-tempat lain di luar stadion.

BACA JUGA:  Perlukah Menggelar ASEAN Super League?

Terakhir adalah unsur keindahan. Ini tidak hanya soal fisik, tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Revitalisasi keindahan dalam hal ini adalah bagaimana stadion dapat mencerminkan kebersamaan dan harmoni dalam masyarakat. Saya membayangkan sebuah stadion yang dapat menjadi tempat berbaur bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai sebuah gagasan, keberadaan stadion di Wonosobo adalah mimpi yang layak dirawat dan diperjuangkan bersama. Kadang memang masyarakat harus bergerak untuk mewujudkan mimpinya sendiri, tanpa selalu mengandalkan pemerintah.

Kabar di tagar #sepakbolawonosobo tentu saja memberi harapan bagi pencinta sepakbola Wonosobo untuk melihat tim kesayangannya berkiprah di liga nasional. Semoga itu bukan sekadar mimpi.

Komentar
Co founder dan manager AFA Soccer School Yogyakarta.