West Ham United: Rumah yang Tak Nyaman Itu Bernama Stadion Olimpiade London

Saat ada seseorang mengatakan “rumah yang nyaman,” imajinasi Anda pasti akan masuk ke dalam beberapa kriteria ini: bentuk, lokasi, juga harga.

Makin besar, strategis, dan mahal sebuah rumah, bagi beberapa orang, bayangan keluarga yang bahagia pasti terbayang. Namun tidak bagi West Ham United.

Saat pendukung West Ham sadar tentang semua ini, mereka kemudian melempar kursi hingga koin dan bertindak barbar terhadap fans Chelsea. Pihak keamanan yang mengamankan di Stadion Olimpiade London tak pernah melihat amarah sebesar ini.

Mereka seperti menyaksikan sepak bola Inggris era 70-an. Katanya, sebagaimana dilansir Mirror, “Ini adalah stadion terburuk tempat saya bertugas! Ini bukanlah sebuah stadion sepak bola!”

Memang betul, dari namanya kita tahu bahwa stadion ini tak hanya digunakan untuk sepak bola. Stadion Olimpiade ini dibangun untuk menjadi tempat penyelenggaraan Olimpiade 2012.

Anda masih dapat melihat lintasan lari yang pernah menjadi saksi bisu kehebatan Usain Bolt. Selain itu, tempat duduk yang cukup jauh dari lapangan menjadi penyesuaian akan adanya lintasan lari. Jadi sebenarnya, untuk klub-klub di Inggris, kondisi ini terasa janggal.

Selepas Olimpiade, salah satu permasalahan yang muncul adalah biaya perawatan. Pemerintah Kota London harus menanggung biaya yang tentunya tak sedikit. Oleh sebab itu, ketika muncul ide menyewakan stadion, Pemerintah Kota dengan senang hati akan mendengarkan tawaran yang masuk.

Jumlah peminatnya sendiri tak cukup banyak dan mengerucut ke dua nama, yaitu West Ham United dan Tottenham Hotspur. The Hammers membutuhkan stadion baru setelah harus berpisah dengan Boleyn Ground. Sementara itu, Spurs membutuhkan rumah sementara karena White Hart Lane rencananya akan direnovasi.

David Gold, chairman West Ham melihat peluang ini sebagai langkah awal membangun masa depan klub.

BACA JUGA:  Southampton (6-1) Aston Villa: Pentingnya Masalah Kompaksi

Pengusaha kelahiran London ini berhasil mendapatkan dukungan dari 14 Supporter’s Trust, sebuah organisasi nir-laba yang bertujuan memperkuat pengaruh suporter di dalam pengelolaan klub. Sebuah langkah awal yang baik mengingat basis fans West Ham begitu besar.

Boleyn Ground atau yang juga dikenal dengan nama Uptown Park tak lagi bisa menampung besarnya gairah suporter. Kapasitasnya yang hanya 35,016 tempat duduk dirasa terlalu kecil untuk menampung suporter yang datang ke stadion. Dalam beberapa musim terakhir sebelum hengkang ke Stadion Olimpiade London, Boleyn Ground menjadi stadion dengan persentase kehadiran penonton tertinggi di Inggris.

Dicatat oleh soccerstats.com, persentase kehadiran suporter di Boleyn Ground mencapai 99,8%, mengungguli Old Trafford dengan 99,5% dan Emirates Stadium dengan 99,4%. Sebuah catatan yang semakin memperkuat bahwa West Ham harus mencari rumah baru.

Berkat kerja keras David Gold, West Ham berhasil meyakinkan Pemerintah Kota London bahwa mereka akan mampu memberikan keuntungan besar bagi kota. Lobi yang kuat ini begitu meyakinkan hingga akhir Pemerintah Kota memilih West Ham ketimbang Tottenham Hotspur.

“Ini adalah kesempatan untuk membangun West Ham menjadi klub besar. Dulu, West Ham adalah klub semenjana, ikan kecil. Di bisnis yang aku tahu, ikan besar makan ikan kecil,” unngkap David Gold.

Stadion megah seharga 750 juta poundsterling itu disewakan kepada West Ham dengan biaya 2,5 juta poundsterling per tahun. The Guardian menyebut perjanjian ini sebagai “perjanjian terbaik abad ini.”

Keberhasilan ini membuat gairah di antara pendukung West Ham semakin membuncah. Maklum, sepanjang musim 2015/2016, performa West Ham begitu baik. Mereka mengakhiri musim di posisi 7. Sebuah capaian yang cukup baik. Kabar stadion baru menambah kebahagiaan fans West Ham.

BACA JUGA:  Menuju Generasi Emas Amerika Serikat

Stadion baru ini menyisipkan mimpi-mimpi yang lebih gila lagi. Di kepala mereka muncul imajinasi bahwa kepindahan ke Stadion Olimpiade London, sebagaimana janji Gold, akan menjadi era baru.

Sayangnya, hanya satu yang berubah: kebahagiaan mereka sendiri!

“Rumah” ini memang megah, namun terasa hambar. Pendukung West Ham, yang terbiasa dekat dengan pemain kini terasing. Lintasan lari seperti menciptakan jarak antara gemuruh nyanyian pembakar semangat dengan para pemain. Jarak, seperti menjadi pemisah yang hakiki.

Pun dengan performa West Ham yang menurun. Kekalahan demi kekalahan justru tersaji di rumah baru mereka.

Slaven Bilic, pelatih West Ham, harus buru-buru mengklarifikasi bahwa performa buruk timnya bukan karena kepindahan ke stadion baru. Katanya kepada BBC, “Stadion baru bukan penyebab performa buruk kami.”

Tak hanya Bilic, David Sullivan, co-CEO West Ham, juga berusaha meredakan amarah suporter. Ia, sebagaimana dilansir situsweb resmi West Ham, akan berusaha menyatukan pendukung, terutama dalam perubahan yang membuat para penggemar tak nyaman.

Kini, atas semua ketidaknyamanan ini, West Ham harus mulai terbiasa bahwa imajinasi tak melulu sesuai dengan realita. Bahwa imajinasi manusia akan bangunan rumah yang lebih megah, kerap menghilangkan makna hunian itu sendiri

Kini, pendukung West Ham hanya bisa menerima dan beradaptasi dengan perubahan suasana. Mistis Boleyn Ground tak turut terbawa ke rumah baru mereka. Baik pihak manajemen, tim pelatih, dan para fans mempunyai satu pekerjaan yang sama, yaitu membuat rumah baru terasa senyaman rumah lama.

Komentar