Yang Terlupa Bernama Mario Gotze

“Tunjukkan bahwa kamu lebih baik dari Lionel Messi dan menjadi penentu Piala Dunia,” ujar Joachim Low

Itulah wejangan pelatih kelahiran Schönau, Jerman Barat itu kepada Mario Gotze di sisi bench Nationalmannschaft pada partai puncak Piala Dunia 2014 antara Jerman melawan Argentina.

Gotze yang menggantikan striker gaek Miroslav Klose, menerima umpan Andre Schurrle dari sisi kiri dan langsung membobol gawang Sergio Romero pada babak tambahan waktu. Gol yang memastikan Jerman menjadi juara dunia untuk ke empat kalinya.

Efeknya, Mario Gotze di elu-elukan bak pahlawan Jerman. Tentu bukan tanpa alasan. Ia memang dikenal sebagai salah satu talenta terbaik yang dimiliki Jerman sejak belia. Namanya pun sudah harum di seluruh penjuru negeri.

Bahkan legenda Jerman, Franz Beckenbauer mengatakan bahwa Gotze adalah German Messi. Hal itu dibuktikan ketika ia meraih trofi Golden Ball pada tahun 2011, penghargaan untuk para wonderkid yang juga telah dimenangkan oleh beberapa figur seperti Wayne Rooney hingga Lionel Messi.

Bukan membanding-bandingkan, namun itulah harapan publik Jerman, bahwa Gotze akan menjadi bintang di generasi baru Jerman dan meneruskan kesuksesan angkatan sebelumnya. Tentu ada kecemasan bila sang pemain terbebani dengan puja-puji dan gagal menjawab berbagai ekspetasi.

Pada awal-awal karir profesionalnya, sang pemain berdarah Bavaria setidaknya berhasil menjawab berbagai harapan dan keraguan saat merumput di Signal-Iduna Park.

Menjadi bagian pilar dari kejayaan Borussia Dortmund di bawah komando Jurgen Klopp bersama nama-nama seperti Robert Lewandowski, Mats Hummels, dan Shinji Kagawa, Gotze meraih gelar Liga Jerman dua musim berturut turut dan satu Piala Jerman.

Tidak hanya itu, performa Gotze juga diganjar beberapa penghargaan individu seperti pemain muda Bundesliga terbaik 2010/2011 dan masuk Best Eleven Bundesliga versi majalah Kicker pada musim 2010/2011 dan 2012/2013.

Gotze juga berhasil membawa Dortmund ke Final Champions League 2013 melawan Bayern Munchen. Meski pada akhirnya sepakan Arjen Robben menghempaskan harapan Dortmund untuk meraih Si Kuping Besar.

BACA JUGA:  Bayern Munchen dan Stigma Liga Petani

Sebenarnya, ia tak bermain pada laga tersebut. Malah sebelum pertandingan di Wembley itu, Die Rotten sudah lebih dulu mengumumkan kepindahan sang pemain dengan menebus release clause sebesar 37 Juta Euro pada tahun 2013.

Fans Dortmund murka dengan transfer Gotze ke tim rival. Mereka melabelinya sebagai Judas, membentangkan banner berisi kekecewaan, hingga membakar jersey sang pemain.

Tidak hanya fans, Klopp dan Dortmund  juga sama kecewanya. Wajar karena Gotze sudah bergabung dengan Dortmund dari tim muda, dan mereka mengharapkan sang pemain menjadi wajah baru tim asal Nordrhein-Westfalen tersebut, bukannya membelot ke rival seperti Bayern.

Banyak yang mengkritik langkah Bayern sebagai upaya menggembosi rival. Sementara itu Gotze juga dihinggapi nada miring. Kepindahannya dikatakan hanya sebagai jalan pintas untuk meraih kesuksesan dan dianggap tidak loyal.

Namun, bagi Gotze sendiri, transfernya itu tak melulu soal kesempatan untuk meraih trofi Champions League dan bermain bersama pemain-pemain kelas dunia. Ia juga kembali ke kampung halaman di Bavaria.

Kala itu, Gotze juga akan dilatih oleh Pep Guardiola. Sebuah kesempatan yang tentu tak elok untuk disia-siakan, mengingat reputasi sang pelatih dengan filosofinya dan bagaimana ia menempa pemain asuhannya menjadi kelas dunia.

Nama Messi dan koleganya di Barcelona menjadi bukti tangan dingin Guardiola. Kala itu, kita bisa membayangkan bagaimana berkembangnya Gotze di tangan pelatih Spanyol itu. Tentu sebuah fantasi yang menarik.

Seperti yang ditulis oleh footballwhispers.com, Bayern adalah kanvas, Gotze sebagai kuasnya, dan kita hanya menunggu sebuah mahakarya di tangan Guardiola sang seniman.

Sayangnya, bayangan tersebut tak pernah menjadi kenyataan. Di bawah bendera Bavaria selama tiga musim, karir Gotze justru mengalami penurunan. Walaupun, memang Gotze bisa meraih berbagai trofi seperti Bundesliga maupun DFB Pokal.

Namun, kegagalan menjuarai Champions League menjadi noda dalam lembaran karirnya mengingat Bayern dikomandoi Pep, bermaterikan nama-nama besar, hingga status Die Rotten sebagai klub unggulan.

BACA JUGA:  Tiga Penyebab Polandia Gugur dari Piala Eropa 2020

Sesungguhnya, musim debut Gotze tidak buruk-buruk amat dengan catatan 15 gol dan 13 asis di semua kompetisi. Namun, pada musim-musim berikutnya Gotze tiba-tiba mengalami penurunan.

Selain cedera dan masalah kebugaran yang membuatnya tidak prima, disinyalir Gotze tidak mampu mengatasi tekanan dan ekspetasi yang ada di Bayern. Kondisi itu diakui sendiri oleh sang pemain seperti yang diwartakan oleh Bild+.

Hal itu tentu saja membuatnya dikritik oleh beberapa pihak karena tidak bisa berkembang. Perlahan-lahan, pemain yang berposisi sebagai gelandang serang itu mulai ditepikan dan hanya menjadi penghangat bangku cadangan.

Untuk menyelamatkan karir, ia akhirnya memilih kembali ke Dortmund, dan tentu ada harapan dia dapat menemukan penampilan terbaiknya seperti dahulu kala. Namun, Gotze kini bukanlah Gotze yang dulu. Dia tak mampu mengembalikan performanya lagi.

Ditambah cedera yang datang bertubi-tubi menghantam psikis dan fisiknya sehingga gagal untuk bangkit. Pelatih seperti Thomas Tuchel, Peter Bosz, hingga Julian Favre tidak bisa berbuat banyak buatnya.

Seiring dengan merosotnya performa Gotze, panggilan Timnas pun tak datang. Lagipula, kini Low lebih mempercayakan kepada generasi yang lebih muda dan sedang berada dalam tren apik setelah buyar di Piala Dunia 2018.

Musim ini, kedatangan daun muda yang sedang bersinar seperti Jadon Sancho, Julian Brandt, Thorgan Hazard, dan Erling Haaland ke Dortmund membuat situasi tambah pelik. Gotze hanya menjadi pilihan kesekian bagi Favre. Penampilannya lebih banyak dimulai dari bangku cadangan.

Sementara itu, kontraknya akan berakhir di penghujung musim ini. Dengan kondisnya yang tak mampu kembali ke performa terbaik, kecil kemungkinan ia mendapat perpanjangan kontrak. Dengan begitu, pindah adalah pilihan realistis demi menyelamatkan karir.

Sebuah ironi mengingat usianya yang masih 27 tahun, ia harus mengakhiri masa baktinya di Dortmund dengan status bebas transfer. Sayang sekali, untuk saat ini, kita hanya bisa mengenang prestasinya terdahulu melalui biografi di Wikipedia maupun video-video di Youtube.

Schnell Aufstehen, Mario…..

Komentar
Seorang desainer grafis asal Yogyakarta yang menggemari sepakbola, buku, dan berkhayal. Suka berimajinasi dan menuangkannya melalui karya visual maupun karya tulis. Bisa dihubungi melalui Twitter di akun @pradipta_ale dan Instagram di akun @pradiptale untuk melihat karyanya.