Antara DBL dan LPI: Membandingkan yang Tidak Sebanding

  • mono13th

    seperti biasa, siraman dana melimpah itu yang sangat melenakan..

    apa iya harus swasta lagi yang bermain di kompetisi sepakbola?

    • budi ferizqianto

      sebenarnya intinya bukan swasta atau pemerintah sih, tapi kalo menurut saya pribadi bagaimana inovasi-inovasi jadi senjata dalam pengelolaan sepak bola Indonesia baik tingkat profesional maupun di bawahnya, dan mungkin kaum-kaum muda lah yang paling dekat dengan kata inovasi tersebut. Jadi intinya kalau kaum muda dari pemerintah bisa inovasi, kenapa harus swasta?

  • Arif Bayu

    “Hal ini pula yang menjadi keresahan bersama pada cabang olahraga (yang katanya) paling populer se-Indonesia, sepak bola.”

    sori ane cuma baca bagian itu gan… fakta sepakbola adalah olahraga terpopuler di indonesia dan terpopuler no.2 di dunia saja anda ragukan bagaimana bisa ane percaya kredibiltas anda menulis secara objektif ttg sepakbola.

    Salam

    • budi ferizqianto

      terimakasih masukannya mas arif, sebenarnya ide saya menulis ‘cabang olahraga (yang katanya) paling populer se-Indonesia’ awalnya untuk meng-ironi-kan fakta bahwa sepak bola yang predikatnya olah raga paling populer se-Indonesia, tapi final LPI (di Yogyakarta) penontonnya kalah jauh dari final DBL. Apabila kurang berkenan saya mohon maaf,

      Salam juga

  • Sirajudin Hasbi

    Ide yang cukup bagus untuk membandingkan LPI dengan DBL. Meski kemudian jadi masalah karena yang satu serius sementara yang satunya kurang sungguh-sungguh.

    Satu yang belum masuk sepertinya selain LPI langsung SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi, DBL setelah SMA sekarang mulai SMP. DBL memulai dengan perlahan, sementara LPI tergesa-gesa dengan mencakup semua. Idenya memang bagus sebagai lembaga pemerintah mereka harus bisa mencakup seluruh propinsi. Bisa repot kalau ada yang tidak dihadiri oleh LPI karena ini sudah urusannya soal tanggung jawab pemerintah dan tidak boleh tebang pilih.

    Paling kentara dari masalah LPI adalah mereka memainkan sistem turnamen. Sekali bertanding lalu gugur dengan waktu turnamen yang amat singkat. Seperti hanya memikirkan untuk jalan saja agendanya dan bisa keluar juara nasional. Mengapa tak dibikin regional saja dengan sistem kompetisi? Atau setidaknya sistem grup agar setiap tim bisa bertanding lebih dari sekali. hehe

    • budi ferizqianto

      iya mas hasbi sebenernya juga mau njelasin itu sih mas tentang lingkup LPI sama DBL yang berbeda, tapi waktu sudah menjelang malam dan mas yoga sudah me-WA saya dan kandungan kata sudah mencapai 1200 mas, apa mau dikata banyak yang gak ketulis, hehe

  • Roky Maghbal

    Izin share gan

  • Fikra Akhmad Maurisha

    Pengalaman ikut LPI dua tahun waktu SMA dulu nih. Informasi kurang banget, tujuannya kaya cuma biar jalan aja, jadinya sekolah sendiri ga terlalu serius. Terkait sistem yang make turnamen emang ga enak banget, dua kali ikut LPI masa cuma maen empat kali, ya karena sekolahnya ga jago 🙂