4 Pelajaran Berharga untuk Timnas Indonesia U-17

Nabil Asyura saat menghadapi Malaysia di Kualifikasi Piala Asia. (PSSI)

Awal manis Timnas Indonesia U-17 di Kualifikasi Piala Asia 2023 Bahrain harus berakhir getir di partai pamungkas lawan Malaysia. Indonesia kalah 1-5 atas Malaysia sekaligus gagal mencapai putaran final di Bahrain tahun depan. Skuad Garuda Muda tak terlihat menjanjikan seperti di laga-laga sebelumnya, faktor kelelahan diakui oleh pelatih Bima Sakti sebagai penyebab utama anak asuhnya tampil kurang maksimal. Tersingkir dari posisi juara grup, Indonesia kemudian harus berlapang dada usai tak masuk dalam kuota enam runner up terbaik. Kegagalan ini menjadi pelajaran penting untuk para penggawa muda dan segenap staf pelatih Timnas Indonesia U-17.

1. Rotasi untuk Mengatasi Jadwal Padat

Pasca laga kontra Malaysia, Bima Sakti menegaskan bahwa kekalahan ini sepenuhnya adalah tanggung jawabnya sebagai pelatih kepala dan staf kepelatihan lainnya. Ia kemudian menyesali kesalahan karena tidak melakukan rotasi saat melawan Guam menimbulkan efek domino hingga para pemain kelelahan baik secara fisik maupun mental saat bersua tim Harimau Malaya. Dengan jadwal 4 pertandingan dalam rentang waktu 9 hari, Bima Sakti tetap memasang tim utama di tiap laga.

Terutama di posisi back four yang secara konstan diisi oleh Rizdjar Nurviat Subagja, Sulthan Zaky, Iqbal Gwijangge, dan Habil Abdillah Yapi. Keempatnya bermain penuh 90 menit di tiga laga awal kontra Guam, UEA, dan Palestina kecuali Iqbal yang harus ditarik keluar karena cedera saat berjumpa Palestina. Cedera Iqbal ditengarai juga dibarengi dengan kondisi kelelahan. Selain Iqbal, beberapa pemain seperti Nabil Asyura, Kafiatur Rizky, dan Azzaky Esa Erlangga juga sempat masuk ke ruang perawatan.

Absennya Iqbal di laga terakhir akibat cedera dan akumulasi kartu kuning sangat berdampak terhadap lini pertahanan skuad. Sebab itu, Gelandang bertahan muda milik Persija Jakarta, Femas Crespo akhirnya digeser ke posisi bek tengah sebagai duet Zaky. Namun, hasilnya tetap tak memuaskan. Komando di jantung pertahanan jadi kurang terlihat sehingga minim konsentrasi dan tidak terorganisir dengan baik.

Menit 30 pada akhirnya Femas ditarik keluar dan digantikan oleh Andre Pangestu. Selain itu, rotasi di tiga laga sebelumnya tercatat hanya dilakukan saat babak kedua. Hanya lini tengah yang mengalami rotasi secara konsisten, di mana Figo Dennis dan Achmad Zidan bergantian dengan Narendra Tegar dan Hanif Ramadhan untuk melengkapi Kafiatur yang selalu bermain sejak menit awal.

2. Adaptasi Taktik dan Antisipasi Kekuatan Musuh

Malaysia sebagai tim yang sebenarnya tidak diunggulkan dalam persaingan grup B, justru mampu tampil cerdik mengatasi lawan-lawannya. Pasalnya di turnamen terakhir Piala AFF U-16 lalu, tim Negeri Jiran tak mampu lolos dari fase grup. Kunci keberhasilan mereka yakni saat berlaga kontra Guam. Malaysia melakukan rotasi total dengan menggunakan tim lapis kedua.

Harimau Malaya hanya mampu memperoleh hasil imbang di laga itu, namun mereka punya keunggulan stamina dan kesegaran skuad untuk laga selanjutnya kontra Indonesia. Di atas lapangan, serangan balik dan mekanisme bertahan Malaysia juga bekerja efektif meredam kekuatan Indonesia. Arkhan Kaka dijaga ketat serta terisolasi sehingga permainan kombinasi yang mengandalkan through pass dan direct long ball sebagai end pass benar-benar tak berfungsi seperti laga-laga sebelumnya.

Mental para pemain muda tuan rumah juga terguncang sejak lima gol cepat berjatuhan di pertengahan babak pertama. Beriringan dengan itu, tekanan yang semakin besar membuat para penggawa susah lepas dari tekanan musuh. Pasca itu, taktik Indonesia juga tak berubah sehingga sulit bagi mereka untuk mengubah situasi. Indonesia tetap bermain dominan dengan 54 persen penguasaan bola dan total 7 tembakan ke arah gawang berbuah 1 gol penghibur oleh Kaka di ujung pertandingan.

Sayang, hal itu masih kurang efektif jika dibandingkan dengan lawan yang sukses mengkonversi 5 tembakan ke arah gawang menjadi gol semuanya. Kondisi unggul di atas kertas seharusnya dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk bermain lebih bertahan dan berhati-hati guna mengantisipasi serangan balik kejutan dari Malaysia.

3. Minim Uji Coba dan Tekanan Berlebihan Pasca Juara Piala AFF U-16

Skuad juara Piala AFF U-16 langsung mendapat panggung bersama Ketua Umum PSSI, Mochammad Iriawan atau Iwan Bule dalam sebuah acara di salah satu stasiun televisi bertajuk “Konser 17-an Indonesia Juara”. Sebuah perayaan yang tidak sepatutnya dilakukan secara berlebihan untuk para pemain muda.

Selain itu, persiapan kurang matang juga menjadi penyebab Indonesia U-17 minim jam terbang melawan musuh kuat. Tercatat baik sebelum dan sesudah Piala AFF U-16 pada Agustus lalu, Bima Sakti dan anak asuhnya tak pernah menggelar laga tanding internasional kontra negara lain. Berbanding terbalik dengan proyek persiapan tim U-20 atau tim senior yang seringkali mendapat kesempatan menggelar laga internasional dan pemusatan latihan di luar negeri.

Dalam rangka persiapan jelang Kualifikasi Piala Asia, tim U-17 total hanya melakukan lima kali uji tanding melawan tim lokal selama pemusatan latihan. Kekurangan jam terbang jelas menjadi faktor inkonsistensi performa penggawa muda yang kaget ketika menghadapi tim kuat. Terlebih dalam aspek bertahan yang kurang teruji dengan permainan Garuda Muda yang selalu menyerang.

4. Pemilihan Stadion Pakansari sebagai Venue Terpusat

Semua laga Kualifikasi Piala Asia U-17 grup B digelar terpusat di Stadion Pakansari. Dengan kondisi curah hujan tinggi dan frekuensi pemakaian yang tinggi, kualitas rumput Pakansari terlihat sangat buruk di tiap pertandingan kualifikasi. Total dalam 9 hari ajang kualifikasi, stadion yang terletak di Bogor, Jawa Barat tersebut telah digunakan sebanyak 10 kali.

Pelatih UEA, Alberto Gonzalez sempat melontarkan kritik tajam terkait kondisi lapangan Pakansari. Hal itu menyulitkan timnya dan tim-tim lain yang mengandalkan penguasaan bola ketika merumput di lapangan. Imbasnya, Indonesia juga mengalami kesulitan saat saling mengalirkan bola di tiap pertandingan dan yang paling fatal ketika laga terakhir kontra Malaysia.

Dalam proyek transformasi sepakbola Indonesia, selain penentuan jadwal pertandingan, standarisasi venue juga harus lebih diperhatikan demi keselamatan pemain dan kelancaran laga yang adil baik untuk Timnas Indonesia sebagai tuan rumah maupun tim tamu sebagai lawan.

Mereka Masih Muda, Masih Banyak Kesempatan!

Kegagalan tim remaja Indonesia untuk mengikuti jejak seniornya ke putaran final Piala Asia U-17 tidak untuk terus-terusan disesali. Kaka dan kawan-kawan kini mendapat pelajaran berharga yang sangat berguna untuk perkembangan karier mereka ke depan. Indonesia pada akhirnya harus tersingkir setelah kalah dalam perebutan tempat enam runner up terbaik.

Skor telak 14-0 kontra Guam dan kemenangan 2-0 atas Palestina tak masuk dalam hitungan sebab pertandingan kontra dua tim di peringkat terbawah tidak masuk penilaian. Hal ini karena aturan penyesuaian dengan grup H dan grup J yang hanya memiliki tiga kontestan setelah Timor Leste dan Sri Lanka mengundurkan diri.

Kekalahan telak kontra Malaysia membuat Indonesia berada di urutan ke-7 dalam klasemen runner up terbaik dengan defisit gol -3 selisih 1 gol dari Laos di peringkat ke-6. Tegakkan kepala dan tetap berdiri tegap Garuda Muda, perjalanan masih panjang, banyak laga yang bisa dimenangkan!

Komentar
BACA JUGA:  Transfer Ilmu Tak Harus dengan Naturalisasi