Adakah Lahan Bertani di Internazionale Milano?

Sepandai-pandainya petani meramu, ia bukanlah tabib yang pandai meramu obat untuk menyembuhkan penyakit. Karena yang menjadi pekerjaan pokok petani adalah bercocok tanam. Dan hal inilah yang tak, atau bisa dikatan belum, dipahami oleh manajemen Internazionale Milano.

Ya, Frank de Boer adalah petani. Bukan tabib.

Sebenarnya, saya juga kurang tahu, dan cenderung enggan mencari tahu, de Boer yang hari ini menukangi Internazionale itu keturunan ke berapa dari keluarga besar de Boer yang ada di Belanda sana.

Yang saya tahu, ia punya saudara kembar bernama Ronald. Keduanya sama-sama meniti karier di dunia sepak bola. Tidak mengikuti jejak nenek moyangnya yang berprofesi sebagai petani.

Soal nenek moyang de Boer yang berprofesi sebagai petani, hal ini bisa ketahui dari nama belakang Frank, yaitu de Boer. Dalam bahasa Indonesia, de Boer bisa diartikan sebagai ‘petani’.

Sudah menjadi hal lazim di Belanda sana, jika nama keluarga biasanya merujuk pada pekerjaan nenek moyang mereka dan/atau dari mana nenek moyang mereka berasal.

Misalnya nama Sjaak van Groningen. Dari namanya tersebut, bisa kita ketahui kalau nenek moyang Sjaak itu berasal dari kota Groningen.

Atau, misalnya Sergio van Dijk. Dari namanya, kita bisa menerka kalau pekerjaan nenek moyang van Dijk adalah pembuat dijk (tanggul yang ada di bibir sungai). Atau juga bisa, keluarga van Dijk berasal dari daerah yang punya banyak tanggul.

Hal inilah yang semestinya dipahami oleh menajemen Internazionale sebelum menuntut banyak pada Frank de Boer. Bagaimanapun juga, meski sudah tak lagi bercocok tanam, Frank tetap punya darah petani yang mengalir di tubuhnya.

Dan sudah sebagaimana petani pada umumnya, de Boer hanya bisa bercocok tanam. Ia tak bisa membuat resep atau meramu obat untuk klub yang tengah menjadi pesakitan belakangan ini seperti Internazionale.

Benar memang, kalau de Boer punya catatan mentereng ketika menukangi Ajax Amsterdam. Namun, yang perlu diingat adalah, di Amsterdam sana, yang dilakukan de Boer adalah bercocok tanam. Bukan menyembuhkan penyakit.

BACA JUGA:  Ironi Pelatih Lokal di Premier League

Dalam konsep bercocok tanam, ada usaha untuk mencari kecocokan tanaman apa yang akan ditanam. Misalnya saja, ketika mendapat lahan yang kering dan susah mendapat pengairan, seorang petani tidak akan mungkin menanam padi pada lahan tersebut.

Dari situ, kita bisa tahu, proses menganalisis seorang petani, sampai batas tertentu, hanya menganalisis tentang kecocokan lahan yang mereka punyai dengan tanaman yang akan ditanam agar mampu mendapatkan hasil yang dikehendaki.

Bercocok tanam semacam itulah yang dilakukan de Boer semasa menukangi Ajax.

Di Amsterdam, Frank diberi keleluasaan untuk mengolah lahan yang jelas-jelas, baik kontur maupun tingkat kesuburannya, ia kenal. Apa yang diinginkan Frank de Boer sebagai petani, semua sudah tersedia. Bibit yang bagus? Hal itu jelas tersedia. Tak hanya satu-dua, namun puluhan, bahkan ratusan.

Memangnya siapa yang tak mengenal bibit-bibit hasil binaan klub kebanggan ibu kota Belanda itu?

Akhirnya, apa yang dikerjakan Frank de Boer selama menukangi Ajax adalah memilih bibit yang cocok dengan gaya bertani (baca: bermainnya). Kemudian memupuknya. Kemudian bibit itu tumbuh. Dan kemudian, bibit-bibit seperti Davy Klassen, Joel Veltman, atau Anwar El Ghazi pun kian akrab di telinga kita.

Dan ketika Frank de Boer berhasil mencatatkan dirinya sebagai yang terbaik di tanah Koning Willy empat kali berturut-turut, hal itu bisa dianggap sebagai kewajaran. Lantaran mantan bek tim nasional Belanda tersebut telah mengenal tanah yang sedang dikerjakannya.

Lagipula, di Belanda, ia mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan sebagai seorang boer.

Namun, kini, apa yang dilakukan Frank de Boer di Internazionale sungguh bertolak belakang dengan apa yang (pernah) ia lakukan di Amsterdam. Di Milan, si petani itu mendapat tugas berbeda: dituntut untuk menyembuhkan Internazionale yang pesakitan.

Jelas, sampai batas tertetu, ia tak bisa melakukan apa yang dimandatkan kepadanya itu dengan cepat. Alasanya utamanya, adalah karena Frank belum benar-benar beradaptasi dengan lahannya yang baru.

BACA JUGA:  Surat untuk Idolaku, Jack Wilshere

Benar memang, kalau kemampuan adaptasi Frank dengan iklim sepak bola Italia yang tak cepat-cepat amat itu telah membuat keterpurukan Internazionale semakin menjadi. Namun, ada yang dilupakan oleh manajemen: bahwasanya Frank adalah seorang petani.

Di Milan, ia tak punya lahan sesubur Amsterdam. Pilihan bibit yang ada pun tak sebanyak di klubnya yang lama. Belum lagi, dengan keinginan manajemen, dan juga fans tentu saja, yang menginginkan Internazionale sesegera mungkin bangkit.

Ya, masalahnya begitu kompleks. Sampai-sampai, membuat para pendukung La Beneamatta terpecah menjadi dua kubu: kubu yang percaya dan sabar menunggu perubahan dari sang pelatih dan kubu yang sudah jengah dengan peforma Frank sejauh ini.

Mereka yang jengah dengan Frank, tentu menginginkan adanya pergantian pelatih. Dan kubu yang percaya pada kemampuan Frank untuk memperbaiki Internazionale, memilih untuk bersabar dan menunggu proses adaptasi selesai.

Memberi waktu Frank untuk melakukan sentuhan magisnya di Milan, sebenarnya, buka pilihan bijak. Karena, seperti yang saya nyatakan di awal, Frank adalah seorang petani, bukan tabib.

Jadi, meskipun memberi waktu, hasilnya (sepertinya) akan sama saja: penyakit yang menjangkit Internazionale tak mungkin bisa sembuh.

Karenanya, apa yang seharusnya dilakukan menajemen adalah memperlakukan Frank de Boer selayaknya petani. Manajemen harus bisa memfasilitasi kebutuhan Frank dalam bertani.

Manakala ia butuh bibit unggul, manajemen harus turun tangan dan memafsilitasi kemauannya. Biarkan Frank memilih dan memilah, bibit mana saja yang cocok untuk ditanam di Milan.

Setelah itu, biarkan ia “bercocok tanam” dengan kemampuan yang ia miliki sampai menuai hasil yang diinginkan. Namun, ketika, si petani dari Belanda itu gagal panen di akhir musim ketika telah diberi keleluasaan dalam memilih bibit, barulah kiranya, si petani itu didepak.

Pokoknya, biarkan ia berkembang dan jangan sampai bertanya, “Adakah sejumput lahan dan sedikit bibit untuk saya tanam?”

Itu juga kalau Internazionale mau, dan tak menyia-nyiakan salah petani terbaik dari Belanda itu.

 

Komentar