Andrea Belotti: Predator Muda dari Penisola Italiana

Serie A Italia tengah berbenah. Salah satu aspek yang patut mendapatkan perhatian adalah regenerasi pemain. Italia tengah berusaha melepaskan stigma “pemain veteran” yang melekat terlalu kuat.

Untuk pos kiper, nama Gianluigi Donnarumma tengah laris menjadi buah bibir bakal meneruskan tongkat estafet Gianluigi Buffon. Kemudian, nama Alessio Romagnoli dipandang mempunyai bakat dan potensi untuk mendekati level Alessandro Nesta.

Lalu, Marco Verratti, Federico Bernardeschi, dan Manuel Locatelli dinilai cocok untuk mengawal lini tengah Gli Azzuri dalam waktu dekat ini. Dan untuk lini depan, ada satu nama yang mencuri sorotan publik setelah tampil apik dengan mencetak lima gol dari tujuh penampilan di awal musim ini. Namanya adalah Andrea Belotti.

Striker muda kelahiran 1993 ini selalu bermain dengan penuh determinasi. Mengingatkan kita akan sosok Christian Vieri, yang kokoh dan tak gentar menerjang kawalan lawan. Namun Belotti juga cerdik di area berbahaya lawan, seperti Filippo Inzaghi. Ia calon predator di dalam kotak penalti.

Belotti sendiri juga beruntung lantaran bermain untuk Torino yang berani memberikan kepercayaan kepada pemain muda. Selain Belotti, Il Toro juga tak ragu untuk memainkan Davide Zappacosta (24 tahun), Antonio Barreca (21), Daniele Baselli (24), dan Marco Benassi (22).

Kelimanya adalah aset berharga untuk Torino dan tentu saja, bagi tim nasional Italia.

Perjalanan karier Belotti

Belotti mengawali karier bersama akademi Grumellese yang bermain di Serie D selama empat tahun. Pada usia 13 tahun, ia hijrah ke akademi AlbinoLeffe. Debut senior ia dapatkan saat berusia 18 tahun pada musim 2011/2012.

Selama dua musim, total Belotti mencetak 14 gol dari 37 pertandingan. Di AlbinoLeffe pula Belotti mulai menikmati perannya sebagai penyerang, karena sebelumnya ia bermain di posisi gelandang atau sayap. Pelatih Albinoleffe saat itu, Alessio Pala yang memercayakan posisi penyerang tengah kepada pemain muda yang lahir di Calcinate, Italia, ini.

Bakatnya mulai tercium oleh Palermo, yang baru terdegradasi ke Serie B. Kesempatan bermain di klub yang lebih besar dimanfaatkan Belotti untuk mengembangkan kariernya. Pada musim 2013/2014, Belotti menerima kesempatan dipinjamkan ke Palermo. Sebagai pemain muda, Belotti mampu mencuri perhatian.

BACA JUGA:  Tentang Roberto Baggio dan Perseteruannya dengan Marcello Lippi

Musim pertama bersama Palermo berjalan manis. Total, Belotti mampu mencetak 14 gol, meski tak selalu bermain sejak menit awal. Ia juga mampu membawa Palermo kembali ke Serie A. Pada musim 2014/2015, Palermo memutuskan membeli Belotti secara permanen dengan membeli separuh hak kepemilikannya.

Debutnya di Serie A sendiri tak berjalan dengan mulus. Statusnya yang hanya sebagai pelapis Paulo Dybala menyulitkan Belotti mengembangkan potensi terbaiknya. Dari 38 penampilan, Belotti hanya mencetak enam gol.

Namun meski tak menjadi pilihan utama, potensi Belotti tetap menarik di mata klub-klub Italia. Pada musim 2015/2016, Torino berhasil mendapatkan tanda tangan Belotti dengan mahar 7,5 juta euro. Giampiero Ventura, pelatih Torino saat itu memang jeli melihat potensi seorang wonderkid.

Lantaran tak menjadi pilihan pertama, Belotti kembali tak bisa menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Selama separuh musim, Belotti hanya mampu mencetak satu gol. Menit bermainnya memang terbatas lantaran kalah bersaing dengan Ciro Immobile dan Fabio Quagliarella.

Selepas Quagliarella hengkang, performa Belotti semakin membaik. Predator muda ini hanya membutuhkan menit bermain. Total, di paruh kedua musim 2015/2016, Belotti mampu mencetak 11 gol, termasuk membobol gawang Buffon yang sudah “perawan” selama 975 menit.

Selama musim 2015/2016, Belotti berhasil mencatatkan 35 kali bermain, dengan 12 gol, 4 asis, 25 umpan kunci, dan 29 peluang tercipta. Performa apik ini membuat Liverpool dan Arsenal tertarik memboyongnya ke Inggris. Namun ia memilih setia, dengan bertahan bersama Torino.

Musim 2016/2017, Belotti membayar kepercayaan Torino dengan suguhan luar biasa. Lima gol dari tujuh penampilan tentu pembuktian yang sahih, belum ditambah akurasi umpan yang semakin membaik dengan mencapai 81%. Bersama Sinisa Mihajlovic, Belotti berkembang dengan pesat.

Karier Belotti bersama Gli Azzuri

Performanya yang bersinar di paruh awal musim ini diganjar dengan satu tempat di tim nasional Italia. Giampiero Ventura, alenatore anyar yang menggantikan Antonio Conte, melakukan perubahan besar. Pelatih berusia 68 tahun ini banyak memasukkan wajah-wajah segar pemain muda.

BACA JUGA:  Dunia Bayang-Bayang Dani Pedrosa

Tanggal 1 September 2016 adalah tanggal bersejarah untuk Belotti. Ketika melawan Prancis, Belotti melakoni debutnya sebagai pemain pengganti. Kepercayaan Ventura ia bayar tuntas kala menjadi pilihan utama saat Italia melawan Macedonia. Ia mencetak satu gol di laga di mana dirinya menjadi pilihan utama. Sungguh manis.

“Tak banyak pemain seperti dia. Dia bisa memainkan dua fungsi. Dia adalah defender pertama untuk tim, yang mana itu adalah sebuah kontribusi yang penting,” puji pelatih Belotti di timnas Italia U-20, Alberigo Evani.

Momentum emas

Banyak yang menyebut Belotti adalah sosok stiker “nomor sembilan” sejati yang dirindukan publik sepak bola Italia. Selain memiliki insting mencetak gol yang tinggi, penyerang berjuluk il Gallo atau Sang Ayam Jantan ini memiliki teknik melepas tembakan yang sangat baik.

Postur tubuhnya yang tak terlalu tinggi tidak membuat Belotti kesulitan berduel dengan bek-bek Italia. Determinasi dan tekad kerasnya selalu terlihat. Kontrol bola yang baik, ditunjang seleksi umpan yang juga baik membuat Belotti tak hanya sekadar “nomor Sembilan”. Ia penyerang yang komplet.

Paruh awal musim ini harus dimanfaatkan Belotti sebaik mungkin. Momentum bagus ketika dirinya berada di performa terbaik merupakan saat-saat yang ideal untuk mengembangkan potensinya. Kuncinya adalah terus bekerja keras dan rendah hati.

Performa yang terjaga akan otomatis menjamin satu tempat di tim nasional Italia. Pun, kesempatan menarik perhatian tim-tim raksasa Eropa akan selalu terbuka. Bagi pemain muda satu ini, boleh dikata, masa depan benar-benar terletak di telapak tangannya sendiri.

Beberapa media di Italia sudah terlanjur menyematkan “Il nuovo Bobo Vieri” bagi Belotti. Tidak ada yang salah memang, apabila Belotti memang bisa memenuhi ekspektasi dan mencapai level terbaiknya.

Bahkan, apabila mampu mekar sepenuhnya, bukan tak mungkin Belotti akan melewati catatan Vieri, yaitu dengan memenangi Piala Dunia bersama Italia.

 

Komentar