Arema: Mengubah Identitas dan Kultur Arek Malang

Mengenalkan kota Malang dari kancah sepakbola menjadi cita-cita awal seorang Lucky Acub Zaenal.

Hal itu muncul karena saat dirinya mengunjungi beberapa daerah di Indonesia untuk mengikuti perlombaan otomotif, kompetitornya acap bertanya tentang Malang.

Walau sama-sama ada di Jawa Timur, saat itu orang-orang lebih mengenal Surabaya ketimbang Malang. Terlebih, sepakbola Surabaya begitu menggelegar karena keberadaan Persebaya.

Lukman Hakim dalam jurnal Aremania: Suatu Bentuk Identitas Pemersatu Kaum Muda Kota Malang Tahun 1992-2000, menulis bila pengalaman tersebut melecut keinginan Lucky untuk mereproduksi identitas baru Arek Malang melalui sepakbola.

“Papi (Brigjen Purnawirawan Acub Zaenal) ingin ada klub Galatama dari Malang”, terang Lucky.

Beruntung, cita-cita tersebut bisa diwujudkan setelah pada tanggal 11 Agustus 1987. Kesebelasan asli Malang yang diberi nama Arema resmi berdiri dan mengikuti kompetisi semi-profesional di tanah air, Galatama.

Identitas individu atau kelompok bisa dikonstruksi sesuai dengan kebutuhannya.

Menurut Lukman, identitas legitimasi dan identitas resisten merupakan unsur yang mengonstruksi komunitas Aremania.

Keberadaan komunitas Aremania juga tak bisa dilepaskan dari kesebelasan Arema dan kelompok suporter Bonek.

“Kemunculannya berasal dari keinginan komunitas untuk eksis dalam dominasi dan bersaing dengan kelompok lain merujuk pada sikap resisten kepada suporter Surabaya. Karena suporter dari Malang selalu diidentifikasi sebagai Bonek yang mendominasi Jawa Timur pada era 1990-an,” papar Lukman.

Sedangkan identitas legitimasi menunjuk pada kesebelasan Arema yang mendominasi persepakbolaan di Malang.

Sebelum Arema berdiri, kota Malang sudah memiliki klub era perserikatan bernama Persema.

Selain cita-cita untuk mengenalkan Malang, berdirinya kesebelasan Arema didorong pula untuk menyatukan para pemuda di Malang.

Tahun 1980-an sampai 1990-an, para pemuda Kota Apel terbelah menjadi geng-geng antarkampung di kota Malang.

Mereka acap tawuran satu sama lain. Kenyataan itu membuat istilah Arek Malang begitu lekat dengan sisi negatif. Berkisar pada stigma kekerasan dan pembuat onar.

“Biasanya ketemu di alun-alun situ, wis geger iku,” kata Sukarno, akrab dipanggil Cak No, penabuh bas drum dan salah satu konduktor Aremania. Sedikit saja gesekan yang terjadi antargeng bisa memicu perkelahian.

Sejarawan Faishal Hilmy Maulida melalui penelitiannya menyatakan bahwa geng-geng tersebut ada untuk memperkuat identitas. Geng-geng antarkampung itu sangat fanatik terhadap daerahnya.

BACA JUGA:  Memakan Lawan Bersama Makan Konate

Mereka memiliki idealisme tersendiri dalam mempertahankan wilayah dan identitasnya. Bahkan geng-geng itu secara nyata memperlihatkan karakter maskulinitas saat terjadi gesekan antargeng.

Prakondisi ini yang menyebabkan citra negatif masih melekat di Arek Malang secara umum, dan bahkan Aremania secara khusus.

Presensi Arema di Galatama bikin geng-geng ini ‘melebur’ jadi suporter Arema. Namun, mereka tidak murni mendukung Singo Edan. Banyak dari mereka yang cenderung menjadi suporter brutal seperti Hooligan di Inggris.

Awal dekade 1990-an, dikenal istilah pasukan bodrex yang merujuk pada suporter Arema yang masih remaja dan kerap berbuat ulah.

Masa-masa itu, bagi sebagian orang, fans Arema dianggap mengerikan.

Lihat saja pemain Petrokimia Gresik yang dilempari batu oleh pendukung Singo Edan pada Galatama XI.

Pada musim yang sama, kepala pemain Bandung Raya juga ada yang bocor akibat ulah tak terpuji mereka.

Sampai akhirnya, tingkah polah buruk itu terkikis perlahan-lahan seiring dengan makin luasnya dukungan bagi Arema.

Meski wadah dan identitas dari kesebelasan sepakbola itu belum mampu secara penuh mengubah kultur brutal antargeng. Namun perubahan terus terlihat.

Berawal dari keberhasilan Arema menjadi kampiun Galatama 1993, kelompok suporter dari geng-geng remaja tersebut pelan-pelan mulai mengubah sikapnya menjadi lebih kreatif, atraktif, dan suportif.

Itu pula yang meleburkan geng-geng pemuda di Malang ke dalam satu wadah bernama Aremania.

“Semakin lama semakin luntur, terlebih ketika sudah menjadi wadah dan mengatasnamakan Aremania. Semula yang dengan bangga atas geng dan wilayahnya sudah tidak lagi tersekat. Mereka sudah melebur menjadi Aremania,” terang Hilmy.

Adanya kesebelasan Arema menjadi wadah pemersatu para pemuda di Malang juga disebutkan Ovan Tobing, salah satu pendiri kesebelasan Arema.

“Sebuah payung untuk anak-anak Malang yang pada saat itu masih hidup dalam kultur geng-geng,” kata Ovan dikutip dari Majalah Kavling 10, edisi II, 2012.

Kavling 10 juga melakukan survei tentang Identifikasi Eksistensi Keidentitasan Arema. Hasil survei menunjukkan sebanyak 75% responden menyatakan bahwa Arema dinilai sebagai unit kokoh yang mempersatukan masyarakat Malang.

Sebanyak 64% responden bilang jika Singo Edan tidak hanya dijadikan sebagai unit pemersatu, tetapi dijadikan pula sebagai simbol dari sikap bangga masyarakat Malang terhadap budaya lokal dalam bentuk sepakbola.

BACA JUGA:  Sepenggal Cerita Kompetisi Perserikatan Tahun 1931 (Bagian Ketiga)

Bersamaan dengan berdirinya klub, didirikan pula wadah suporter bernama Arema Fans Club (AFC).

AFC bersifat struktural dan dibentuk sebagai usaha untuk menyatukan para pemuda di Malang yang terpecah-pecah dalam geng antarkampung.

“AFC menggunakan propaganda bahwa siapapun yang mewakili kota Malang harus didukung termasuk Persema,” tulis Lukman.

Kendati demikian, organisasi struktural macam itu tak mampu bertahan lama di Kota Apel.

Sejak tahun 1990-an, sejak istilah Aremania lekat dengan suporter Arema, mereka tak memiliki organisasi formal.

Mereka memilih untuk mengelompokkan diri mereka sendiri dengan sebutan koordinator wilayah (korwil). Korwil dibentuk dari gang-gang yang ada di Malang.

“Sekitar tahun 1990-an sudah ada 10 korwil,” kata Cak No.

Lukman menyebut komunitas Aremania sebagai informal grup yang tidak mempunyai struktur pasti. Tak ada ketua resmi atas nama Aremania.

“Kalau di sini nggak ada struktur organisasi,” tutur Cak No.

Lukman menulis tak adanya ketua dan organisasi struktural secara resmi sesuai dengan budaya Arek Malang yang bercorak egaliter.

Meski Cak No juga mengakui jika komunitas Aremania yang bercorak informal juga memiliki kelemahan.

“Juga ada kelemahannya. Kalau ada uang pembinaan, larinya ke mana?” tanya Cak No.

Sepakbola tak lagi sekadar permainan, komunitas Aremania dan kesebelasan Arema tak ubahnya spektakel tersendiri. Ulah kreatif Aremania di stadion terlihat seperti perayaan pesta.

Seperti kata Darmanto Simaepa dalam buku Tamasya Bola, mereka semua bernyanyi-meski sebagian hanya dalam hati-untuk sejenak merayakan momen kebersamaan, untuk lari dari kenyataan, untuk berjarak dari masalah yang membelit, untuk menyeka kesendirian barang sebentar, dan untuk bertahan dari segala tekanan.

Seluruh jiwa dan gelora mengambang di udara, itu yang penting dalam nyanyian bersama.

Segalanya berasal dari nasib berbeda namun dipertemukan dalam muara ruang dan waktu yang sama.

“Dulu kalau kita dengar lagunya Arema Voice itu sudah deg-degan di sini (menunjuk dada). Lagu-lagu yang dinyanyikan Arema Voice selalu memunculkan getaran di hati, sebuah panggilan jiwa”, terang Cak No seraya menghela napas.

Komentar
Pemirsa sepakbola layar kaca. Bisa disapa melalui akun Twitter @helminza.