Tentang Fanatisme Suporter Sepakbola

Dikenal sebagai salah satu negara yang menggilai sepakbola, mengendalikan tumbuhnya suporter sepakbola di tanah air bukanlah perkara sepele. Apalagi hampir di setiap kota, ada sebuah kesebelasan sepakbola yang amat dibanggakan warganya.

Bicara tentang suporter, tentu sulit rasanya untuk menepikan sikap fanatik. Namun tanpa bermaksud memihak salah satu basis suporter sepakbola di Indonesia, saya mencoba memandang sisi fanatisme itu melalui dua pandangan yang berbeda yaitu pandangan positif dan negatif.

Secara umum, kita semua tahu bahwa kompetisi sepakbola di Indonesia diikuti oleh tim yang memiliki basis pendukung yang masif dan fanatik. Misalnya saja di Liga 1, ada Aremania (Arema FC), Bobotoh (Persib), Bonek (Persebaya), Brigata Curva Sud (PSS), The Jak (Persija) sampai Persipura Mania (Persipura).

Sementara di Liga 2, ada kelompok suporter Banaspati (Persijap), Brajamusti (PSIM), Pasoepati (Persis), Smeck (PSMS), Sriwijaya Mania (Sriwijaya FC) sampai The Khmers (Semen Padang).

Sisi Positif

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fanatisme memiliki arti keyakinan yang terlalu kuat mengenai sebuah ajaran tertentu (baik itu agama, politik dan sebagainya).

Terhadap klub kesayangan, fanatisme suporter memiliki nilai positifnya sendiri. Dengan perasaan cinta yang luar biasa dari suporter, semangat bertanding sebuah tim dapat melonjak drastis. Berkat itu pula, penampilan para pemain bisa semakin ciamik.

Kadang, fanatisme suporter juga menjadi pertimbangan seorang pemain untuk berlabuh di sebuah tim. Salah satu nama kondang yang pernah dan masih akan mencicipi dukungan masif suporter dengan fanatisme tinggi adalah gelandang energik asal Mali, Makan Konate.

Beberapa musim lalu, Konate pernah dipuja Bobotoh saat mengenakan baju Persib. Musim kemarin, dirinya jadi idola Aremania lantaran memperkuat Arema FC. Musim depan, giliran Bonek yang siap mendukung Konate usai sang pemain meneken kontrak dengan Persebaya.

Baca Juga:  Memaklumi Performa Liverpool Musim 2015/2016

Belum cukup sampai di situ, keberadaan suporter yang fanatik juga membuat citra sebuah tim terdongkrak di mata sponsor. Paling tidak, para sponsor dapat memanfaatkan kerja sama mereka dengan klub tersebut untuk ‘menjual’ produknya kepada para suporter fanatik yang merupakan pangsa pasar utama. Terlebih kelompok suporter yang jumlahnya masif.

Bagi klub, fanatisme suporter juga bermanfaat untuk menggerakkan roda ekonomi. Misalnya saja lewat pembelian tiket pertandingan kandang maupun merchandise, mulai dari jersi, kaus, dan berbagai aksesoris lainnya. Sebagai contoh, Persebaya membuka cukup banyak store guna mengoptimalkan pemasukan dari sektor ini karena manajemen sadar bahwa Bonek adalah pangsa pasar yang besar serta loyal.

Sisi Negatif

Walau demikian, fanatisme suporter juga punya dampak negatif. Umumnya, hal ini berkaitan dengan kehidupan sosial dengan masyarakat. Teraktual, ada kericuhan yang terjadi di kota Blitar saat Arema FC dan Persebaya bertemu dalam partai semifinal Piala Gubernur Jawa Timur kemarin (18/2).

Telah ditetapkan sebagai laga tanpa penonton, suporter dari kedua tim yang memang punya rivalitas tinggi, tetap datang ke Blitar. Alhasil, mereka justru memunculkan friksi yang mengorbankan masyarakat sekitar. Hal ini tentu sangat buruk, bukan?

Fanatisme suporter juga berpotensi memicu perbuatan-perbuatan tidak pantas. Saat Sriwijaya FC kalah di sebuah pertandingan, suporter yang kecewa lantas merusak fasilitas Stadion Gelora Jakabaring. Ketika PSIM gagal tampil baik, sejumlah suporternya justru bertindak rusuh. Pun dengan suporter yang sering meneror bus tim lawan jelang perjumpaan dengan tim kesayangan mereka.

Di luar daripada itu, fanatisme suporter yang negatif juga menyentuh aspek modernisasi. Sebagai contoh, penolakan kelompok suporter lantaran klub kesayangannya ingin mengganti logo agar lebih mudah diaplikasikan di berbagai aspek. Padahal, satu-satunya alasan yang mereka ajukan hanyalah perkara sejarah.

Baca Juga:  Liverpool Era Juergen Klopp Perlu Meniru Kepemimpinan Sir Alex Ferguson di Manchester United

Masih ada banyak lagi sisi negatif dari fanatisme suporter yang merugikan banyak pihak, termasuk para suporter itu sendiri. Hal inilah yang wajib dibenahi agar segalanya menjadi lebih baik dan suporter sepakbola tak selalu dipandang sebagai gerombolan orang yang suka bikin onar.

Mendukung tim kesayangan dengan cara yang benar adalah hal yang tak bisa ditawar. Jangan mudah tergoda atau terpancing eksistensi yang pada ujungnya menimbulkan dampak buruk untuk semua orang.

Datang ke stadion dengan tertib, membeli tiket pertandingan, menyanyikan lagu-lagu penyemangat tanpa tendensi untuk menghina pihak lain, menerima apapun hasil laga dengan rasional, dan menyampaikan kritik secara elegan adalah cara-cara positif yang patut dilakukan secara kontinyu.

Fanatik terhadap tim kesayangan adalah suatu hal yang lumrah di dunia sepakbola. Namun sebagai manusia yang dikaruniai akal, tentu kita wajib memiliki kontrol atas perasaan itu sehingga apa yang kita lakukan sebagai pendukung klub sepakbola, tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, apalagi sampai menghilangkan nyawa karena sepakbola tidak diciptakan untuk tindakan keji seperti itu.

Komentar
Narendra Hernandhito
Penggemar Inter dan penikmat sepakbola Indonesia. Apapun klub yang bermain terutama di Liga 1 selalu saya tonton di saat gabut. Bisa disapa di akun Twitter @nrndrahrndhto.