Belajar Kebaikan dari Mesut Ozil

Menyoal aktivitas hidup Mesut Ozil, kita seperti dibawa untuk mencermati bintang-gemintang di atas langit pada waktu malam. Berpendar dengan indahnya memenuhi angkasa.

Sosok yang musim ini ‘pulang’ ke Turki untuk bergabung dengan Fenerbahce usai nasibnya tak menentu bersama Arsenal, memang dikenal sebagai figur religius.

Kita seringkali melihat bagaimana perilakunya saat memulai atau menyudahi laga. Dua tangannya tertelungkup, menengadah ke atas seraya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada kesempatan lain, Ozil yang paham bahwa dirinya memiliki brand image sebagai pesepakbola ternama, menggunakan suaranya untuk menentang tindakan tak terpuji seperti rasisme.

Walau Ozil sendiri tak bisa lepas dari berbagai hal kontroversial dalam hidupnya sebagai manusia, tetapi ada banyak hal yang sepatutnya bisa kita contoh darinya.

Salah satunya tentu kedermawanan lelaki kelahiran Gelsenkirchen, Jerman tersebut. Dilansir oleh Middleeastmonitor, Ozil pada bulan Ramadan 1442 Hijriah kali ini mendonasikan uang sebesar 120 ribu dolar Amerika Serikat (AS) kepada organisasi kemanusiaan, Turkish Red Crescent Society.

Dana tersebut digunakan untuk menyediakan paket sembako sekitar 4.550 paket yang dibagikan kepada anak-anak panti asuhan di sejumlah negara.

Pada Ramadan sebelumnya, Ozil juga menyumbang dana sekitar 80 ribu dolar AS untuk tujuan serupa. Terlebih, pada saat itu dunia sedang memasuki tahap awal pandemi Covid-19 sehingga banyak orang yang mengalami kesusahan.

Menariknya, sebelum ia mendonasikan uang dengan jumlah lumayan banyak tersebut kepada organisasi kemanusiaan, Ozil sempat dicerca lantaran tak mau menerima pemotongan gaji dari klubnya saat itu, Arsenal.

Di lapangan, Ozil kerap menunjukkan aksi yang tidak egois. Di saat kita merasa bahwa ia punya peluang mencetak gol, nyatanya bola yang ada di kakinya ia oper kepada rekan setim yang posisinya lebih bebas dan memiliki kesempatan bikin gol lebih tinggi.

BACA JUGA:  Asnawi Mengejar Impian di Lapangan Hijau

Di lapangan, Ozil menjadi representasi pelayan setia yang siap memanjakan para penyerang dengan umpan-umpan ajaibnya.

Altruisme itu dibawanya pula ke luar lapangan. Ia dengan kemampuan finansialnya yang lebih baik, tak sungkan untuk membantu pihak-pihak lain yang kesulitan.

Ia ingin memiliki peran yang jelas dan kontribusi positif pada kehidupan sosial masyarakat. Wajar bila suami Amine Gulse ini diidolakan banyak orang.

Pembaca tentu masih ingat cerita tentang maskot dinosaurus Arsenal, Gunnersaurus, yang diperankan Jerry Quy, tiba-tiba diberhentikan manajemen The Gunners setelah bekerja selama kurang lebih 27 tahun.

Alasannya apalagi kalau bukan pandemi Covid-19 yang menyiksa keuangan klub. Alhasil, ia menyisihkan sebagian gajinya saat bermain di Arsenal untuk membayar upah yang seharusnya menjadi hak Quy.

“Orang tua saya mengajarkan satu prinsip yang baik. Jangan pernah merasa istimewa hanya karena sudah sukses (sebagai pesepakbola). Sebaliknya, gunakan hal itu untuk membantu orang lain”, ucap Ozil seperti dilansir dari Kumparan.

Kisah kedermawanan Ozil semakin sering tampak bila terkait dengan anak-anak. Sosok berusia 32 tahun itu sendiri memang punya fokus pada anak-anak. Ia menyebut bahwa anak-anak adalah masa depan dan ia mencintai mereka.

“Saya memikirkan masa kecil saya sendiri. Saya tahu dari mana saya berasal. Saya tak selalu bisa mendapatkan apa yang saya inginkan karena hidup memang tidak mudah”.

Membiayai 23 anak di Brasil untuk operasi mereka, membiayai operasi dari 1.000 anak di seluruh dunia yang mengalami bibir sumbing, terkena luka bakar sampai kaki pengkor adalah dua dari sejumlah tindak mulia yang Ozil lakukan.

“Ozil adalah sosok yang amat luar biasa dan sangat senang membantu anak-anak. Ozil tak bisa menunggu karena anak-anak membutuhkan,” ungkap salah seorang rekannya.

BACA JUGA:  Robin van Persie dan Kisah Getirnya di Inggris

Barangkali hanya ada dua kamus berjalan dalam hidup Ozil. Pertama adalah bermain sepakbola dengan sebaik-baiknya. Kedua, berkontribusi untuk kemanusiaan semaksimal mungkin.

Dua hal itu tak bisa dilepaskan satu sama lain karena menjadi satu bagian dalam diri Ozil dan keluarganya. Ozil adalah pengejawantahan manusia seutuhnya yang tak hanya mementingkan dirinya sendiri dalam hidup serta layak dijadikan panutan.

Komentar
Penikmat sepakbola yang kebetulan mencoba tekun membaca. Bisa disapa di Twitter via akun @junaidi_afif.