Berita April Mop Sepakbola: Antara Hiburan, Pelanggaran, dan Pembelajaran

CAPE TOWN, SOUTH AFRICA - JULY 03: Diego Maradona head coach of Argentina looks frustrated on the touchline during the 2010 FIFA World Cup South Africa Quarter Final match between Argentina and Germany at Green Point Stadium on July 3, 2010 in Cape Town, South Africa. (Photo by Chris McGrath/Getty Images) *** Local Caption *** Diego Maradona

Akibat tak menjadi pilihan utama di Internazionale Milano, Roberto Baggio melakukan kekerasan fisik terhadap Marcello Lippi; Inggris, yang tersisih di babak kualifikasi, ditunjuk menggantikan Spanyol untuk berlaga di Piala Eropa 2008 akibat persoalan internal dalam tubuh federasi Negeri Matador; dan David Beckham menjadi asisten pelatih tim nasional Australia.

Sementara, di luar lapangan, Diego Maradona diketahui telah memiliki anak hasil hubungan terlarang dengan Madonna.

Apakah Anda pernah mendengar berita tentang peristiwa tadi? Jika jawabannya iya, maka Anda adalah orang yang sangat update dengan informasi sepakbola. Lantas, apakah peristiwa tadi memang benar adanya? Jawabannya: TIDAK.

Ketiga peristiwa merupakan sebagian contoh dari berita-berita hoax berkaitan dengan sepakbola, yang uniknya memang sengaja disebarkan oleh perusahaan media (yang tentunya merupakan lembaga resmi, bukan abal-abal).

Semakin parah lagi, berita-berita tadi kemudian dikutip oleh media lain. Bahkan, berita mengenai Inggris menggantikan Spanyol, kemudian dikutip oleh banyak media di seluruh dunia.

Berita-berita tersebut dimunculkan mendekati atau tepat pada tanggal 1 April, atau yang dikenal sebagai April Mop. Intinya, ketika April Mop, seseorang bisa ngerjain orang lain dengan informasi palsu (yang disampaikan dengan cara yang sangat meyakinkan). Tujuan tercapai ketika orang lain percaya pada informasi tersebut.

Lalu apa tujuannya media tadi menyebar berita palsu? Cari sensasi? Meningkatkan jumlah pembaca? Atau punya maksud jahat, sengaja menebarkan kebohongan yang tujuannya mencemarkan nama baik orang lain?

Menurut pandangan penulis, bukan. Tujuannya: semata menghibur. Sebagai penanda April Mop.

April Mop dan berita sepakbola Indonesia

Sepakbola Indonesia pun tidak lepas dari “jebakan April Mop”. Dari penelusuran singkat yang penulis lakukan, ada dua berita yang “cukup meyakinkan”, yaitu Guus Hiddink resmi menjadi pelatih timnas Indonesia dan PSSI membatalkan regulasi pergantian lima pemain di Liga 1.

Kedua berita itu pun sempat diperaya sebagai kebenaran. Berita Guus Hiddink misalkan, sempat dikutip oleh salah satu surat kabar lokal. Sementara berita mengenai revisi regulasi Liga 1, juga sempat menghebohkan jagat maya.

Mengapa kemudian orang menjadi sangat mudah percaya? Ada dua faktor.

Pertama, berita tersebut disampaikan oleh media yang memiliki merek yang kuat sebagai media internasional yang berkualitas (dalam contoh kasus itu adalah Goal.com Indonesia dan CNN Indonesia).

BACA JUGA:  Membela Pragmatisme Jose Mourinho

Kedua, berita tersebut mengambil isu yang tengah hangat dibicarakan atau yang mengundang pro dan kontra. Faktor ketiga akan dijelaskan di bagian lain tulisan ini.

Isu Hiddink muncul saat ada wacana pemerintah Indonesia hendak membantu melobi untuk mendatangkan pelatih asal Belanda tersebut. Kebetulan, saat itu, prestasi timnas tengah minim.

Rekam jejak Hiddink yang di antaranya sukses mengantar dua tim non-unggulan melaju ke semifinal (Liga Champions 2004/05 untuk PSV Eindhoven dan Piala Dunia 2002 untuk Korea Selatan) seakan menjadi solusi bagus untuk tim nasional Indonesia.

Kemudian, mengenai regulasi Liga 1, salah satu yang memicu pro-kontra adalah aturan pergantian pemain sampai lima kali. Aturan tersebut tidak sesuai standar FIFA dan dinilai hanya akan menjadi celah bagi klub-klub untuk mengakali aturan-aturan yang lain.

Memanfaatkan moment tersebut, salah satu media menghadirkan berita mengenai revisi aturan, yang nyata-nyata itu hanya berita karangan semata.

Faktor ketiga, memanfaatkan kondisi psikologis pembaca. Seseorang hanya ingin mendengar atau mengetahui yang ia yakini benar. Kuatnya motif dalam mencari dan berbagi informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan, nilai, dan orientasi ideologis tersebut membuat sering kali kita tidak kritis atas sumber informasi yang menyebarkan kabar tersbut (Puji Rianto, 2016: 95).

Masyarakat Indonesia ingin timnas ditangani oleh pelatih kelas dunia; masyarakat Indonesia ingin kompetisi berjalan dengan aturan sesuai standar FIFA. Memanfaatkan keinginan tersebut, maka media memunculkan berita-berita bohongan dan pembaca pun meyakini itu sebagai kebenaran.

April Mop dan hoax

Jika kita lihat, April Mop, sependek pengetahuan penulis, dipublikasikan oleh media-media yang berbasis internasional, di mana tradisi April Mop begitu familiar. Sebagai contoh, pemain timnas Belanda era 1970-an, Johnny Rep, santai-santai saja ketika diberitakan meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter.

Dia tidak mengeluhkan atau bahkan menuntut media tersebut. Di belahan dunia lain, berita bohong (tentang sepakbola) nyata-nyata merugikan. Di Brasil sekitar tahun 1988, ratusan anak panti asuhan di Sao Paolo menunggu kedatangan Pele, karena ada berita bahwa sang legenda Brasil itu akan berkunjung.

Padahal, di hari yang sama, Pele nyatanya tengah berada di Jepang.

BACA JUGA:  Tentang Roberto Baggio dan Perseteruannya dengan Marcello Lippi

Anda tentu bisa membayangkan perasaan anak-anak panti asuhan di Brasil yang sudah berharap bertemu Pele. Namun ternyata, mereka termakan berita palsu. Dalam kondisi ini, apakah hal yang maksudnya tadi bercanda masih pantas disebut lucu?

Herannya, media-media yang menyebar April Mop tersebut terkesan (sudah) menunjukkan tanggung jawab dengan memberikan disclaimer di bagian akhir berita bahwa berita ini adalah April Mop, hanya candaan.

Bahkan juga ada yang mencantumkan “syarat dan ketentuan” bahwa “Karena ini berita hoax, tolong jangan sampai ini dikutip. Penulis lepas tangan jika ada yang menyadur ulang berita tersebut”.

Mengutip tulisan Rizky Maulana di Fandom, salah satu bentuk kebohongan adalah melakukan  kesalahan pemberitaan secara sengaja. Artinya, dicslaimer tadi tidak lantas membuat media bisa lepas tanggung jawab.

Melatih pembaca untuk waspada

Kita bisa dengan mudah “menyalahkan” media yang sengaja menebar berita palsu. Kita bisa dengan mudah menyebut media itu menggunakan trik murahan untuk meningkatkan pembaca; melanggar etika dan prinsip jurnalistik; dan lain-lain.

Namun jika kita telaah lebih jauh, tanggung jawab juga ada pada pembaca. Terlebih lagi, media-media olahraga yang sering menyajikan berita “April Mop” ini adalah media online.

Media online memungkinkan khalayak menjadi aktif. Tetapi sikap aktif itu tidak hanya sebatas mencari dan menyebarkan informasi. Dalam situasi semacam ini, sebuah digital literasi adalah penting bagi khalayak.

Melalui digital literasi, diharapkan khalayak makin kritis dalam menggunakan setiap informasi yang mereka akses, dan memiliki kemauan untuk rajin tidak hanya bersandar pada satu sumber informasi dengan satu perspektif (Puji Rianto, 2016: 95).

Salah satu fungsi media adalah mengedukasi pembaca. Edukasi umumnya berkaitan dengan konten yang mendidik, bermanfaat, tidak sekadar sensasi, dibesar-besarkan, atau informasi yang mengumbar aib pribadi seseorang.

Namun, dengan kasus berita April Mop oleh media-media sepakbola, saya pribadi berpandangan ini juga cara media dalam mengedukasi para pembacanya. Anggaplah ini sebagai latihan untuk selalu kritis, waspada, dan tabayyun ketika menerima informasi.

 

Referensi

Rianto, Puji. 2016. “Media Baru, Visi Khalayak Aktif, dan Urgensi Literasi Media” dalam Jurnal Komunikasi Volume 1, Nomor 2, halaman: 90-96. Diakses 1 April 2017

Komentar
Pengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia. Dapat dihubungi di email: nara.prastya@gmail.com.