Cameron Borthwick-Jackson dan Selaksa Cinta Bunda

Ibu adalah sandaran ketika haru rindu tak berbalas. Ia akan setia menjadi pendengar, menunggu ceritamu usai hanya untuk tersenyum dan luruh dalam pengertian.

Ibu akan telaten membalut luka hidupmu dengan doa-doanya. Ketika kamu sendirian mengarungi mimpi, yakinlah ibumu tetap terjaga dan siap mengambil kemudi ketika kamu goyah.

Ibu adalah batu karang, di mana di atasnya kita membangun asa. Ibu adalah lembaran kosong, di mana kita menorehkan cita-cita. Ibu adalah esa, sebuah anugerah yang tak berbilang.

Pernahkah kamu membuat ibumu menangis? Saya pernah, dulu sekali. Biarlah kenapa selalu berakhir dengan tanda tanya. Yang pasti, sampai saat ini saya masih menyesalinya. Ibu saya adalah seorang perempuan yang sederhana. Ia ibu rumah tangga, jago memasak, dan mudah khawatir. Saya tahu ia bukan pendengar yang terlalu baik, apalagi untuk keluh kesah saya soal buku dan sepak bola.

Saya tahu tidak akan mendapatkan solusi “Bagaimana cara Arsenal mengejar agregat 2 gol dari Barcelona” atau “Bagaimana cara menerapkan positional play yang sederhana untuk Arsenal” atau “Kenapa si penulis A, yang notabene seorang profesor masih menggunakan kata “merubah” dalam naskah yang ia tulis”.

Entah, saya tetap ceritakan itu semua kepada ibu. Jelas saja, saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Namun, ada kelegaan menyeruak bahkan ketika ibu menjawab “Opo seh, aku ora paham”.

Jawaban yang “menyebalkan” bukan? Pembaca tahu beban saya? Beban “tanggung jawab sosial” sebagai koki di Arsenal’s Kitchen untuk setidaknya bisa menjawab kenapa Arsenal bisa kalah dari Barcelona.

Terkadang saya berharap ibu akan menjawab dengan suara dengungan monoton ala Pangeran Siahaan, “Wenger terlalu naïf. Seharusnya Wenger berteriak memberikan instruksi dari touchline kepada anak asuhnya untuk tidak terlalu cepat naik menyerang. Atau setidaknya Wenger meminta Ramsey dan Coquelin untuk memperingatkan rekan-rekannya untuk tetap rapat sehingga mudah menutup ruang di area 8 dan 6.”

Imajinsi saya terlalu surealis dan tidak bertanggung jawab. Namun intinya, saya menemukan kelegaan di tengah kekacauan usaha ibu saya memahami apa itu positional play dan kaidah penulisan dalam Bahasa Indonesia. Bentuk-bentuk tegun dan ketidaktahuan namun otentik itulah yang membuat saya betah berkeluh kesah yang tidak tersolusikan.

BACA JUGA:  Persebaya, Bonek, dan Perjuangan yang Belum Usai

Yang hendak saya katakan adalah seorang ibu akan tetap berusaha membuatmu bahagia meski ia tidak memahami duniamu. Meski terkadang, saking tidak pahamnya, ibu hanya terasa seperti pengganggu dalam gesit gerak dunia masa kini. Ibu akan sangat sulit berubah. Dengan ciri asli yang ia bawa sejak dalam kandungan, seorang ibu akan tetap memandangmu sebagai anak kecil yang butuh perlindungan.

Tidak heran apabila frasa “anak mami” lahir dan berkembang mungkin sejak zaman Jan Pieterszoon Coen masih berkuasa.

Maka apabila ada seorang pemain profesional kelas internasional yang datang ke tempat latihan masih diantar seorang ibu, tentu akan menjadi bahan guyonan, meme, atau mungkin bahan tulisan seperti ini.

Namanya adalah Cameron Borthwick-Jackson, bek muda milik Manchester United yang tertangkap lensa paparazzi datang ke Carrington naik mobil Volvo milik ibunya. Menjadi lucu ketika dirinya duduk di kursi penumpang dan si ibu, dengan kaca mata hitamnya, mengantar sang anak dengan wajah elegan.

Borthwick-Jackson adalah bek kiri berusia 19 tahun. Untuk ukuran orang Barat, usia 19 tahun bisa dibilang sudah masuk level dewasa. Bagi orang Barat, tentu akan sangat memalukan jika disebut “anak mami” atau “manja” karena akan melukai harga diri. Namun apakah kejadian tersebut bernilai negatif? Kembali ke pembaca masing-masing untuk memberikan nilai.

Namun perlu diketahui, Borthwick-Jackson bukan remaja yang terbawa arus konsumerisme. Beberapa waktu yang lalu, nama Borthwick-Jackson juga masuk dalam headline surat kabar di Inggris setelah datang ke tempat latihan “hanya” mengendarai Vauxhall Corsa.

Sebuah mobil yang oleh Daily Mail disebut modest (sederhana, red.) yang berbanderol 14 ribu poundsterling. Bandingkan dengan Wayne Rooney yang datang dengan BMW i8, di mana pembaca kudu menyiapkan mahar hingga 100 ribu poundsterling untuk membawa mobil mewah tersebut pulang.

Tunggu dulu, untuk urusan mobil, Memphis “yang tidak mau dipanggil” Depay datang dengan kemewahan yang mampu ditawarkan gaji seorang superstar lapangan hijau. Winger lincah asal Belanda tersebut datang mengendarai Black Rolls Royce Wraith yang harganya mencapai 250 ribu poundsterling.

BACA JUGA:  Tragedi Paris Sebagai Ujian Bagi Suporter Sepak Bola

Tahu kenapa Borthwick-Jackson begitu sederhana? Ya apa lagi kalau bukan karena nasihat dan wejangan ibunya. Ke latihan saja diantar, jadinya ngirit sumber daya bukan? Siapa tahu, uang hasil kerja keras Borthwick-Jackson langsung masuk tabungan masa depan. Gak perlu ta’aruf, tapi langsung khitbah gitu lho mblo. Itulah hasil didikan seorang ibu yang didengar dan dilaksanakan dengan taat oleh si anak.

Kesederhanaan Borthwick-Jackson juga terlihat dalam setiap kerja keras dan kesabarannya sebagai pemain sepak bola yang masih remaja. Paul McGuinness dan Warren Joyce, dua staf pelatih United menggambarkan Borthwick-Jackson sebagai pemuda pekerja keras yang berkembang dengan pesat dan semakin kuat dari waktu ke waktu.

Buah kerja keras dan kesabaran mulai ranum ketika justru United krisis bek kiri. Cedera yang menimpa Luke Shaw, Marcos Rojo, dan Ashley Young membuat Borthwick-Jackson naik pangkat dan menjalani debutnya bersama United senior ketika masuk sebagai pemain pengganti di laga melawan West Bromwich Albion pada tanggal 7 November 2015.

Kisah Borthwick-Jackson adalah buah yang ditanam sang ibu. Tunas yang disemai dengan kekuatan kasih dan kekuatan nurani untuk bertahan.

Seperti kata Kahlil Gibran, “Hati nurani wanita tidak berubah oleh waktu dan musim, bahkan jika mati tetap abadi, hati itu takkan hilang sirna. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah menjadi medan pertempuran; sesudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami dengan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi.”

Wahai anak-anak bola, mari berdiam sejenak, pejamkan mata dan berdoa untuk kebahagiaan ibu masing-masing. Berikan doa setulus sinar matahari, supaya selaksa cinta bunda mekar dalam setiap keluh kesah kita.

 

Komentar
Koki @arsenalskitchen.