Masihkah Anak-Anak Tertarik pada Sepakbola?

Sore itu saya duduk di teras rumah sambil menyeruput secangkir kopi dan sesekali memandangi layar gawai. Tiba-tiba ingatan saya mundur jauh ke tahun-tahun yang sudah terlewati. Dahulu, saya sering mendapati anak-anak bermain sepakbola dengan riangnya sembari menjemput senja. Tanpa alas kaki, menggunakan bola plastik, sendal sebagai gawang dan beraksi di atas tanah lapang atau beton jadi sebuah keseruan tiada terperi.

Saya pun ingat bahwa salah satu yang bermain di sana adalah diri saya sendiri. Bersama teman-teman sebaya atau bahkan lebih tua, kami melangkah penuh semangat guna lintang pukang dan berpeluh keringat. Ironisnya, di era yang semakin canggih ini, kegembiraan macam itu bak kisah langka. Terlebih, tanah lapang yang dahulu saya gunakan sebagai arena bermain kini telah disulap jadi sebuah komplek perumahan.

Lantas muncul pertanyaan di kepala saya, apakah hal seperti ini mempengaruhi ketertarikan anak-anak terhadap sepakbola?

Diakui atau tidak, permainan di luar ruangan seperti sepakbola atau bahkan gobak sodor merupakan salah satu media di mana anak-anak bisa belajar dan mengerti apa itu kerja sama seraya menumbuhkan rasa percaya diri. Bakat-bakat alami pesepakbola di Indonesia juga banyak yang lahir dari permainan sepakbola macam ini sebelum menyeriusinya di Sekolah Sepak Bola (SSB).

Akan tetapi, ketiadaan tempat bermain jadi salah satu faktor berkurangnya ketertarikan itu. Apalagi di era sekarang, anak-anak begitu mudah mengakses internet yang menyediakan aneka permainan daring yang dapat dimainkan via gawai. Ada banyak game yang bikin mereka keranjingan dan ingin terus memainkannya, sebut saja PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG), Free Fire, Mobile Legends, Clash of Clan, sampai Space Commander.

Hal di atas membuat anak-anak di zaman sekarang lebih suka berada di rumah dan sibuk dengan dunianya sendiri ketimbang bersosialisasi secara langsung dengan teman-temannya. Kalaupun masih ada, intensitasnya berbeda dengan anak-anak pada satu dasawarsa silam.

BACA JUGA:  Kepiluan Ronaldo di Olimpico

Tidak ada yang salah dari bermain game daring, utamanya pada usia dini seperti anak-anak. Pasalnya, game tersebut juga mengajarkan makna dari sebuah kompetisi dan sportivitas. Namun tetap saja ada yang mengganjal di hati saya karena mereka jadi kekurangan aktivitas fisik yang berguna untuk menyehatkan tubuh.

Jika dahulu kita mengidolakan para pesepakbola hebat semisal Ronaldo dan Zinedine Zidane, maka anak-anak masa kini lebih mengidolakan para Youtuber gaming. Tentu masih ada anak-anak yang menggilai sosok seperti Lionel Messi ataupun Cristiano Ronaldo, tetapi level kesukaan mereka ada di kelas menengah. Sudah jadi rahasia umum kalau perkembangan teknologi punya andil dalam tumbuh kembang anak-anak.

Kepopuleran sepakbola yang menurun di kalangan anak-anak daerah pemukiman rumah saya mungkin juga disebabkan oleh minimnya tayangan sepakbola yang menghiasi layar kaca televisi. Lagi-lagi, perkembangan teknologi bikin hak siar sebuah kompetisi jadi melambung nilainya. Akibatnya, tak banyak kanal televisi di Indonesia yang berani membelinya.

Saya ingat ketika masih bocah dahulu, hari Sabtu dan Minggu malam saya habiskan dengan menonton tayangan sepakbola di televisi bersama ayah. Kita tak harus begadang sampai larut karena pada pukul 20.00 atau 21.00, sudah bermunculan laga-laga sepakbola berkualitas. Ada tayangan Liga Primer Inggris atau Serie A yang siap menyuguhkan aksi-aksi terbaik dari pesepakbola top dunia.

Andai tak bisa menyaksikan laga-laga tersebut karena sudah tertidur, kita bisa menyaksikannya keesokan hari lewat tayangan-tayangan highlight yang menjamur seperti Lensa Olahraga, Sport 7, Kabar Arena dan masih banyak lagi. Itu pun tidak menghitung cuplikan olahraga di akhir pekan semisal Galeri Sepakbola Indonesia, Planet Football, dan lain-lain.

Semakin mahalnya harga hak siar sebuah kompetisi ikut mempengaruhi sepak terjang kanal televisi di tanah air. Keengganan mereka mengeluarkan duit masif yang belum tentu sebanding dengan profit yang bisa diraih bikin tayangan sepakbola luar negeri kini dikuasai kanal penyedia layanan streaming legal.

BACA JUGA:  Ruang Publik dan Kopi di Warkop Pitulikur

Sayangnya, cara menikmati kanal yang satu ini berbeda dengan kanal televisi. Orang yang ingin menikmatinya kudu mengeluarkan dana lebih agar dapat mengaksesnya. Belum ditambah dengan keharusan memiliki kuota internet karena lewat internet-lah, kanal tersebut dapat diakses. Sebuah realita dari industrialisasi yang kian masif dari sepakbola.

Barangkali saya terlampau khawatir dengan apa yang tampak di lingkungan tempat tinggal saya. Namun saya masih menyimpan keyakinan bahwa anak-anak yang ada di sini memiliki kecintaan yang besar terhadap sepakbola. Bedanya, mereka tak tahu harus memainkannya di mana selain di jalanan aspal atau paving agar kaki-kaki mungil mereka lebih aman dan nyaman guna mengikuti jejak Bambang Pamungkas atau Boaz Solossa.

Komentar
Seorang fans Manchester United garis lucu. Bisa disapa via akun Twitter @scofieldfoxx