Catatan Hitam Rasisme dalam Sepakbola

Semenjak Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia, wujud dari mereka begitu beragam. Pun dengan karakter, warna kulit, postur tubuh dan lain sebagainya. Keberagaman itu sendiri membuat manusia dapat saling mengenal satu sama lain. Namun sayangnya, keberagaman itu juga menghadirkan sebuah masalah berupa rasisme yang memunculkan perasaan bahwa ras tertentu memiliki keunggulan dibanding ras lainnya.

Sejarah masa lalu ikut mendorong adanya perilaku rasis dari seseorang. Bangsa kulit putih yang dahulu menduduki dan menjajah kawasan yang dihuni bangsa kulit berwarna (hitam, merah, coklat), selalu merasa lebih superior. Permasalahan ini pun menjalar di berbagai bidang, tak terkecuali sepakbola. Banyak sekali kasus rasisme yang muncul gara-gara sikap memandang remeh manusia yang lain. Baik yang terjadi antarpemain, pelatih ke pemain, bahkan suporter kepada pemain.

Mario Balotelli

Italia, sebagai salah satu negara yang didominasi kulit putih, dikenal sebagai salah satu negara paling rasis di Eropa. Salah satu bintang lapangan hijau kenamaan dan pernah jadi andalan tim nasional, Mario Balotelli, berulangkali jadi korban tindakan rasis. Figur yang kini memperkuat Monza itu merupakan sasaran empuk di Negeri Spaghetti.

Dirinya pernah dilempari pisang oleh sekelompok pendukung AS Roma. Lelaki keturunan Ghana tersebut juga kerap beroleh cacian berupa teriakan bak monyet yang disuarakan suporter, entah di lapangan maupun saat berjumpa di tempat umum.

Ada kalanya, Balotelli menanggapi itu dengan sikap tenang. Namun di banyak momen, lantaran tak tahan dengan tindakan keji yang ia terima, Balotelli berontak. Lucunya, dalam sebuah peristiwa rasis yang ditujukan kepadanya, pemain berjuluk Super Mario ini malah diganjar kartu kuning oleh wasit karena melakukan protes. Sungguh ironis.

BACA JUGA:  Pasar Keputran, Bonek, dan Arema

Patrice Evra

Setali tiga uang dengan Balotelli, Patrice Evra juga pernah mendapat perlakukan rasis. Saat memperkuat Manchester United beberapa tahun silam, ia mendapat perlakuan tak menyenangkan dari pemain Uruguay yang ketika itu membela Liverpool, Luis Suarez.

Dalam partai Derbi N0rth West antara United dan Liverpool, Suarez meledek Evra dengan sebutan negro lantaran berkulit hitam. Kasus ini sendiri begitu ramai diperbincangkan sebab Suarez menyangkal bahwa ia telah menghina Evra. Pasalnya, menurut sang striker, sebutan negro bukanlah hinaan dalam kultur Amerika Latin. Kata tersebut memang biasa ditujukan kepada mereka yang berkulit legam sebagai panggilan.

Walau demikian, asosiasi sepakbola Inggris (FA), tak sepakat dengan pembelaan Suarez. Tindakannya dinilai tidak terpuji dan akhirnya divonis larangan bertanding sebanyak delapan laga. Publik Inggris, termasuk pendukung The Reds, bahkan mengecam perilaku Suarez terhadap Evra.

Mesut Ozil

Walau identik dengan hinaan berdasar warna kulit, nyatanya rasisme juga menimpa pesepakbola asal Jerman yang tidak berkulit hitam, Mesut Ozil. Semuanya berawal dari kegagalan timnas Jerman di Piala Dunia 2018 silam. Bayak yang merasa kecewa dengan performa skuad Der Panzer dalam turnamen tersebut, apalagi mereka berstatus sebagai juara bertahan.

Seluruh pemain timnas dirisak, tetapi perlakuan terhadap Ozil sangat berbeda. Ia diledek sebagai imigran karena kedua orang tua Ozil berasal dari Turki. Kendati demikian, ia merasa sebagai warga Jerman sebab lahir dan tumbuh besar di sana. Apa yang dialaminya benar-benar membuat Ozil patah hati.

“Saya seorang Jerman ketika kami menang, tetapi saya menjadi imigran ketika kami kalah.”

Atas perlakuan rasis yang ia terima, akhirnya Ozil memutuskan untuk pensiun dari timnas. Kendati begitu, banyak pesepakbola lainnya yang memberi dukungan kepada Ozil. Mulai dari Jerome Boateng sampai Hector Bellerin. Bahkan penyanyi Maher Zein, dan politisi asal Turki serta Jerman, Mehmet Kaspoglu dan Angela Merkel, menunjukkan dukungannya kepada sang gelandang elegan.

BACA JUGA:  Fantasy Premier League: Alternatif Pemain Premium

Pierre Webo

Teraktual, giliran Pierre Webo yang mendapat perlakuan tak pantas. Asisten pelatih Istanbul Basaksehir itu jadi sasaran rasisme dari wasit keempat dalam partai Liga Champions antara Basaksehir dan Paris Saint-Germain (PSG) pada Rabu dini hari (9/12) waktu Indonesia.

Kejadian ini sendiri bikin para penggawa Basaksehir dan PSG melakukan protes dengan tak mau melanjutkan pertandingan apabila seluruh ofisial pertandingan yang berasal dari Rumania tetap bertugas. Alhasil, setelah melakukan diskusi, kedua kubu sepakat untuk melanjutkan laga keesokan harinya tetapi dengan ofisial pertandingan yang berbeda.

Kasus rasisme yang masih subur di kancah sepakbola menjadi pekerjaan rumah yang mesti dibereskan seluruh pihak. Mulai dari federasi, pihak klub, pemain, pelatih, hingga kalangan suporter sendiri. Slogan ‘Say No To Racism’ yang digalakkan sejak beberapa tahun silam kudu memperlihatkan dampaknya. Jangan sampai muncul kesan tidak serius dari seluruh elemen sehingga praktek rasisme masih ada di lapangan hijau.

Sudah seharusnya, tindakan rasisme dihilangkan karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beragam. Apabila tindakan rasisme terus terjadi dalam kancah sepakbola, pihak-pihak yang memegang kuasa harus menindak tegas para pelakunya. Pasalnya, sepakbola bukanlah media untuk menyuburkan tindak rasisme.

Komentar
Muhammad Torieq Abdillah
Penggemar Manchester United dan Bayern Munchen yang hobinya menulis dan membaca ini bisa ditemui di akun Twitter @mtorieqa.