David Beckham dari Kenangan Kecil Kota Preston

Inggris mengenang Piala Dunia 1998 Perancis dalam tiga peristiwa. Pertama, gol David Robert Joseph Beckham melalui tendangan bebas khas pada pertandingan fase grup melawan Kolombia. Kedua, gol “maraton” Michael Owen ke gawang Argentina pada babak 16 besar. Ketiga, kartu merah untuk “anak bodoh” dari Manchester United di pertandingan yang sama.

Sebuah peristiwa yang menjadi titik balik karir seorang Beckham. Menerima kartu merah karena menendang dengan sengaja kaki pelatih Atletico de Madrid saat ini; Diego Simeone. Tidak keras memang, namun itu sudah cukup untuk melengkapi akting kapten Argentina itu dengan berguling-guling seolah baru saja ditrabak kereta.

Pertandingan usai, Inggris kalah adu penalti, Beckham dikecam seluruh negeri. Pemain kelahiran 2 Mei 1975 ini jadi kambing hitam. Diancam dibunuh, patungnya digantung di sebuah bar, dan reputasinya hancur. Headline surat kabar Inggris menulis, “Sepuluh Singa Pemberani dan Satu Anak Bodoh.”

Meskipun jadi pesakitan di negeri sendiri, hal tersebut ternyata bukanlah satu-satunya hal yang – paling tidak – membuat Beckham begitu shock dalam karir hebatnya sebagai salah satu pemain Inggris paling dipuja. Dalam autobiografinya, My World, pemain yang sejak kecil mengidolakan Bobby Charlton ini pernah sangat terpukul saat masih kinyis-kinyis di Manchester United pada musim panas 1995.

Alasannya sederhana sebenarnya. Ketika itu, Sir Alex Ferguson secara tiba-tiba mengirim Beckham ke sebuah klub kecil di Divisi Tiga Liga Inggris, Preston North End. Usia Beckham masih 19 tahun. Segera saja terbayang dalam benak Beckham, sang manajer hendak menyingkirkannya dari klub favoritnya itu.

“Saya begitu terkejut. Saya pikir itu adalah tanda bahwa klub berusaha mengeluarkan seorang pemain,” ujar Beckham.

beckham-preston
David Beckham saat dikirim ke Preston North End (kiri) dan saat di timnas Inggris tahun 1998 (kanan).

Selain soal berada di liga kasta bawah, kegelisahan lain yang dirasakan Beckham juga adalah soal proses adaptasi. Bagaimana mungkin ia bisa diterima di kalangan orang-orang baru dan – terutama – tiba-tiba saja dipercaya untuk jadi eksekutor semua set piece tim oleh sang manajer, Gary Peters, di hari pertamanya sebagai seorang pemain Preston?

Saat itu, tanpa ragu, Peters berdiri di hadapan seluruh pemain ketika mengenalkan Beckham. “Ini David Beckham, dia akan di sini selama sebulan sebagai pemain pinjaman dari Manchester United, dia akan mengambil semua tendangan bebas dan sepak pojok kita dari sekarang.”

Huw Davies, jurnalis FourFourTwo mengisahkan bahwa eksekutor sebelumnya, Paul Raynor, begitu terganggu dengan keputusan manajer. Bahkan, bagi ayah Beckham, hal tersebut terasa sangat memalukan. Terutama di hari pertama latihan anaknya di klub baru.

BACA JUGA:  Kisah Kapten Manchester City yang Diabaikan

Akan tetapi, masalah ini segera terselesaikan pada debut Beckham melawan Doncaster Rovers. Becks masuk lapangan sebagai pemain pengganti dengan nomor punggung 4 menggantikan Paul Raynor, sang spesialis bola-bola mati milik Preston sebelumnya.

Sejujurnya, Raynor sangat tidak nyaman dengan pergantian itu. Barangkali baginya, apa susahnya memainkan dua spesialis tendangan bebas dalam satu tim secara bersamaan? Raynor duduk menggerutu tidak jelas di bangku cadangan. Tapi selang tidak beberapa lama Raynor segera menarik kembali keluhannya.

Baru saja Beckham mencetak gol pertamanya untuk Preston. Melalui tendangan bebas langsung? Oh, bukan. Gol itu lahir dari sepak pojok.

Beckham memang tidak merayakan gol pertamanya tersebut. Sebab Ryan Kidd, bek Preston saat itu, mengklaim bahwa bola mengenai kepalanya sedikit sebelum masuk ke gawang. Kidd pun segera melakukan selebrasi. “Karena saya seorang bek tengah, saya jarang mencetak gol, bonus 50 atau 100 pound (karena mencetak gol) adalah jumlah yang besar saat itu,” ujar Kidd.

Sayangnya, saat pembagian bonus kepada pemain pencetak gol, Kidd malah tidak menerima bonusnya. Ternyata pemain lain menjadi saksi bahwa Kidd menyentuh bola saat sudah masuk ke gawang. Jadi, uang 100 pound itu akhirnya masuk ke kantong Beckham. “Saya akui, hingga hari ini saya masih selalu mengingatnya,” ujar Kidd kemudian.

Awalnya, banyak yang melihat bahwa fisik Beckham terlalu kurus dan ringkih, terutama jika melihat kultur sepak bola Inggris yang keras sekaligus cepat. Apalagi, remaja sekurus itu kini berada di liga divisi bawah yang membuat pemain bertahan bisa saja menjadi sangat brutal dan kasar. “Akan ada beberapa pemain yang memotong tubuhnya jadi dua,” kata Kidd.

Namun, hal tersebut segera sirna. Setelah mencetak gol dari tendangan penjuru di laga debut, Beckham mencetak gol pada laga berikutnya. Kali ini dengan spesialisasinya; tendangan bebas. Raynor yang awalnya sempat terganggu dengan kehadiran Beckham karena menyingkirkannya untuk jadi eksekutor set piece, sedikit demi sedikit menaruh hormat kepada pemain yang telah mencetak gol di tiga Piala Dunia berbeda ini. Apalagi, Raynor melihat sendiri bagaimana etos kerja Beckham kepada profesi yang dicintainya tersebut.

BACA JUGA:  Debut Gemilang Bintang Muda Barcelona, Marc Guiu!

“Dia tetap bertahan berlatih setiap sore setelah sesi latihan,” ujar Raynor. Meskipun hal itu juga membuat Beckham jadi bahan ejekan rekan-rekannya karena tak mau segera pulang.

Meskipun sering terjadi gesekan-gesekan tidak mengenakkan antara Beckham dan rekan-rekan barunya di Preston, hubungan Beckham dengan pemain Preston sejatinya relatif cukup akrab. Suatu hari, pemain-pemain Preston pernah memergoki Beckham sedang membaca sebuah majalah yang berisikan artilel mengenai selebrasinya bersama Eric Cantona di salah satu pertandingan Manchester United.

Raymond Sharp, bek kiri Preston, segera merebut majalah tersebut lalu membacanya dengan suara lantang ke semua rekan-rekannya; “Saya berlari ke pundak Eric dan itu rasanya luar biasa!” Segera saja Beckham sangat malu akan tingkah Sharp. Mukanya memerah dan tersenyum dengan sangat terpaksa. Meskipun terkesan kasar, tapi bagi Kidd, ulah itu sejatinya justru merupakan tanda bahwa Beckham sudah diterima sebagai rekan satu tim.

Menyelamatkan Inggris, dan Tidak Akan Pernah Dilupakan Preston

Karir pemain memang tidak ada yang tahu. Ketika pada 1998 Beckham begitu dicaci pasca Piala Dunia, tidak sampai setahun kemudian ia segera mendapatkan kembali “setengah” reputasinya karena dua hal. Pertama, dua kreasinya dari tendangan pojok di Nou Camp saat final Liga Champions melawan FC Bayern pada detik-detik akhir pertandingan untuk melengkapi gelar treble United di musim itu. Kedua, pernikahannya dengan Victoria Adams, anggota Spice Girls.

Satu tahun kemudian, pada tahun 2000, Beckham berhasil mendapatkan kembali reputasinya secara penuh. Apalagi, kala itu ia menjabat sebagai kapten dan berhasil menyelamatkan Inggris lolos ke putaran final Piala Dunia 2002 Korea Selatan-Jepang, dengan mencetak gol lewat tendangan bebas cantik melawan Yunani.

Tak disangka, di ajang Piala Dunia 2002, Beckham mendapatkan kesempatan untuk membayar kesalahannya empat tahun lalu. Dalam undian grup, Inggris berada satu grup dengan Argentina. Dan kita semua tahu bagaimana akhirnya, Beckham berhasil memutihkan kembali warna kebesaran jersey Inggris dari noda merah di Piala Dunia sebelumnya – sekalipun hanya lewat tendangan penalti.

Dan di sebuah rumah, seorang bapak meyakinkan anaknya bahwa ia pernah bermain bersama David Beckham. Sang anak tidak percaya begitu saja, “jadi saya tunjukkan sebuah foto,” ujar Paul Raynor, sang kompetitor mantan kapten Inggris di klub kecil bernama Preston North End, 20 tahun silam.∎

 

Komentar
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab