Eksistensi Persis dalam Pusaran Sepakbola Indonesia

Munculnya virus Corona atau lebih dikenal dengan sebutan COVID-19 pada tahun 2020 ini benar-benar menggemparkan seluruh dunia. Virus mematikan yang konon berasal dari Wuhan, Cina, ini secara cepat menyebar ke berbagai negara di penjuru dunia termasuk di Indonesia. Tentu saja ada banyak aspek kehidupan masyarakat terdampak virus ini.

Selain dampak ekonomi, salah satu efek yang terasa bagi para pencinta olahraga, khususnya sepakbola, adalah dihentikannya banyak kompetisi. Baik di level nasional maupun internasional. Di Indonesia sendiri, ajang Liga 1 musim 2020 yang sudah bergulir selama tiga pekan akhirnya disetop. Begitu pula dengan Liga 2 yang baru berjalan sepekan, bahkan ada klub yang belum mementaskan laga perdananya.

Persis merupakan salah satu tim yang harus menunda penampilan perdananya di Liga 2 musim ini. Pasalnya kota Solo, markas mereka, beberapa waktu lalu sudah dinyatakan berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) Corona oleh Wali Kota, F.X. Rudiyatmo. Makin tragis, status KLB tadi akhirnya berubah menjadi pandemi.

Berhentinya kompetisi sepak bola di Solo saat ini maupun di Indonesia secara keseluruhan, mengingatkan kita pada peristiwa di masa lalu. Usut punya usut, ada sejumlah momen yang memaksa persepakbolaan Indonesia terhenti langkahnya.

Peristiwa pertama yang mengakibatkan sepakbola di Indonesia, saat itu masih bernama Hindia Belanda, kudu terhenti adalah periode penjajahan Jepang. Segenap kompetisi sepakbola, baik yang bernaung di NIVB (Nederlandsch Indische Voetbal Bond) maupun PSSI yang sudah rutin melaksanakan kompetisi, dibekukan oleh Jepang via kekuatan militernya. Pada masa pendudukan Jepang, seluruh anggota organisasi keolahragaan dilebur menjadi satu dalam wadah organisasi semi-militer bernama Tai Iku Kai.

Setelah Jepang angkat kaki dari Bumi Pertiwi akibat kalah perang, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Walau demikian, keadaan olahraga di Indonesia, terutama sepakbolanya tidak langsung membaik dan kembali berjalan seperti semula. Perang kemerdekaan, agresi militer Belanda I dan II serta kecamuk di masa revolusi dari tahun 1945 hingga 1950-an membuat sepakbola tidak mendapat tempat dalam panggung sejarah karena faktor keamanan.

Sebenarnya sejak tahun 1947 sudah ada upaya untuk membangkitkan olahraga nasional dengan lahirnya PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) sebagai antitesis bangkitnya ISNIS (Ikatan Sepakbola Negara Indonesia Serikat)/VUVSI (Voetbal Uni Verenigde Staten van Indonesie) yang merupakan reinkarnasi dari NIVB/NIVU yang membawahi sepakbola pada masa RIS (Republik Indonesia Serikat).

Baru di tahun 1951, PSSI kembali bangkit dari mati surinya. Pasca-bubarnya NIVU, PSSI akhirnya menjadi organisasi olahraga independen dan terlepas dari kepengurusan PORI yang menaungi organisasi keolahragaan di Indonesia. PSSI pasca-kemerdekaan dipegang kendalinya oleh salah satu legenda sepakbola Solo yaitu Raden Maladi sebagai ketua umumnya dan namanya sempat diabadikan sebagai pengganti nama Stadion Sriwedari.

BACA JUGA:  Corona dan Sepakbola yang Tak Lagi Sama

Sepakbola Indonesia bisa dikatakan pulih dan mengalami banyak kemajuan di masa kepemimpinan R. Maladi. Salah satu buktinya adalah kembali bergulirnya kompetisi Perserikatan pada tahun 1951 hingga resminya Indonesia diterima sebagai salah satu anggota federasi sepak bola dunia FIFA pada tahun 1952. Belasan tahun sepakbola Indonesia mulai bangkit, tapi di tahun 1965 sepakbola di Indonesia, khususnya Solo, harus kembali dihentikan.

Biang keladi dari hal itu adalah meletusnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) atau yang lebih dikenal dengan peristiwa G30S/PKI. Pada peristiwa ini, kota Solo ikut terdampak karena Wali Kotanya saat itu, Oetomo Ramlan, adalah salah satu kader PKI yang dengan terang-terangan mendukung pemberontakan yang dilakukan oleh pengurus PKI pusat.

Berhubung pemberontakan yang dilakukan itu gagal, akhirnya dengan sigap pasukan tentara Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang bertugas di Solo langsung menangkap Oetomo Ramlan. Tertangkapnya sang Wali Kota menjadi titik mula pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang yang dianggap sebagai kader, anggota, hingga simpatisan PKI di Solo Raya. Dengan buruknya keamanan yang terjadi di Solo saat itu, Persis yang kala itu sudah eksis, memilih vakum dengan tidak mengikuti kompetisi.

Belum sembuh dengan luka pembantaian orang-orang dianggap sebagai PKI pada tahun 1965, pada tahun 1966 kota Solo kembali dilanda duka. Kali ini, faktor alam yang mengakibatkan Persis tak mengikuti kompetisi. Banjir besar terjadi karena Sungai Bengawan Solo meluap dan menggenangi hampir ¾ luas wilayah kota. Jalanan protokol hingga instalasi penting pemerintahan tidak luput dari terjangan banjir. Bahkan Stadion Sriwedari harus berubah fungsi menjadi salah satu tempat pengungsian.

Pada medio tahun 1970-an hingga 1990-an awal, kondisi kota Solo bisa dikatakan relatif kondusif. Pada era Orde Baru inilah, salah satu tim Galatama bernama Arseto milik Sigit Harjoyudanto yang merupakan anak Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto, hijrah dari Jakarta dan memilih bermarkas di Solo.

Perpindahan Arseto ke Solo diawali dengan renovasi besar-besaran Stadion Sriwedari yang dimulai dari tahun 1979 dan selesai pada tahun 1983. Hadirnya Arseto di Solo menjadikan Persis agak tersisih dari benak pencinta sepakbola Solo karena saat itu Persis dalam keadaan limbung, dan minim prestasi di kancah sepakbola nasional.

Berbeda dengan Persis, Arseto saat itu merupakan tim mewah yang bertabur bintang. Sokongan dana yang kuat dari keluarga Cendana dan juga antusiasme warga Solo yang sudah lama menantikan klub sepakbola yang mampu berbicara banyak di ranah nasional menjadikan Arseto mendapatkan tempat di hati masyarakat kota Batik.

BACA JUGA:  Mencintai Sepak Bola Lokal dengan Skripsi

Keberadaan Arseto di Solo hanya mampu bertahan sekitar lima belas tahun. Pada tahun 1998, terjadi force majeur lagi di beberapa kota di Indonesia termasuk Solo karena adanya krisis moneter yang mengakibatkan terjadinya berbagai kerusuhan, penjarahan, hingga puncaknya terjadi reformasi dengan lengsernya Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998.

Arseto yang saat itu sangat kental dengan nuansa keluarga Cendana akhirnya bubar karena kondisi sosial, politik dan ekonomi di Solo sangat kacau. Keluarga Cendana tentu enggan sentimen anti-pemerintahan Orde Baru terbawa ke lapangan hijau. Masa krisis moneter ini pun memaksa dihentikannya kompetisi Liga Indonesia saat itu.

Pasca-reformasi, kompetisi sepakbola Indonesia mulai bergulir lagi. Persis juga kembali menapaki kebangkitannya sebagai tim kebanggaan kota Batik. Kebangkitan Persis di kancah sepakbola nasional sebenarnya sudah dimulai semenjak tahun 1990-an ketika tim ini ditukangi oleh salah satu legendanya yaitu Hong Widodo.

Prestasi yang cukup apik diraih Laskar Sambernyawa setelah era reformasi dengan berhasil promosi ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia pada tahun 2006/2007 yaitu Divisi Utama usai menyandang predikat runner up, kalah di final dari Persebaya.

Jalan terjal Persis dalam menapaki kompetisi kembali terjadi hingga puncaknya pada tahun 2015 yang lalu, eksistensi mereka terganggu lagi gara-gara dualisme kepengurusan di tubuh federasi sehingga FIFA sebagai induk organisasi sepakbola dunia melayangkan hukuman.

Persoalan dualisme ini juga menjangkiti beberapa klub di Indonesia, termasuk Persis sendiri, karena sengkarut kompetisi yang terbelah antara PT. Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) sebagai operator Liga Primer Indonesia (LPI) dan PT. Liga Indonesia (LI) sebagai operator Liga Super Indonesia.

Salah satu dari korban dari dualisme Persis yang cukup memilukan adalah wafatnya salah satu penggawa asing Persis versi PT. LI bernama Diego Mendieta. Ia tak bisa pulang ke negara asalnya, Paraguay, akibat gajinya yang tak kunjung dibayarkan klub. Padahal saat itu dirinya tengah sakit.

Kini, untuk kesekian kalinya, sepakbola Solo harus kembali vakum. Penyebabnya adalah pandemi Corona yang sangat berbahaya untuk kesehatan. Menariknya, dari berbagai momen penghentian kompetisi, Persis berhasil bertahan. Tak sekalipun mereka menyatakan diri bubar atau bahkan merger dengan kesebelasan lain agar tetap eksis.

Tentu masyarakat Solo gembira mengetahui fakta tersebut karena bagaimanapun juga, Persis adalah nadi persepakbolaan di sana. Laskar Sambernyawa harus tetap ada dan menjadi kebanggaan masyarakat kota Batik. Saya sendiri berharap bahwa pandemi ini akan segera berakhir sehingga sepakbola kembali bergulir dan Persis dapat menampilkan aksi terbaiknya sekali lagi.

Komentar